Translator
Pencarian
Arsip
Chat with admin

Pengunjung

free counters

Skype
Skype Me™!
Stakeholder
Universitas/STT
Recent Comments
This is your IP location

Kami akan bertemu di Yogyakarta di Indonesia, di dalam konteks sebuah bangsa yang memiliki penduduk Muslim terbesar di dunia di mana orang Kristen hidup dalam hubungan antaragama selama beberapa generasi. Kita akan bertemu di jantung tradisi kaya dan budaya Jawa kuno yang juga mempengaruhi ekspresi iman Kristen. Dan kita akan bertemu dalam sebuah masyarakat yang memiliki ekonomi berkembang tetapi di mana masih terdapat realita adanya jurang pemisah antara miskin dan kaya yang belum dapat terjembatani.

 

Info lengkap klik link ini:  WCRC INDONESIA

UNDANGAN dan Term Of Reference

Untuk Anggota MPS, Yayasan, MPK 

Dalam perkembangan ilmu teologi ada sebuah gerakan teologi yang disebut dengan deprofessionalize theology.  Gerakan teologi ini memberikan ruang seluas-luasnya bagi umat yang seringkali disebut dengan kaum awam untuk terlibat langsung dalam proses berteologi. Diingatkan pula, bahwa kita harus sangat berhati-hati terhadap gerakan teologi praktika untuk kaum awam. Kaum awam atau umat dipahami sebagai kelompok penikmat kesimpulan-kesimpulan teologi, yang telah disederhanakan untuk mereka, yang mengandaikan mereka tidak punya peran konstruktif dalam berteologi. Dengan tegas bukan dalam artian seperti itu. Sebaliknya, mereka dilibatkan secara efektif dalam peran konstruktif berteologi. Melalui pertimbangan ini pula, maka para pihak dilibatkan secara efektif dan sangat menentukan dalam pembangunan ekklesiologi GKSBS yang kontekstual.

Dari sisi konteks, kita telah merumuskan apa itu gereja dan misinya di tengah dunia ini, maka akan  kita lanjutkan dengan melihat dari sisi konteks Kitab Suci. Mengingat Tata Gereja yang berkualitas dan acceptable ditentukan oleh pengertian atau bentuk pemahaman tertentu tentang gereja yang sadar terhadap konteks, dan bagian dari konteks itu salah satunya adalah Kitab Suci.

Download UNDANGAN dan TOR

Catatan: Mohon dipelajari TORnya. 

Ada dua pendekatan dalam mengelola perubahan: (1) problem solving approach yang menekankan bahwa perubahan hanya dilakukan apabila ada masalah yang mengancam kelangsungan hidup atau menghambat aktualisasi diri. (2) developmental approach yang menekankan bahwa setiap individu perlu berkembang terus menerus walaupun tidak ada ancaman……. (Transformational Learning Institute)

Salah satu contoh developmental approach adalah appreciative inquiry, yaitu sebuah pendekatan yang menawarkan proses untuk secara positif mengeksplorasi, secara kolektif berimajinasi, merancang, dan melangkah ke masa depan. AI dimulai dengan melihat kekuatan sumber daya yang dimiliki, dan memanfaatkan kekuatan tersebut untuk mencapai masa depan yang lebih baik.

Baca selengkapnya tentang langkah-langkah AI

Ini adalah pertemuan kedua Tim Perumus Tata Gereja GKSBS. Sesuai dengan rekomendasi Konven Pendeta pada Januari yang lalu maka sangat penting untuk membuat eklesiologi sebagai dasar untuk menyusun Tata Gereja GKSBS. Dan pada bulan April ini MPS sudah melaksanakan Lokakarya Eklesiologi dengan mengundang berbagai pihak (Jemaat, Majelis, Pemuda, dan Perempuan) untuk membuat eklesiologi GKSBS yang lebih kontekstual. hasil “forum warga” ini digumuli kembali oleh tim perumus Tata Gereja yang sudah menghasilkan draft I sebelumnya, agar lebih disempurnakan dengan tetap menghargai partisipasi semua pihak.

Selengkapnya tentang Tata Gereja

Pada Lokakarya Eklesiologi Kontekstual GKSBS yang berlangsung pada 17-18 April kemarin, saya sempat berbincang dengan beberapa peserta. Hanya mengingatkan saja bahwa Panitia Lokakarya, Departemen Litbang dan Departemen Peningkatan Kapasitas mendesign lokakarya ini sebagai tempat partisipasi warga gereja. dan dalam TORnya, panitia menerapkan sharing dana antara Sinode dan Klasis-Klasis. ada kontribusi dari Klasis sebesar Rp.55.000/orang per hari dengan jumlah utusan (setiap warga yang ingin berpartisipasi dalam diskusi ini tidak dibatasi. hanya perlu dikoordinasi oleh MPK masing-masing). Panitia sendiri hanya memperkirakan peserta sekitar 40-an orang. tetapi pada hari pertama (siang) peserta sudah mencapai 70 orang. dan pada sore harinya peserta sudah mencapai 93 orang.

Ketika saya tanya tentang semangat partisipasi dari warga geraja ini, Pnt.Kodim HS, seorang anggota MPS dari klasis Buay Madang mengatakan : “ini sesuatu yang sangat luar biasa. Harus diapresiasi, bukan saja kita yang ada di sini, tetapi juga MPS GKSBS harus bangga bahwa semangat warga jemaatnya sangat peduli dengan setiap proses ber-GKSBS. Ini kenyataan yang harus kita sadari kini, bahwa jika mereka semua diberikan tempat untuk berpartisipasi maka masalah dana bukanlah persoalan yang mesti dikhawatirkan”. Demikian komentar Pnt. Kodim HS.

Mendengar komentar seperti itu, saya hanya bisa memberikan acungan dua jempol dan berkata “MANTAF Pak Kodim. Semoga Anda bisa menyampaikan ini di rapat MPS”.

(dari admin)

Lokakarya eklesiologi ini adalah bagian dari tindak lanjut Konven Pendeta GKSBS pada bulan Januari 2012 yang lalu dan yang akan bermuara pada penyusunan Tata Gereja GKSBS yang kontekstual dan akseptebel yang akan disahkan dalam Sidang X Kontrakta GKSBS di Jambi pada awal Agustus 2012. Semangat yang dibawa dalam lokakarya ini adalah partisipatif untuk memberikan ruang seluas-luasnya kepada Majelis, Jemaat, Pemuda, Perempuan, dan berbagai pihak yang ada di GKSBS. Bahkan panitia pelaksana dan Tim Amandemen Tata Gereja bersepakat untuk memposisikan pendeta yang hadir dalam lokakarya ini hanya sebagai pendamping dalam diskusi. “Para pendeta sudah menggunakan waktunya untuk berbicara pada saat konven pendeta kemarin. Jadi sekarang ini adalah forumnya warga gereja untuk berbicara tentang gereja”. Ungkap Pdt. Kristanto Budi Prabowo sebagai anggota Tim Amandemen Tata Gereja GKSBS.

selengkapnya Lokakarya Eklesiologi Kontekstual

Ada beberapa kekuatan yang berperan dalam penerapan Appreciative Inquiry yaitu:

  • Kekuatan pembebasan (the power of liberation)

Appreciative Inquiry adalah suatu proses perubahan yang membebaskan energi, antusiasme dan komitmen orang-orang pada semua level organisasi. Intervensi ini membebaskan orang dari rasa takut melakukan kesalahan, disalahkan ketika mereka mencoba melakukan sesuatu yang berbeda. Intervensi ini membebaskan dari sinisme yang membuat kreativitas dan kemungkinan positif terkesan sebagai kebodohan.

Eksplorasi image positif dari individu, dan bertanya kepada mereka mengenai kehebatan yang dimiliki, meningkatkan keinginan untuk berpartisipasi dan mereka pun memperlakukan lingkungan pekerjaan ke arah yang positif.

  • Kekuatan pertanyaan positif

Sebagian besar metode perubahan organisasi diawali dengan mendiskusikan “apa yang mengalami kegagalan dan mengapa”. Appreciative Inquiry mengatasi perdebatan tersebut dengan pertanyaan positif yang membuat orang menjadi ingin tahu daripada mendebat, mendengarkan daripada menuntut dan menjadi pencipta bersama (co-creators) daripada menegasikan suatu ide.

  • Kekuatan perubahan yang berpusat pada wacana (the power of discourse centered change)

Appreciative Inquiry memfokuskan pada cerita dan wacana dengan menarasikan proses organisasi. Cara orang berhubungan dan berbicara sata sama lain menjadi lebih penting daripada sifat kepribadian (trait) orang-orang yang terlibat. Salah satu keuntungan besar dari pendekatan ini adalah kapasitas mengtransformasikan wacana cynical (skeptis, pesimis, sarkastik) menjadi wacana kemungkinan dan membangun moral positif antar individu. Individu menjadi memahami posisi satu sama lain dan memahami konstribusinya terhadap organisasi.

  • Kekuatan fokus terhadap organisasi

Ketika individu diajak berpartipasi dalam suatu usaha untuk mengubah perilaku mereka (yang spesifik) maka mereka akan bersikap ambivalen dan tidak yakin. Tetapi ketika mereka diajak untuk memberikan yang terbaik bagi organisasi maka mereka akan merasa antusias dan bangga.

Organisasi bukanlah penjumlahan dari keseluruhan perilaku manusia. Organisasi adalah konsep, image, idealisasi dan keyakinan yang terkandung dalam cerita orang-orang tentang diri mereka sendiri dan satu sama lain. Mengajak orang mengubah perilaku seringkali menimbulkan resistensi. Tetapi melibatkan orang-orang dalam penciptaan bersama masa depan organisasi maka mereka cenderung menumbuhkan semangat berkerja sama dan memberikan konstribusi.

Langkah dasar Appreciative Inquiry adalah siklus 5-D yaitu Definition, Discovery, Dream, Design dan Destiny (Cooperrider dan Whitney, 2001 dan der Haar dan Hosking, 2004).

 

diambil dari : http://bukik.com/artikel/appreciative-inquiry/umum/apa-itu-appreciative-inquiry/

Latar Belakang

Konven Pendeta GKSBS yang diselenggarakan pada tanggal 17-19 Januari 2012 fokus menggumuli rencana amandemen Tata Gereja/Tata Laksana GKSBS. Konven yang menghadirkan pakar Tata Gereja dari GKI dan GKJ itu telah melahirkan kesadaran bahwa untuk menghasilkan sebuah Tata Gereja yang berkualitas dan acceptable (diterima) diperlukan sekurang-kurangnya tiga kesadaran:

  1.  kesadaran bahwa Tata Gereja harus memiliki landasan yang kuat yaitu eklesiologi yang kontekstual. Adanya kesepahaman kita mau menjadi Gereja yang bagaimana, untuk siapa, mau melakukan apa, dan bagaimana kita berkarya di Sumatera Bagian Selatan ini.
  2.  kesadaran bahwa proses pembuatan Tata Gereja perlu mengedepankan nilai partisipatif dan dialogis. Melibatkan sebanyak-banyaknya orang dari berbagai latarbelakang ilmu dan capasitasnya.
  3.  kesadaran untuk melihat Tata Gereja sebagai alat atau perangkat untuk mengatur kehidupan gereja sebagai sebuah organisasi dan komunitas, agar lebih dinamis dan berdaya dalam menjalankan misinya.

Download undangan, TOR dan Jadwal Lokakarya dengan klik link dibawah ini

Undangan  ToR Lokakarya    JADWAL

selengkapnya tentang Lokakarya

Berdasarkan permintaan yang masuk melalui kolom komentar maupun ke SMS Center GKSBS maka pada postingan ini saya upload brosur dan formulir Beasiswa YBO yang dikirimkan oleh YBO kepada Sinode GKSBS.

terimakasih.