Lain-Lain

Matinya Matriakhi!

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Membaca dan merenungkan pandangan Bachofen: bahwa sebuah evolusi kehidupan bermula dari peran dominan seorang ibu, yang prarasional ke dunia patriakal yang rasional. Pada saat itu terjadi pergeseran dari kemerdekaan dan kesetaraan menjadi hierarki dan ketidaksetaraan, hukum dan aturan. Menyadari hal itu, akhirnya manusia ingin kembali kepada pembentukan rasa cinta, perhatian, dan tanggungjawab pada sesama sebagai dunia seorang ibu. Kasih ibu adalah benih dari setiap cinta dan kebersamaan. Kasih ibu adalah dasar dari perkembangan humanisme universal. Konsekuensi dari prinsip budaya ini adalah KEMERDEKAAN dan KESETARAAN, KEBAHAGIAAN dan PENGHARGAAN KEHIDUPAN TANPA SYARAT. Ibu mencintai anak2nya tanpa syarat dan pengharapan. Ibu mencintai anak2nya karena mereka anak2nya.

Dalam prinsip2 ini, apa yang manusia kumandangkan tentang nilai2 kemerdekaan, kesetaraan, kebahagiaan, dan pengakuan kehidupan tanpa syarat (nampaknya ini kerinduan dlm RUMAH BERSAMA juga) sebenarnya merupakan kerinduan manusia akan kembalinya budaya yang berpusat pada ibu. Rindu akan kedamaian dan cinta kasih, penghargaan dan kemerdekaan. Terlepas dari hukum, aturan, dominasi, hirarki dan kepentingan.

MAKA, dapat dibayangkan siapapun yang mempertahankan kekuasaan, dominasi, hirarki, ketidaksetaraan, dll, adalah mereka yang dalam dunia alam bawah sadarnya (Sigmund Freud): MEMBENCI IBUNYA….

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

No comments yet.

Post a comment