Lain-Lain

Keluarga Yang Berani Berbagi Meskipun Hidup Dalam Keterbatasan

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Khotbah Penutupan Minggu, Tanggal  31 Oktober 2010.

Minggu Trinitas 23,  Warna Hijau.

Bacaan : 1 Raja-raja 17:7-16.

Saudara- saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.

Seorang anggota majelis berkunjung ke rumah salah satu warga jemaat.  Terjadilah percakapan diantara mereka.  Anggota majelis itu bertanya: “Pak, jika bapak mempunyai dua sepeda motor apakah bapak akan memberikan satu untuk pelayanan gereja?”  Anggota jemaat tersebut menjawab dengan bersemangat: “Bersedia!”  Anggota majelis itu senang dengan jawaban anggota jemaatnya, kemudian anggota majelis itu kembali bertanya: “Jika bapak punya dua ekor sapi, apakah bapak juga akan berbagi satu untuk gereja?” Anggota jemaat tersebut menjawab dengan bersemangat: “Bersedia”. Anggota majelis itu semakin senang mendengar jawaban anggota jemaat tersebut, dan menganggap warga jemaat tersebut adalah orang yang setia menerapkan nilai-nilai GKSBS yaitu Asketis untuk Berbagi. Untuk lebih meyakinkan akan kesetiaan warga jemaat tersebut anggota majelis tadi bertanya kembali: “Pak, jika bapak mempunyai dua ekor ayam apakah bapak bersedia memberikan yang seekor untuk gereja?”  “Tunggu dulu” jawab orang itu “Pak majelis pasti tahu kalau saya memang punya dua ekor ayam, kalau itu saya belum bersedia”.

Ilustrasi tersebut menggambarkan bahwa kebanyakan orang setuju dengan nilai GKSBS asketis untuk berbagi sebagai nilai yang baik untuk dikembangkan tetapi hanya sebatas wacana saja. Namun banyak yang undur untuk berbagi ketika diperhadapkan pada kenyataan.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus,

Pada kebaktian penutupan Masa Perayaan Hidup Berkeluarga ini kita bersama-sama akan belajar dari satu peristiwa yang dilakukan oleh seorang janda di Sarfat.  Kisah seorang janda di Sarfat adalah contoh keluarga yang sederhana, keluarga miskin dengan satu orang anak, namun memiliki nilai yang luar biasa tinggi, yaitu keberaniannya untuk berbagi meskipun hidup dalam keterbatasan.  Ini kebalikan dari cerita warga jemaat yang punya dua ekor ayam tadi.

Dalam Alkitab dikisahkan bahwa janda miskin tersebut bertemu dengan nabi Elia, Elia meminta minum dan makan padanya.  Janda tersebut tidak memiliki apa-apa selain segenggam tepung dan sedikit minyak yang hanya cukup dimakan sekali, bagi dia dan anaknya. Pergumulan janda di Sarfat sangat berat, akibat kemarau panjang yang dialami.  Persediaan makanan sangat menipis.  Ia dan anaknya tidak tahu apa yang akan diperbuatnya untuk hari esok, menurutnya ia dan anaknya akan mati karena persediaan makanan sudah habis.  Dalam pergumulan yang sedemikian berat, tiba-tiba ada yang meminta makanan kepadanya.  Tentu wajar jika janda itu keberatan untuk berbagi makanannya.  Tetapi Elia berusaha meyakinkan bahwa beras dalam tempayan dan minyak dalam buli-buli tidak akan habis selama musim kemarau.  Ini memerlukan keyakinan yang sungguh-sungguh dari janda itu untuk mau berbagi atau tidak.  Singkat cerita janda tersebut akhirnya bersedia membagikan sebagian roti yang dimasaknya untuk nabi Elia. Ternyata benar tepung dalam tempayan dan minyak dalam buli-buli tidak habis walaupun diambil setiap hari sampai datangnya musim penghujan.

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus

Pelajaran yang bisa kita petik dari kisah tersebut adalah:

Pertama: Kisah tersebut menunjukkan bahwa Tuhan itu baik kepada setiap keluarga. Tuhan sangat memperhatikan keluarga miskin dan mengangkat harga dirinya dengan cara memakai keluarga itu untuk memberi makan nabi Elia.

Hal ini mengingatkan kita semua bahwa pada umumnya orang memandang dan memperlakukan seorang janda sebagai keluarga yang lemah, tidak mampu, tidak punya andil, daripada mengangkat harga dirinya sebagai subyek yang sama pentingnya dengan keluarga-keluarga yang lain yang secara ekonomi lebih mapan. Sebagai contoh:  Jika ada pengumpulan dana untuk pembangunan gereja dan korban bencana alam mereka dilewati.  Dalam kegiatan-kegiatan gerejapun mereka kurang dilibatkan.

Janda di Sarfat telah menemukan harga dirinya ketika ia mau dipakai Tuhan.  Menemukan harga diri sering terjadi bukan pada saat aman, nyaman, dan makmur, tetapi justru pada situasi sulit.

Kedua: Melalui janda di Sarfat, kita boleh belajar berani berbagi meskipun hidup dalam keterbatasan. Kita belajar memberi dari apa yang ada pada kita, bukan dari apa yang ada diangan-angan kita.  Seperti dalam ilustrasi tadi.  Bersedia memberi motor karena tidak punya motor, bersedia memberikan sapi karena tidak punya sapi, tetapi punya ayam tidak bersedia memberikan ayamnya.

Dalam kesukaran dan kesesakan karena kemarau panjang yang dialami oleh janda miskin di Sarfat, ada suatu kunci yang membuat ia mau berbagi yaitu kepercayaannya. Percaya terhadap apa yang dikatakan Elia.

Para keluarga Kristen yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus. Perlu diwaspadai bahwa kemiskinan sering membawa orang pada sikap egois dan serakah.  Sehingga orang akan kehilangan harga dirinya.  Kehilangan harga diri membuat sulit untuk berbagi dengan sesamanya.  Akan tetapi bukan hanya orang miskin, orang kaya yang kehilangan harga dirinya juga sulit untuk bermurah hati.

Melalui masa perayaan hidup berkeluarga ini marilah kita bangun keluarga-keluarga yang mandiri, kuat dan berani berbagi.  Kita berbagi dengan apa yang kita punya; uang, tenaga, pikiran, kepandaian, kasih sayang, penghiburan, suka cita dan sebagainya.

Kita harus berani berbuat sesuatu dari apa yang ada pada kita sekalipun itu sangat minim, minim untuk kebutuhan hidup diri sendiri.  Hidup harus ditata dengan alas kesadaran akan apa yang ada pada setiap keluarga guna turut berperan membangun kehidupan bersama.

Selama satu bulan kita telah melaksanakan Masa Perayaan Hidup Berkeluarga, tentu telah banyak pelajaran berharga yang bisa kita peroleh melalui renungan keluarga, pemahaman Alkitab, aktivitas keluarga dan kotbah.  Mengingat begitu pentingnya kehidupan suatu keluarga, maka marilah kita rayakan hidup berkeluarga ini tidak hanya sampai disini, tetapi terus menerus pada setiap saat. Tuhan menyertai setiap upaya baik yang kita lakukan. Amin.

Nats Pembimbing        : Kis. 20:45-35

Hukum Kasih             : 1 Kor 13:4-7

Berta Anugerah    :  Amsal 15:16-17

Persembahan         : Lukas 21:1-4

Nyanyian                  : KJ 1,  PKJ 46:1-3, PKJ 245:1-4, KJ 433:1-3 (persembahan)

PKJ 205:1-3, KJ 448:1-4

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

No comments yet.

Post a comment