Pendapat

Matrik g-Analisis

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Pengantar

Gereja ada untuk menjalankan misi Allah. Berarti gereja ada bukan untuk dirinya sendiri. Gereja ada untuk menjadi “pemberi” agar karya penyelamatan atau Injil Kerajaan Allah dinyatakan. Tetapi berapa banyak gereja/jemaat/orang beriman yang hidup dalam kesadaran seperti ini? Praktek berjemaat (bergereja) seringkali menunjukkan bahwa gereja lebih sibuk mengurus dirinya sendiri daripada menjalankan misi Allah sebagaimana seharusnya. Tentu ini memprihatinkan. Tetapi yang lebih memprihatinkan adalah bahwa gereja seringkali tidak sadar bahwa hidupnya lebih terfokus pada dirinya sendiri. Oleh karena itu menjadi sangat penting bagi gereja/jemaat untuk mau secara teratur memotret kesadarannya dengan melihat kecenderungan hidup atau mengadanya. Kesadaran akan arah kecenderungan hidup (mengada) ini akan sangat membantu gereja untuk tetap mampu memperbaiki diri secara terus menerus sehingga dapat tumbuh terarah kepada panggilan hakikinya menjadi pewarta Injil Kerajaan Allah

Berikut ini disediakan model arah menggereja. Sebagaimana adanya, model adalah sebuah penyederhanaan terhadap realitas yang rumit. Semua model selalu dimaksudkan agar – dengan cara yang sederhana – orang bisa mendapatkan gambaran menyeluruh atas realitas. Dan setiap orang bisa membangun model sendiri-sendiri dalam memahami realitas. 

Model arah menggereja yang disajikan ini memilahkan arah menggereja dalam 3 (tiga) model. Pertama, gereja dengan arah kecenderungan sebagai PENERIMA. Jika menggunakan teori modus mengada-nya Erich Fromm, model ini bisa disamakan dengan nekrofili (mencintai kematian). Gereja dengan kecenderungan sebagai PENERIMA hidup terarah pada diri sendiri seperti orang yang sakit, narsistis. Senang mempercantik gedung gereja dan hebat dalam acara-acara perayaan. Biasanya jemaat yang hidupnya terarah pada diri sendiri gampang sekali terjadi konflik yang tidak terkelola. Hal-hal sepele sudah cukup menjadikan warga jemaat bertengkar. Hal ini terjadi karena memang di jemaat tidak ada hal-hal besar yang bisa dibicarakan. Kedua, gereja dengan arah kecenderungan MODERAT atau biasa-biasa saja atau standar saja atau tidak ada yang luar biasa. Gereja dengan kecenderungan MODERAT ini biasanya ‘hidup segan mati tak hendak’, membosankan. Salah satu tandanya adalah warga jemaat banyak yang “merumput” di tempat lain. Ketiga, gereja dengan arah kecenderungan sebagai PEMBERI. Jika menggunakan teori modus mengada-nya Erich Fromm, model ini bisa disamakan dengan biofili (mencintai kehidupan). Gereja dengan arah kecenderungan sebagai PENERIMA hidupnya terarah ke luar, selalu memiliki alasan untuk memberi, membantu dan terlibat dalam kehidupan selayaknya orang yang sehat dan penuh motivasi. Kebanggaannya bukan pada bangunan atau meriahnya upacaya gereja, melainkan pada keterlibatannya yang sungguh-sungguh pada persoalan-persoalan kemanusiaan.

Untuk mengetahui arah menggereja dari jemaatnya, warga jemaat atau pimpinan jemaat bisa memeriksa 5 variabel yang disini disebut dengan g-Faktor (atau faktor gereja) – yang meliputi: Pertama, arah sukses yang dibanggakan; Kedua, arah sumber pendapatan jemaat; Ketiga, arah alokasi penggunaan uang jemaat; Ke-empat, arah program jemaat; Kelima, arah relasi pemimpin jemaat.

g-Faktor

Penerima Moderat

Pemberi

Arah sukses yang dibanggakan
  • Mendapat bantuan dari pihak-pihak lain, terutama pemerintah, kandidat pejabat politik atau politisi dan jemaat lain di kota besar atau luar negeri.
  • Telah berhasil membangun gedung gereja, peralatan ibadah yang canggih dan mahal.
  • Mendapat persembahan dari warga jemaat yang kaya dan sukses.
  • Telah berhasil membenahi sistem akuntansi jemaat, manajemen keuangan, organisasi dan program.
  • Perayaan Natal, Paskah meriah.
  • Membuat spanduk ucapan selamat Idul Fitri dan lain-lain pada saat hari raya Idul Fitri.
  • Mengunjungi saudara-saudara muslim pada saat hari raya Idul Fitri.
  • Tokoh atau warga jemaat banyak terlibat di pemerintahan dan dihormati oleh masyarakat.
  • Membangun gedung gereja dari kemampuan warga sendiri.
  • Tokoh atau pemimpin jemaat atau warga jemaat banyak terlibat dalam karya-karya kemanusiaan untuk perubahan masyarakat.
  • Memiliki program atau lembaga untuk pelayanan masyarakat yang memperjuangkan perubahan struktural masyarakat.
  • Bangga dengan identitas, cita-cita dan nilai-nilai yang dikembangkan di jemaatnya.
Arah sumber pendapatan jemaat
  • Dari sumbangan pihak lain dan investasi.
  • Dari persembahan dan investasi.
  • Dari persembahan jemaat.
  • Dari bantuan masyarakat luas dan kelompok-kelompok seperjuangan.
Arah alokasi Penggunaan Uang Jemaat
  • Untuk pembiayaan ritual, pembangunan sarana-prasarana.
  • Untuk program-program pembinaan warga jemaat.
  • Untuk program diakonia dengan sasaran warga jemaat sendiri.
  • Untuk program-program diakonia ke masyarakat
Arah program jemaat
  • Kegiatan rutin: ibadah Minggu, PA, Natalan, katekisasi, pastoral.
  • Pembangunan sarana-prasarana.
  • Pembinaan warga gereja.
  • Pembenahan sistem administrasi, manajemen, organisasi.
Diakonia yang bersifat transformatif: pendidikan/advokasi HAM, lingkungan hidup dan perjuangan lain yang mengarah pada usaha terjadinya perubahan struktural/sistemik.
Arah relasi pemimpin jemaat
  • Banyak berhubungan dengan pejabat pemerintah (pejabat politik, briokrat dan politiisi) dalam rangka mendapatkan sesuatu (fasilitas dan bantuan).
  • Banyak berhubungan dengan tokoh-tokoh dermawan atau pendeta-pendeta yang memiliki akses besar pada sumber bantuan baik di dalam maupun luar negeri.
  • Banyak berhubungan dengan warga jemaat pada umumnya atau tidak bersifat spesifik.
  • Banyak berhubungan dengan tetangga, baik yang seiman maupun beragama lain
  • Banyak berhubungan dengan warga jemaat yang miskin, bermasalah dan tidak berpendidikan.
  • Banyak berhubungan dengan kelompok-kelompok yang dimarginalkan, diperlakukan tidak adil, distigmatisasi, bermasalah.
  • Banyak berhubungan dengan aktivis kemanusiaan (gerakan buruh, petani, lingkungan, HAM) dan lain-lain.

 

Dkn.Sugianto (GKSBS Sumberhadi)

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

One Response to “Matrik g-Analisis”

  1. terimakasih atas tulisan yang sangat evaluatif, kritis dan inspiratif. saya yakin tulisan ini akan sangat membantu para pendeta (yang punya akses internet; sekarang semua HP bisa untuk akses internet), para majelis jemaat, dan semua aktivis GKSBS untuk meningkatkan pelayan.

    Posted by pendeta tatok | 05/09/2011, 10:19

Post a comment