Berita

Takdir Atau Tidak?

Oleh Pdt. Henriette Nieuwenhuis

Sore hari. Saya pulang kerja dan ingin santai. Jadi saya menghidupkan tv. Ada dokumenter disiarkan. Karena saya masih bingung dengan bahasa Indonesia, saya tidak memahami semua yang saya mendengar. Tetapi saya bisa mendengar suara narator. Suara yang penuh dengan kasihan. Dan saya menonton. Saya melihat orang yang miskin, mereka tinggal di rumah dari bambu. Saya melihat suami-istri. Suami yang menangis karena kesulitan hidup mereka. Ada satu kalimat dari Bapak ini yang memasuk telinga saya: ‘Semua diatur dari Atas’.

Takdir. Kata itu berbunyi dalam kepala saya. Dan sebenarnya bukan untuk pertama kalinya. Ada banyak contoh lain bisa diberikan yang kurang lebih langsung berhubung dengan takdir. Ketika P.A. ada bapak yang bilang: ‘Kalau tidak ada orang miskin, banyak pekerjaan tidak bisa diselesaikan’. Dan pada saat P.A. lain ada pemuda bertanya: ‘Bagaiman hubungan antara takdir dan masalah?’ Dan waktu ada pencurian di rumah teman saya, dan kebetulan dia memutuskan mau ke luar walaupun sakit. ‘Siapa tahu saya akan dibunuh kalau masih ada di rumah’. Orang disekitar dia menyebut itu ‘takdir’ juga.

Saya merasa takdir di Indonesia lebih kuat dibandingkan dengan Belanda. Mungkin karena rata-rata di Belanda Tuhan tidak ada ‘realitas’ lagi, sedangkan Ketuhanan yang Maha Esa salah satu dasar negara Indonesia. Saya akan menggarisbawahinya: definisi ‘takdir’ di Kamus Besar Bahasa masing-masing berbeda. Kalau di Indonesia takdir didefinisikan: ketetapan Tuhan; ketentuan Tuhan. (Nasib: sesuatu yg sudah ditentukan oleh Tuhan atas diri seseorang). Di Belanda jauh berbeda. Takdir: jalannya peristiwa yang tak dapat diramalkan.

Pertanyaan saya adalah: apakah ada hubungan antara takdir dan Tuhan dan kalau begitu bagaimana hubungannya? Dan dari relasi itu apa akibatnya untuk peristiwa sehari-hari? Demi kejelasan: untuk memudahkan tulisan ini, saya tidak membedakan antara takdir dan nasib.

Kalau takdir adalah ketetapan atau ditentukan oleh Tuhan, itu jelas bahwa hubungan antara Tuhan dan takdir menjadi sangat kuat. Apa saja yang terjadi dalam hidupnya adalah kehendakan Tuhan. Dan Allah sudah menetapkan semua langkah dalam hidup orang masing-masing. Semua sudah direncanakan. Diatur dari Atas.

Kalau takdir menjadi jalannya peristiwa yang tak dapat diramalkan, orang tidak mendapat pegangan siapa memimpin hidup mereka. Karena kita tidak tahu kalau ada siapa atau apa yang mengatur semuanya. Hidup ini ‘jalan’ saja. Sesuatu bisa terjadi dalam hidupnya, tetapi kita tidak tahu mengapa.

Sebaiknya kita membuka Buku Besar yang lain. Yang semoga bisa membantu kita untuk merefleksikan semua. Dari kata takdir dan nasib, hanya nasib yang muncul di Alkitab. Tetapi saya tidak mau memakai Buku ini sebagai Kamus, yang penuh dengan definisi. Saya ingin berusaha mencari karakter Tuhan terhadap manusia terkait dengan tema takdir. Dan bagaimana refleksi ini punya dampak untuk peristiwa sehari-hari, khusus orang yang miskin, kemiskinan dan diakonia.

Mungkin saya bisa mengajak saudara untuk menulis tentang takdir dan Tuhan. Dengan perhatian tips yang diajari di ‘Semiloka Menulis’ minggu yang lalu:

–          Tuliskan visi Allah!

–          Sebaiknya sederhana dan dibatas! (Jadi maksimal 1 halaman, Times New Roman 12)

–          Firman Allah adalah hidup, jadi tafsirlah untuk hari ini!

 

Mari kita menulis!

Discussion

2 Responses to “Takdir Atau Tidak?”

  1. Cerita Yakub

    Namaku Yakub. Ayahku yang memberikan nama itu. Padahal kata orang Yakub artinya licik dan suka menipu. Tapi nggak apalah, aku bernama Yakub kan bukan kemauanku.

    Ayahku bernama Iskhak dan Ibuku, Ribka. Aku dilahirkan sebagai anak yang kedua. Yang lahir duluan Esau. Sejak awal aku tidak suka kenyataan ini. Yang aku mau, aku lahir lebih dulu. Biar aku yang nomor satu. Sialan…malahan Esau yang duluan.

    Kata ibuku sudah sejak dalam kandungan aku suka bertengkar dengan Esau, sehingga ibuku merasa kesakitan perutnya. Tapi pada saat keluar dari rahim ibuku, ternyata Esau yang menemukan pintu keluar lebih dahulu. Aku mau buat perhitungan sama Esau. Aku harus menjadi yang sulung, yang nomor satu. Bagaimanapun caranya.

    Menurut ayahku, Iskhak, warisan berharga akan diberikan kepada anak yang sulung. Sedangkan menurut ibuku, Ribka, anak yang banyak akal dan dikasihi oleh orangtuanya akan menerima warisan berharga. Aku harus buat rencana. Ya..rencana mengenai bagaimana caranya dikasihi dan banyak akal untuk mendapatkan warisan berharga itu.

    Rencana pertama adalah bagaimana caranya dikasihi oleh ayah dan ibuku. Dalam hal ini aku hanya berhasil separuh. Ibu lebih menyukaiku ketimbang Esau. Karena aku lebih halus dan tampan. Selain itu aku lebih banyak menghabiskan waktuku bersama ibu di rumah. Aku sering membantunya masak. Tentu akibatnya aku disayang ibu dan pandai memasak. Tetapi ayahku lebih menyukai Esau. Esau sering berburu bersama ayah. Sementara itu, dari pada berburu, aku lebih suka memilih tinggal di rumah bersama ibu.

    Pada suatu hari, Esau pulang dari berburu dengan lesu dan lapar. Dia tidak memperoleh binatang buruannya. Maka Esau pun minta agar dikasih makan. Aku yang saat itu memasak kacang merah, mau memberikan makanan kepada Esau kalau dia mau memenuhi syaratnya. Apa syaratnya? Syaratnya mudah, yaitu agar Esau mau menyerahkan hak kesulungannya kepadaku. Tanpa berpikir panjang, Esau pun menerima syarat itu. Peduli amat dengan kesulungan, sebab saat ini yang terpenting adalah bisa mendapat makanan. Akhirnya, Esau mengaku bahwa akulah anak yang sulung. Hanya saja, pengakuan itu belum diketahui oleh ayahku. Ayah tetap mengakui kenyataannya Esau adalah anaknya yang sulung.

    Setelah ayah lanjut usia, ia mengalami gangguan penglihatan. Ayah mengatakan kepada Esau bahwa sudah saatnya ia menyerahkan warisan berharga kepadanya. Untuk penyerahan warisan berharga itu, ayah menyuruh Esau berburu dan menghidangkan masakan hasil buruannya itu kepada ayah. Maka Esau pun segera berangkat berburu. Aku marah karena Esau tidak mau mengatakan kepada ayah kalau aku yang sulung dan Esau telah menyerahkan hak kesulungannya kepadaku. Seharusnya aku yang lebih berhak mendapatkan warisan berharga itu.

    Ibu tahu apa yang harus aku lakukan agar mendapatkan warisan berharga itu. Maka aku dibantu ibu menyembelih kambing dan memasaknya untuk ayah. Sehingga sebelum Esau pulang aku sudah menghadap ayah dan minta diberkati dengan warisan berharga milik ayahku, Walaupun dengan agak ragu=ragu, akhirnya ayah tetap memberikan berkat kepadaku dan menyangka kalau aku adalah Esau anak kesayangannya.

    Ternyata akhirnya aku berhasil. Berhasil menjadi anak yang sulung dan berhasil mendapatkan hak waris anak yang sulung. Dari pada berkelahi dengan Esau berebut warisan, lebih baik aku kabur meninggalkan rumah. ……

    (Usaha membuat takdir sendiri)

    Posted by Surahmat Hadi | 26/09/2012, 11:24
  2. AKU ADALAH AKU

    Kalau kupikir-pikir terasa aneh dalam hatiku. Betapa tidak, aku ini anak budak Ibrani tetapi diangkat jadi anak Firaun, raja Mesir. Menurut ibuku, pada waktu itu anak-anak orang Ibrani yang lahir laki-laki harus dibunuh. Begitulah titah Firaun Raja Mesir. Sebab Firaun tidak mau terjadi pemberontakan bangsa Ibrani melawan bangsa Mesir. Para budak Ibrani harus dibuat takut dengan cara ditekan dengan pekerjaan yang berat-berat dan pertumbuhan jumlah laki-laki harus dikendalikan.
    Ketika aku masih bayi, orang tuaku sangat cemas memikirkan bagaimana caranya menyelamatkan aku dari ancaman pembunuhan oleh para tentara Mesir, suruhan Firaun. Maka orang tuaku pun berusaha menyembunyikan aku. Secara sengaja ayahku menaruh aku dalam sebuah kotak dan kotak yang berisi aku itu ditaruh di pinggiran sungai Nil, dekat dengan tempat para putri Firaun mandi. Kakakku, Maria, disuruh mengawasi aku dari kejauhan.

    Sungguh beruntung nasibku. Puteri Firaun kasihan padaku dan mengangkat aku menjadi anak angkatnya. Aku diberikan kepada ibuku untuk disusui dan diasuh untuk puteri Firaun. Setelah aku sudah agak besar, aku diserahkan oleh orang tuaku ke istana dan tinggal di istana sebagai anak angkat raja Firaun. Puteri Firaun menerimaku dan memberiku nama “Musa”.

    Setelah aku dewasa, aku tetap ingat dan sadar siapa diriku sebenarnya. Aku adalah anak budak bangsa Ibrani yang tinggal di istana Firaun. Kemewahan istana tidak membuat aku melupakan nasib bangsaku yang menderita ditekan dan diperlakukan tidak manusiawi. Suatu hari, aku marah besar ketika melihat orang Mesir dengan semena-mena memukuli orang Ibrani. Karena itu, aku pun membelanya. Kupukuli orang Mesir tersebut hingga mati. Dengan cemas , kukubur mayat orang Mesir itu dalam timbunan pasir.

    Kupikir dengan kejadian itu, akan banyak orang Ibrani, saudara-saudaraku sebangsa yang simpati dengan aku. Atau mengakui kepemimpinanku. Atau paling tidak mereka tahu bahwa aku peduli dengan nasib bangsa Ibrani, bangsaku sendiri. Sebab tidak seharusnya bangsaku mengalami nasib sebagai budak terus menerus. Suatu saat nanti, bagaimana caranya aku tidak tahu, bangsaku harus bisa merdeka, bebas dari perbudakan. Aku tahu, bahwa yang harus aku perjuangkan dalam hidupku adalah pembebasan bangsa Ibrani dari perbudakan bangsa Mesir.

    Agar bisa merdeka, bangsaku harus bersatu. Mereka harus satu tujuan yaitu merdeka. Untuk mempersatukan mereka, dibutuhkan pemimpin. Tapi siapa gerangan pemimpin bangsa budak ini? Siapa yang mau tampil menjadi pemimpin pemberontak? Aku harus mencari tahu. Dan kalau kutemukan ada pemimpin di kalangan bangsa Ibrani, maka aku akan bergabung dengan pemimpin itu dan sebisaku aku akan membantunya.

    Pada suatu hari, ketika aku sedang cari-cari informasi mengenai pemimpin bangsa Ibrani, aku melihat ada 2 orang Ibrani yang berkelahi. Mereka saling pukul dan bisa jadi akan saling bunuh di antara saudara sendiri. Ini tidak boleh dibiarkan. Aku segera turun tangan. Kupisahkan mereka dan kusuruh mereka agar berdamai. Tapi sungguh di luar dugaan, mereka berdua justru bersatu menentang sikapku. “Siapa yang mengangkat kamu menjadi pemimpin? Apa kamu hakim atas perkara kami? Atau kamu mau membunuh kami seperti orang Mesir kemarin?” Sikap mereka yang menolak campur tanganku sungguh melukai hatiku. Menanggapi kejadian itu perasaanku menjadi tidak menentu. Aku marah, kecewa dan takut

    Setelah ku pikir-pikir sebaiknya memang aku harus pergi. Kalau mereka menolakku, tentu mereka akan mengadukan perkara pembunuhan itu kepada Firaun. Dan kalau Firaun tahu bahwa aku telah membunuh orang Mesir, maka aku akan ditangkap dan dihukum mati. Biar aku kabur saja. Kemana? Kemana saja asal aman dari ancaman Firaun.

    Aku lari ke padang gurun. Dalam pelarianku itu aku menemukan sebuah daerah yang dihuni orang, yang letaknya di tengah padang gurun yang luas. Naluriku untuk berpihak kepada yang lemah dan tertindas pun muncul lagi. Aku melihat beberapa anak gadis gembala yang diperlakukan tidak adil oleh para gembala laki-laki. Sehingga gadis-gadis gembala itu kesulitan untuk mendapatkan air , guna memberikan minum domba-dombanya. Maka aku pun turun tangan. Aku bantu para gadis itu menimba air seraya menghalau para gembala yang mengganggu mereka.

    Orang tua gadis-gadis itu memberikan tumpangan kepadaku. Setelah tinggal beberapa hari, aku dinikahkan dengan Zipora anak gadisnya. Zipora isteriku membuat aku bisa melupakan kesusahanku untuk sementara waktu. Apa lagi setelah ia mengandung dan melahirkan anak bagiku, aku sungguh merasa beruntung. Sekalipun aku jauh dari keluarga dan bangsaku, di sini aku menemukan keluarga baru. Untuk mengenang kesusahanku di negeri asing ini, kuberikan nama Gersom kepada anakku laki-laki yang sulung.

    Setelah beberapa waktu lamanya aku mendengar kabar, kalau Firaun raja Mesir. Ayah angkatku sudah mati. Tentu aku sudah bisa kembali ke Mesir, sebab orang yang mengancam untuk menangkap dan membunuhku sudah tidak ada lagi. Aku sudah bisa aman. Tetapi sepeninggal raja itu dan berganti raja yang baru, apakah nasib bangsaku juga ada perubahan? Menurut informasi yang kudapatkan dari tetanggaku yang berjualan ke Mesir, nasib para budak di Mesir semakin buruk. Raja yang baru tetap meneruskan kebijakan raja sebelumnya. Para budak Ibrani itu membutuhkan pertolongan, tapi siapakah yang sanggup menolongnya?

    Seperti hari-hari biasanya, aku pergi menggembalakan domba milik mertuaku ke padang belantara, agak jauh dari perkampungan. Seperti biasanya pula, aku bergumul memikirkan bagaimana nasib bangsaku. Kalau aku membandingkan bagaimana nasibku dan nasib bangsaku, aku selalu merasa lebih beruntung. Dulu anak laki-laki bangsaku harus mati dilemparkan menjadi santapan buaya dan kuda sungai Nil. Tetapi aku diselamatkan dari bahaya itu, bahkan diangkat dari sungai Nil menjadi anak angkat puteri Firaun. Aku memang lebih beruntung. Sekarang pun aku merasa lebih beruntung, bisa hidup bebas merdeka mengarungi padang gurun yang luas. Tidak ada seorangpun yang menekan dan menindas aku. Aku bebas. Ya, lebih baik bebas di sini dari pada ditindas di Mesir sebagai budak.

    Tetapi benarkah bangsa Ibrani ingin bebas sebagaimana aku pikirkan? Jangan-jangan mereka hanya membutuhkan perubahan sikap orang Mesir. Mereka tetap mau saja jadi budak asal orang-orang Mesir berubah menjadi baik hati dan tidak memperlakukan mereka dengan kasar dan kejam. Bukankah kalau mereka mau bebas, mereka harus meninggalkan tanah Mesir? Menjadi merdeka dan tetap tinggal di Mesir adalah tidak mungkin. Lalu akan kemanakah para budak yang sebegitu banyaknya itu? Aku benar-benar pusing memikirkannya. Tapi anehnya kenapa sudah bertahun-tahun aku tetap memikirkan hal itu? Kenapa aku tidak bisa melepaskan saja pikiran mengenai pembebasan bangsa Ibrani itu?

    Tiba-tiba aku melihat ada api menyala-nyala pada semak-semak di tempat yang tidak jauh dari tempat dudukku. Aneh, api dari mana itu. Kelihatan olehku semak-semak itu tidak terbakar, tidak ada asapnya. Tapi nyala apinya sangat jelas menyerupai nyala api. Apakah gerangan itu? Aku pun mendekat dan mengamatinya dengan cermat.

    Ketika aku mengamat-amati semak belukar yang bernyala-nyala itu, aku pun mendengar suara dari dalam api itu:
    “Musa, Musa! Akulah Allah ayahmu, Allah Abraham, Allah Ishak dan Allah Yakub.Sekarang seruan orang Israel telah sampai kepada-Ku; juga telah Kulihat, betapa kerasnya orang Mesir menindas mereka.
    Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.”

    Mendengar hal itu, aku pun menjawab: “Siapakah aku ini, maka aku yang akan menghadap Firaun dan membawa orang Israel keluar dari Mesir?”
    “AKU ADALAH AKU.” Beginilah kaukatakan kepada orang Israel itu: AKULAH AKU telah mengutus aku kepadamu.”

    Setelah keluar dari Mesir bersama bangsa Israel, akupun mengenal Tuhan berdasarkan pengalaman nyata tersebut. Tuhan berfirman kepada seluruh bangsa Israel demikian:
    “Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan”

    (Siapa Tuhanku ada hubungannya dengan apa yang kuperjuangkan dalam hidupku)

    Posted by Surahmat Hadi | 26/09/2012, 11:28

Post a comment