Appreciative Inquiry

Appreciative Inquiry (III)

Lima prinsip panduan Appreciative Inquiry, yang diajukan oleh Cooperrider, D.L. dan Whitney, D. A (2001, dan Burke, R.M., 2001), adalah::

  • Prinsip Konstruksionis

Konstruksionis adalah sebuah pendekatan dalam ilmu humaniora yang menggantikan individu menjadi hubungan sebagai lokus pengetahuan dan kemudian membangun apresiasi terhadap kekuatan bahasa dan wacana dalam segala macam bentuknya (dari kata, metafor, narasi dan yang lainnya) untuk menciptakan sense terhadap realitas, –sense terhadap apa yang benar, apa yang baik, apa yang mungkin.

Appreciative Inquiry menganggap penting percakapan sebagai pembentuk organisasi. Percakapan bukan sekedar cermin yang merefleksikan realitas, akan tetapi suatu yang dikonstruksikan dan mengkonstruksi realitas para anggota organisasi. Oleh karena itu, cara mengubah budaya organisasi adalah dengan mengubah percakapan yang dilakukan anggota organisasi.

Prinsip ini meliputi pergeseran tradisi intelektual barat dari cogito ergo sum, menjadi communicamus ergo sum dan menggantikan klaim kebenaran mutlak dengan kolaborasi yang tak pernah berakhir untuk mencari pemahaman dan mengkonstruk pilihan kehidupan yang lebih baik.

  • Prinsip Simultan

Prinsip ini menyatakan bahwa penyelidikan (inquiry) dan perubahan bukanlah kejadian yang sungguh-sungguh terpisah, tetapi terjadi secara simultan. Penyelidikan adalah intervensi. Awal dari perubahan adalah –ketika orang berpikir dan berbicara, ketika orang menemukan dan belajar, dan ketika adanya dialog dan menginspirasi bayangan masa depan— implisit dalam pertanyaan yang pertama kali diajukan. Pertanyaan yang kita ajukan akan mengarahkan apa yang dicari dan apa yang didapatkan.

  • Prinsip Poetic

Masa lalu, masa kini dan masa depan adalah sumber pembelajaran, inspirasi atau interpretasi yang tidak berakhir, sebagaimana berbagai kemungkinan interpretasi yang tak berakhir dari sebuah puisi yang indah. Implikasinya adalah individu dapat melakukan studi terhadap berbagai topik yang berkaitan dengan pengalaman manusia dalam berbagai sistem manusia atau organisasi. Karena organisasi bukan “dunia di luar sana” yang menentukan topik pembelajaran seorang individu tetapi artefak sosial, produk dari proses sosial.

  • Prinsip Antisipasi

Sumber daya tak terbatas yang dimiliki manusia untuk menimbulkan perubahan organisasi adalah imajinasi dan wacana kolektif mengenai masa depan. Sebagaimana sebuah film yang disorotkan ke layar, sistem manusia selalu memproyeksikan ke dalam dirinya suatu horizon pengharapan yang membawa masa depan ke masa kini, menjadi sebuah agen yang menggerakkan. Image masa depan seseorang yang positif akan mengarahkan perilaku positif orang tersebut.

  • Prinsip Positip

Upaya membangun dan menjaga momentum perubahan membutuhkan sejumlah besar perasaan positif dan relasi sosial –sesuatu seperti harapan, inspirasi, antusias, perhatian, persahabatan, sense urgent purpose, dan kesenangan yang murni dalam menciptakan sesuatu yang bermakna secara bersama. Pengalaman menunjukkan bahwa semakin positif pertanyaan yang diajukan dalam suatu perubahan maka semakin berhasil dan semakin panjang upaya perubahan yang dapat dilakukan. Semua itu tidak dapat terjadi apabila individu melakukan usaha yang berangkat dari cara pandang penyelesaian masalah.

 

(bersambung…)

Discussion

No comments yet.

Post a comment