Diakonia

Berapa banyak roti ada pada Belanda?

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

kiaTanggal 24 Mei yang lalu Kerk in Actie (organisasi Zending dan Diakonia dari PKN) mengadakan ‘Kerk in Actie Hari Dunia’. Setiap tahun Hari Dunia diadakan dengan tujuan menginformasikan warga jemaat tentang kerja-kerja mitra dari Kerk in Actie. Tahun ini temanya menjadi: ‘Berbagi melewati perbatasan’ didasarkan ayat: ‘Berapa banyak roti ada padamu? Cobalah periksa!’ Motivasi kami adalah berbagi inspirasi dan semangat mitra kami dan juga menyemangati para peserta untuk berbagi apa yang dimiliki. Karena tema ini berhasal dari GKSBS dan dibagikan dengan kami, kami ingin berbagi hasil dari peringatan Hari Dunia.

Padi dan kincir angin
Hari Dunia ini mulai dengan sebuah sambutan dari ibu Rommie Nauta (ketua program Kerk in Actie). Dia bercerita tentang fokus dan panggilan GKSBS: ‘Berapa banyak roti ada kepadamu? Cobalah periksa!’ Kemudian ada beberapa tamu dari berbagai negara yang diminta untuk share simbol mereka yang menujukkan apa itu berbagi. Ada seorang pendeta dari Rwanda, dua orang dari Paraguay, satu orang dari Indonesia dan sekum PKN dari Belanda. Pak Robert Setia (UKDW) membawa foto dari padi. Dia bercerita: ‘Simbol Indonesia adalah padi. Dan padi yang sudah berisi, kecenderung untuk merunduk. Demikian juga seorang yang tahu banyak dan memiliki banyak untuk dibagikan perlu merunduk, perlu rendah hati. Pak sekum PKN, pak Arjan Plaisier, membawa foto dari kinjir angin dan mengatakan: ‘Seperti kincir angin diletakkan di pemandangan Belanda juga gereja kembali lagi melihat didasarkan dalam konteks Belanda ini dan berbagi apa yang dia miliki. Tetapi dengan empat baling-baling kami juga mau menerima angin/Roh Khudus dari empat pocok dunia dan mendapat inspirasi yang baru’.

 

Tamu dari Indonesia
Pada hari ini ada berbagai macam pelatihan dilakukan oleh orang dari seluruh dunia. Pagi sampai siang ada pelatihan dengan tamu dari tiga negara: Rwanda, Paraguay dan Indonesia. Siang sampai sore ada tamu dari Palestina/Israel, Mesir, Thailand, dan lain-lain. Tamu dari Indonesia adalah: ibu Henriette, pak Karel (dan keluarga), pak Robert Setio, pak Gerrit Singgih dan pak Kees de Jong dan istrinya.

Di pelatihan Ibu Henriette para peserta diminta untuk berbagi pengalaman diakonia mereka. Kemudian pelbagai macam diakonia dijelaskan dan para peserta diminta untuk mengkategorikannya. Peserta menjadi sadar bahwa diakonia karitatif adalah sesuatu baik tetapi tidak cocok dalam setiap konteks. Mereka merasa dipanggil (lagi) sebagai gereja untuk melakukan dan meneruskan yang reformatif dan transformatif juga. Kemudian ada dua pemuda, Laura dan Jeanine, yang tahun yang lalu datang ke Indonesia, berbagi tentang kunjungan ke Moro-Moro. Bagaimana sesuatu sederhana seperti sebuah kunjungan (karitatif?) mempunya akibat yang besar sehingga orang yang dikunjungi belum diusir lagi dari tanah mereka (transformatif?). Salah satu kesimpulan menjadi bahwa semua macam diakonia berharga dan bisa membuat dampak yang besar.

Pak Robert dan pak Gerrit malakukan PA tentang Markus 8 mengenai pemberian makan untuk 4000 orang. Markus 8 kurang terkenal dibandingkan dengan Markus 6 mengenai pembagian makan untuk 5000 orang. Ada berapa hal mereka berdiskusi selama berPA: pertama, pemberian makan di Markus 8 terjadi di luar Israel (“di luar gereja dan komunitas”) sedangkan mujizat di Markus 6 terjadi di dalam Israel. Kedua, pra murid yang sudah menyaksikan mujizat pertama ternyata tetap bingung di Markus 8. Mengapa? Ya karena mereka mengasumsikan bahwa mujizat hanya terjadi di dalam gereja atau di dalam komunitas. Ketiga, sesudah makan, semua disuruh pulang ke rumahnya, tidak ada yang menjadi pengikut Yesus. Berarti pemberian makan terjadi tanpa target apa-apa, tidak sebagai strategi untuk menjadikan orang lain, menjadi Kristen.

 

Saling menginspirasikan
Pak Karel berbagi tentang program CCCP dan wawasan tentang gereja yang diterima sejak surat-menyurat itu. Jemaat GKSBS Pugungraharjo di mana pak Karel menjadi pendeta sudah dua tahun berkomunikasi dengan PKN Nieuw-Buinen dan PKN Rolde.
Juga ada pak Jan Buurma, warga jemaat dari PKN Zoetermeer yang berkomunikasi dengan GKSBS Bukit Sion, yang cerita tentang pengalamannya. Di kota Zoetermeer ada tiga kelompok yang memiliki gedung masing-masing terpaksa untuk menjadi satu kelompok dalam satu gedung karena semakin sedikit orang ke gereja dan kekurangan uang. Biasanya itu menjadi proses yang susah dan lama karena orang tidak mau meninggalkan kelompok dan gereja masing-masing. Tetapi mereka dapat inspirasi dan semangat dari GKSBS dengan ‘rumah bersama’. Slogan itu menjadi sangat relevan dalam konteks Zoetermeer walaupun konteksnya jauh berbeda. Proses menjadi satu lancar karena dikatakan: ‘Kalau di konteks GKSBS dengan pelbagai agama, suku dan bahasa sudah bisa menjadi rumah besama, bagaimana kita!’
Di PKN Zoetermeer dalam periode pra-Paskah setiap hari Minggu mereka membuat sebuah drama di gereja tentang hak tanah di Sumatera bagian selatan. Pak Jan menjadi petani dan tanam sayur di gereja bersama dengan anak-anak. Setelah dua minggu kebunnya dihancurkan, karena gubernur wilaya itu melarang semua kebunnya demi sebuah pabrik yang mau memakai tanahnya. Hari Minggu berikutnya Yabima datang untuk membela para petani termasuk pak Jan dan membawa kasusnya ke pengadilan. Akhirnya hak tanah petani Jan diakui pengadalin dan dia bisa memakai tanahnya lagi. Pada hari Minggu terakhir ada ayam dibawa dalam gereja untuk menggambarkan bahwa semua baik-baik lagi: petani pak Jan dan keluarganya hidup dalam damai sejahtera dan bisa hidup dari kebun sayur lagi.
Drama ini sangat membantu orang untuk memahami situasi dan konteks di Lampung. Banyak warga jemaat sangat antusias tentang contoh drama ini di jemaat PKN Zoetermeer dan juga jemaat PKN yang lain mau memakainya di jemaat mereka.

Singkatnya
Singkatnya hari ini menjadi hari penuh banyak cerita untuk saling menginspirasikan warga jemaat dan mitra. Kami mengucapkan syukur kepada Tuhan semua bisa jalan dengan baik dan kami semua bisa mendengar betapa besar Tuhan melalui ‘Berbagi melewati perbatasan’.
Atas nama semua orang yang hadir pada Kerk in Actie Hari Dunia: terima kasih banyak atas semangat dan inspirasi GKSBS dibagikan dengan kami dan menjadi inspirasi dan semangat kami!

Shalom,
Ibu Miriam Nagtegaal,
Mission Departement Kerk in Actie

(Diterjemahkan dan dilengkapi oleh pdt. Henriëtte Nieuwenhuis)

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

No comments yet.

Post a comment