Pendapat

Cincin Perak

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

“dulu pertama kali kami datang ya banyak yang merasa tidak kerasan. Tapi sekarang justru kami merasa bahwa kampung halaman kami ya di Sumatera ini”

 

Kalimat ini terucap dari seorang jemaat di GKSBS Kelirejo, Belitang II Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan. Bapak Suko, seorang petani yang saat ini menguliahkan 2 anak pertamanya di Palembang, dan anak ketiga masih SMP. Kehidupan keluarga yang ia lewati bersama dengan Ibu Tuti, istrinya, sangatlah sederhana. Rumah berdinding papan dan lantai plester biasa saja, tetapi justru memiliki pengalaman hidup di masyarakat seperti istana berlantai pualam. Kiprahnya di masyarakat sangat menginspirasi orang-orang yang ada disekitarnya. Membentuk kelompok tani yang menjadi satu-satunya kelompok tani di daerahnya (ada 13 kelompok tani) yang memiliki lumbung pangan. Dengan cara yang sederhana, yaitu 6kg gabah tiap kali panen per anggota, kelompok tani ini pernah memiliki stok gabah kering mencapai 8 ton. Sebagai ketua kelompok tani ini, pak Suko berhasil membawa anggotanya untuk berorganisasi sehingga mudah untuk mengakses sumber daya yang ada. Baik pupuk, bibit dan berbagi pelatihan untuk meningkatkan pengetahuan bertani. Dan pada kesempatan saya bertemu dengan beliau belum lama ini, beliau mengatakan pernah diminta oleh masyarakat setempat untuk menjadi kepala desa, walaupun tentang ini beliau menolaknya.

Dari kesempatan berbincang-bincang dengan pak Suko ini telah menginspirasi saya untuk membuat tulisan ini. mungkin sekedar menuliskan apa yang timbul di pikiran saya. Dan saya merasa bahwa pertemuan dengan pak Suko ini sangat pas dengan momentum ulang tahun perak GKSBS pada Agustus 2012 ini. ada beberapa hal yang ingin saya tuangkan dalam refleksi saya ini, yang sebetulnya juga terinspirasi oleh diskusi-diskusi kecil, bincang-bincang dengan teman yang terkadang terjadi begitu saja di atas motor, di pojok parkiran, di meja kopi maupun dalam kesempatan yang terjadi di dunia maya, internet. Tetapi karena saya adalah anggota GKSBS yang sangat mencintai GKSBS, mungkin saja akan dihubungkan dengan GKSBS. Itupun boleh dan tidak ada yang melarangnya.

Pertama, “jika perbuatan maupun perkataan anda mampu menginspirasi orang lain untuk melakukan sesuatu maka anda adalah seorang pemimpin”. Persis seperti yang dilakukan oleh Pak Suko tersebut. Sesungguhnya beliau adalah pemimpin. Mampu membangkitkan semangat tiap orang di sekitarnya untuk mengorganisir diri mereka, membentuk kelompok tani. Menggerakan orang untuk melakukan sesuatu yang menjadikan hidupnya lebih baik dan bermakna. Sebenarnya kesempatan ini ada pada setiap orang, bahkan jika orang itu bukanlah seorang pemimpin formal sekalipun. Karena seorang pemimpin formal (yang diakui dengan dokumen-dokumen sah) sekalipun, jika ia tidak mampu memberikan inspirasi orang lain untuk menggerakkan seluruh potensinya, maka sebetulnya ia bukanlah seorang pemimpin. Pada jaman perjuangan dulu, pemimpin semacam ini disebut pemimpin boneka. Dan penjajah Belanda pada jaman dulu sangat suka dengan orang-orang semacam ini untuk membuat propaganda demi kepentingannya. Gereja juga bisa memainkan peran sebagai pemimpin. Menjadi inspirator masyarakat dalam konteksnya untuk menjadi lebih baik. Dan hal ini akan sangat sulit jika siapapun kita terjebak pada sistem yang sangat birokratis. Seperti kelompok tani Pak Suko yang menerapkan rule (aturan main) yang sederhana saja, 6 kg gabah tiap kali panen per anggota mampu menghasilkan output yang demikian besar. Aturan main yang kaku dan memiliki jalan yang panjang, akan menjadi sesuatu yang kurang positip untuk menghasilkan inspirasi dan partisipasi berbagai pihak. Birokrasi seharusnya tidak menghalangi tiap orang untuk berpartisipasi dan membuka sebesar-besarnya inspirasi. Seharusnya birokrasi tidak semakin menyuburkan pepatah “kalau bisa dipersulit kenapa harus dipermudah?”. Jika gereja terjebak pada hal itu maka gereja sama saja dengan pemerintah.

Kedua, “gereja adalah persekutuan orang percaya yang bukan hanya melakukan ritual belaka”. Seperti halnya orang kristen memahami tentang Allah, Yesus Kristus, Alkitab, dan lain-lain, bahwa hal tersebut tidak akan berubah sampai kapanpun. Definisi tentang ini akan sama sepanjang masa, sekalipun dirangkai menggunakan kalimat yang berbeda. Artinya, ini sudah mendarah daging pada orang kristen. Demikian juga dengan ibadah, kebaktian, Pemahaman Alkitab, katekisasi, dan lain-lain adalah keniscayaan dari hidup bersekutu. Maka ada sesuatu yang lain yang bisa dikerjakan oleh gereja. Memaknai kehadirannya di tengah-tengah masyarakat. Ibadah merupakan  refleksi dari orang percaya. Dan seharusnya ada yang mesti menjadi bahan refleksinya, yaitu gereja melakukan apa. Metafora GKSBS sebagai Rumah Bersama sebenarnya ingin memberikan penekanan pada hal ini. GKSBS di SUMBAGSEL yang juga hidup berdampingan dengan yang lain, berdinamika dengan konteksnya, menjadi satu bagian dalam masyarakat SUMBAGSEL juga. Maka isu-isu selain rutinitas gereja menjadi pergumulan juga bersama yang lain. Pak Suko, ketika ditanya tentang “bagaimana perasaan Anda sekarang setelah hidup bertahun-tahun di tanah Sumatera ini?”. dengan sangat tegas beliau mengatakan “saya merasa di sini sudah menjadi kampung halaman saya, bukan di Jawa lagi”. Beliau sudah merasa menjadi bagian dari daerah transmigran, dan sudah menjadi kewajiban bagi beliau untuk bertanggung jawab terhadap segala yang terjadi di dalamnya, bekerja bersama masyarakat yang lain untuk menjadikan kehidupan lebih baik dan bermakna. Membangun, merawat dan memperindah rumah bersama ini menjadi tanggungjawab setiap penghuninya. Maka partisipasi dari berbagai pihak untuk melibatkan diri dalam setiap proses yang terjadi tidak seharusnya dicegah dengan berbagai alasan-alsan formal, tidak perlu dicurigai sebagai “yang bengal” dan diberikan stigma “bisa merusak bangunan rumah”. Karena saya yakin tidak ada penghuni yang mau merusak rumahnya sendiri. Hanya saja entry point yang digunakan berbeda. Mengundang berbagai pihak untuk berpartisipasi dalam setiap proses tidak perlu diartikan sebagai ancaman. Justru sebaliknya, jika setiap orang meyakini bahwa dirinya tidak mungkin menguasai semua bidang dan pemikiran maka seharusnya melibatkan setiap orang agar memiliki gambaran yang lebih holistik. Tidak perlu merasa sedang memelihara anak singa.

Ketiga, suatu perbincangan saya dengan teman yang lain memunculkan “gereja tidak hanya mengurusi masalah moral saja. Dan mengapa jika itu terjadi selalu tentang masalah sexual?” . lebih jauh seorang teman ini bertanya, “bagaimana dengan korupsi, bukankah itu juga tentang moral?” sebagai catatan saya, teman ini merasa heran ketika isu yang menjadi besar di GKSBS selalu berhubungan dengan masalah sexual. Menjadi besar yang memang dibesar-besarkan dan sangat lezat untuk dikonsumsi. Dan menurutnya, gereja menjadi sangat reaktif dengan masalah ini, tetapi belum menyuarakan suara kenabianya untuk menentang korupsi yang menyengsarakan masyarakat, mengkritisi kebijakan pemerintah yang tidak adil, penindasan kelas sosial terhadap kelas sosial yang lain, dan sebagainya. Dalam hati saya kemudian berkata “jangankan masalah korupsi dan mengkritisi kebijakan publik, bahkan untuk pernyataan sikap tentang bencana dan kemiskinan pun hanya menjadi tulisan di atas kertas saja, dan tidak sedikit yang menolaknya”.  Padahal seharusnya rumusan-rumusan pernyatan sikap ini bisa menjadi dasar untuk beraksi dalam rumah bersama yang lebih besar dan lebih banyak penghuninya. Sangat disayangkan memang jika ternyata kertas-kertas itu justru lebih jelas daripada aksinya sendiri.

Sebentar lagi GKSBS akan berulang tahun yang ke-25 tahun. Ulang tahun perak yang menandakan kehadirannya sudah lama dan pengalaman-pengalaman indahnya mungkin sudah terkumpul dalam sebuah album yang sangat besar. Sangat menginspirasi jika ini dishare dengan yang lain sesama penghuni rumah bersama ini sekaligus mendengarkan penghuni yang lain untuk berbicara tentang kita, GKSBS. Saya membayangkan jika suatu saat nanti akan ada cerita-cerita indah yang menambah tebal album besar GKSBS. Bagaimana “gereja kota” bersedia membagi resources-nya kepada “gereja desa”. Karena gereja kota memiliki banyak resources, bukan saja uang tetapi justru yang terpenting adalah orangnya. Ada banyak expert-expert di bidangnya yang bisa berbagi dan mendampingi gereja desa untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat. Pertanian, koperasi, peningkatan skill dan keterampilan, dan sebagainya sehingga semakin banyak orang-orang seperti Pak Suko yang muncul sebagai bagian dari diakonia gereja dalam masyarakat. Hadir untuk yang lain untuk membagi roti yang mereka punya. Hidup berbagi dan bermartabat dalam rumah bersama.

Dan bisa saja justru perbincangan-perbincangan ringan yang terjadi di pojok parkiran, di atas motor, di meja kopi, di internet dan sebagainya ini menjadi sebuah harapan yang realistis. Mungkin haya bahasanya saja yang sedikit ngawur, sedikit tak teratur, dan banyak kritiknya, karena memang keluar dari pikiran bocah mbeling yang mencoba mengungkapkan rasa cintanya. Negatif pasti tidak sama dengan kritis. Dan mungkin pepatahnya akan berganti menjadi kritis itu tanda cinta.

 

Salam.

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

One Response to “Cincin Perak”

  1. luar biasa. refleksi yang sangat cerdas dan jernih. semoga semakin banyak warga GKSBS yang mampu mengapresiasi pak suko-pak suko lainnya.

    ditunggu refleksi berikutnya.

    salam,
    gie

    Posted by sugianto | 05/03/2013, 20:42

Post a comment