Departemen

Cerita dan Evaluasi CCCP

CCCP‘Kita sudah saudara dalam Kristus, kalau sahabat belum’

Kue apel, kue yoghurt dan kue keik dibuat orang Londo telah membawa Belanda sedikit lebih dekat dalam pertemuan tanggal 26 April yl. Untuk pertama kali tim CCCP (Church and Community to Church Program) bertemu bersama dengan wakil jemaat GKSBS yang baru atau sudah cukup lama berkorespondensi dengan jemaat PKN di Belanda. Juga ada calon dari dua jemaat hadir yang didaftarkan untuk mulai dengan program ini. Dalam pertemuan ini jemaat sempat untuk share bagaimana pengalaman sampai sekarang dan bagaimana pengharapan untuk masa depannya. Kemudian 25 peserta ini menikmati kue khas Belanda dan makan siang khas Indonesia.

Untuk sementara ada tujuh jemaat yang telah mulai surat menyurat dengan tujuh jemaat atau klasis dari PKN. Sudah ada surat perkenalan dan surat lain terkirim timbal balik, salam Paskah atau Natal dan beberapa jemaat sudah menerima souvenir dari jemaat mitra mereka.

Alasan pertama untuk banyak jemaat GKSBS untuk ikut dalam program ini adalah untuk memperdayakan jaringan dan kapasitas dan untuk kerja sama. Mereka mengharapkan persahabatan yang setara dengan jemaat di Belanda di mana ada saling berbagi. Ada peserta mengatakan demikian: ‘Relasi ini tidak tentang uang, tetapi tentang kesetaraan, menerima dan memberi’. Lalu: ‘Di awalnya kami harus saling mengenal dulu, tetapi kami berharap lebih daripada itu, supaya persahabatan ini dapat makna dan kasih Tuhan akan lebih jelas (Efese 3:14-21). Para peserta juga senang dan antusias tentang kedatangan pemuda yang direncanakan bulan Juli 2013 dan mereka berharap pada sesuatu saat warga GKSBS jugat bisa mengunjungi Belanda.

Sering kali ada panitia atau tim berdiri dari beragam pihak yang bertangung jawab atas korespondensi jemaat dengan Belanda. Tetapi masih tertalu sering program ini tergantung kepada keterlibatan pendeta. Persahabat ini terutama menjadi milik pendeta dan kurang milik jemaat. Dalam pertemuan ada yang mengatakan bahwa komunikasi tentang program ini sangat penting. Hasil dari pertemuan seperti ini harus dijemaatkan dan dikomunikasikan. Dan juga ada usulan bahwa sebaiknya tim CCCP secara teratur menceritakan lanjutan dari programnya. Di Belanda pengalaman justru sebaliknya: sering kali pendeta kurang terlibat dalam program seperti ini.

Ada juga beberapa suara penuh dengan kekecewaan didengarkan: ‘Mengapa belum ada balasan pada pertanyaan kami di surat terakhir, pertanyaan seperti mengapa gereja di Belanda semakin kosong?’ Dan: ‘dalam jemaat kami motivasi pertama untuk program ini untuk mendapatkan sesuatu dan banyak warga kecewa waktu menjadi jelas menerima sahabat pena saja’. Baik dalam PKN maupun di GKSBS mereka masih dalam proses pembiasaan dan ternyata program ini membutuhkan waktu untuk tubuh.

Waktu ada pertanyaan muncul apakah korespondensi ini terbatas waktu ada beberapa komen: ‘Persaudaraan kita untuk sepanjang hidup, tidak ada batasan waktu toh?’ Dan: ‘Sebuah perkenalan bisa menjadi sebuah persahabatan dan kalau cocok bisa menjadi pernikahan. Tukar kabar bisa membuat orang semakin dekat. Inilah keputusan jemaat bersama bagaimana dan berapa lama mau melanjutkan relasinya’. Sehubungan dengan reaksi ini ada yang mengatakan: “Kita sudah saudara dalam Kristus, tetapi sahabat belum’. Bagaimana ikatan keluarga ini diwujudkan dan apakah persaudaraan lebih berharga daripada persahabatan adalah pertanyaan saya membiarkan bergantung di tengah-tengah.

Kesepakatan dibuat dalam pertemuan ini adalah bahwa kita akan bertemu dua kali setahun untuk share pengalaman dan saling menginspirasi.

 

Discussion

One Response to “Cerita dan Evaluasi CCCP”

  1. untuk perkenalan awal (seperti berkirim surat, profil, souvenir, photo tim, dsb) ditargetkan sampai kapan? atau sampai berapa kali korespondensi? dan selanjutnya harus masuk kepada inti persahabatan dan kerjasamanya.

    Posted by Roni | 02/05/2013, 08:18

Post a comment