Pendapat

Apa Yang Terpenting?

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

September 2015, industri mobil dunia terguncang oleh skandal. Volkswagen, salah satu produsen terbesar mobil dunia asal Jerman, melanggar ketentuan terkait dengan jumlah emisi mobil-mobil hasil produksinya. Harga saham Volkswagen menurun drastis. Pemecatan besar-besaran serta denda milyaran Euro pun sudah menunggu di depan mata.

Banyak analisis diajukan atas masalah ini. Intinya adalah, Volkswagen telah menipu pemerintah dan masyarakat terkait dengan jumlah polusi yang dihasilkan oleh mobil-mobilnya. Ia tidak hanya melanggar hukum dan menodai kepercayaan masyarakat, tetapi juga merusak alam. Pola pelanggaran semacam ini sudah terjadi begitu sering di dunia. Perusahaan-perusahaan multinasional mengabaikan semua hal, demi mendapatkan keuntungan yang lebih banyak lagi.

Pertanyaan kecil pun menggantung di kepala saya. Mengapa perusahaan yang sudah begitu kaya dan besar masih saja terjebak pada kerakusan akan uang? Bukankah mereka sudah amat sangat kaya, bahkan untuk ukuran perusahaan mobil raksasa yang usianya sudah hampir 100 tahun? Apa yang sebenarnya terjadi?

Salah Paham

Yang jelas, Volkswagen mengalami kesalahpahaman mendasar. Mereka mengira, bahwa uang adalah hal terpenting dalam hidup. Akibatnya, mereka menipu pemerintah dan masyarakat, guna mendapat uang lebih banyak lagi. Sayangnya, pandangan yang salah semacam ini justru memukul balik Volkswagen itu sendiri.

Volkswagen tidak sendiri. Begitu banyak orang mengalami kesalahpahaman yang sama. Mereka mengira, hal terpenting di dunia adalah uang. Ketika uang banyak, mereka justru bingung, dan akhirnya melakukan hal-hal yang justru menghancurkan diri mereka sendiri.

Mereka bilang, mereka butuh uang untuk hidup. Ini akhirnya menciptakan semacam lingkaran setan yang tidak masuk akal. Orang bekerja untuk hidup, sementara hidupnya diisi dengan bekerja lebih banyak lagi. Tak heran, dengan pola hidup semacam ini, banyak orang menderita dalam hidupnya.

Banyak orang juga bilang, bahwa mereka mencari uang untuk keluarga. Ini tentu masuk akal dan benar. Akan tetapi, apakah bisa dibenarkan, jika kita mencari uang untuk keluarga kita, dan menipu keluarga-keluarga lainnya? Lagi pula, seberapa banyak sih uang yang kita butuhkan untuk menghidupi keluarga kita? Milyaran Euro?

Kebingungan menghasilkan kesalahpahaman semacam ini. Kesalahpahaman akhirnya membuahkan penderitaan yang lebih banyak lagi. Kita tidak paham, apa yang terpenting dalam hidup ini, dan akhirnya melakukan hal-hal bodoh. Orang lain pun kena getahnya, akibat dari kebodohan kita.

Yang Terpenting

Lalu, apa yang terpenting dalam hidup ini? Jawabannya jelas bukan uang. Saya bahkan berani berpendapat, bahwa yang terpenting dalam hidup ini pun bukan hidup itu sendiri. Keluarga, bahkan memahami “tuhan”, pun juga bukan merupakan hal terpenting dalam hidup ini. Hidup, uang, keluarga dan tuhan tentu penting, tetapi bukanlah yang terpenting.

Yang terpenting dalam hidup ini adalah memahami, siapa kita sebenarnya. Kita punya tugas utama dalam hidup ini, yakni menyadari jati diri sejati kita sebagai manusia. Jika kita bisa menyadari ini, maka kita akan menemukan kebebasan serta kebahagiaan yang sejati. Kita pun lalu bisa membantu mengembangkan kehidupan orang lain dan masyarakat kita.

Ini bukan hanya pandangan saya. Beragam pandangan di berbagai belahan dunia juga berpendapat yang sama. Tradisi Vedanta di India, filsafat Stoa di Yunani Kuno, tradisi Mistik Kristen, tradisi Sufisme di Islam, tradisi Zen di Jepang dan pandangan hidup suku Sioux di Amerika Utara menanyakan pertanyaan penting yang sama, siapakah kita sesungguhnya? Pertanyaan ini adalah pertanyaan terpenting di dalam hidup manusia.

Jati Diri Sejati

Yang jelas, kita bukanlah nama kita. Nama adalah pemberian orang tua. Itu bisa diganti. Kita juga bukan agama, ras ataupun suku kita. Semua itu bisa berubah.

Kita perlu mencari yang tak berubah di dalam diri kita. Tubuh kita berubah. Pikiran kita pun berubah. Yang tak berubah adalah jati diri sejati kita sebagai manusia.

Jati diri ini adalah kesadaran murni (pure awareness) kita. Namun, kesadaran bukanlah otak. Otak adalah bagian dari tubuh. Dan kita jelas bukanlah tubuh kita.

Kesadaran inilah yang memungkinkan kita membaca tulisan ini. Kesadaran inilah yang memungkinkan kita terus bernafas. Ia adalah sumber dari segala aktivitas di dalam diri kita. Ia selalu ada, bahkan ketika kita pikun, atau masuk dalam keadaan koma.

Kesadaran Murni

Sayangnya, kita sering lupa pada jati diri sejati kita ini. Kita lupa, bahwa kita bukanlah identitas sosial kita. Kita melupakan jati diri sejati kita, meskipun ia selalu ada bersama kita. Untuk melampaui kelupaan semacam ini, ada satu metode yang bisa digunakan, yakni metode mencerap (perceiving method).

Sejak kita lahir di dunia ini, kita sudah mencerap segala sesuatu. Kita merasakan segala sesuatu secara langsung. Kita tidak menilai ataupun menganalisis. Kita bisa mencerap, karena kita memiliki kesadaran murni di dalam diri kita.

Lalu, kita belajar bahasa dan konsep dari keluarga kita. Kita juga belajar di sekolah. Kita juga mulai belajar untuk melakukan analisis dan penilaian atas segala sesuatu. Akhirnya, kita berhenti untuk mencerap, dan selalu menggunakan daya analisis dan daya penilaian di dalam hidup kita.

Ketika ini terjadi, kita melupakan jati diri sejati kita, yakni kesadaran murni kita. Kita terjebak pada dunia konsep dan dunia analisis. Kita menilai segala sesuatu. Kita pun sulit untuk menemukan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hidup kita, karena terlalu banyak berpikir.

Analisis jelas diperlukan di dalam hidup kita. Daya penilaian juga amat penting. Namun, keduanya bukanlah yang terpenting. Yang terpenting adalah kesadaran murni kita.

Kesadaran murni juga merupakan sumber dari daya analisis dan daya penilaian kita. Kesadaran murni ini tidak dapat ditunjuk, tetapi dapat dengan mudah dirasakan. Kita hanya perlu berhenti untuk menganalisis dan menilai. Kita hanya perlu mencerap segala yang ada dari saat ke saat, tanpa analisis dan tanpa penilaian.

Ketika ini dilakukan, pikiran kita menjadi jernih. Kita menemukan ketenangan, kebebasan dan kebahagiaan di dalam diri kita sendiri. Kita lalu bisa menolong diri kita sendiri dan orang lain. Kita bisa berfungsi dengan baik sebagai manusia.

Melampaui Kelekatan

Ketika kita menyadari kembali kesadaran murni kita, segala kelekatan pun hilang. Kita tidak lagi melekat pada harta, uang, jabatan, keluarga dan bahkan pada hidup itu sendiri. Kita menemukan kebebasan yang sejati.

Dengan kata lain, kita tidak lagi kecanduan pada uang, kuasa, jabatan dan bahkan hidup itu sendiri. Kita bisa menggunakan itu semua sesuai fungsinya. Kita juga bisa menggunakan itu semua untuk membantu orang lain. Bahkan, kita bersedia mati untuk menyelamatkan orang lain.

Ketika kita menyadari kembali kesadaran murni kita, kita menciptakan jarak dengan segala hal. Kita tidak lagi terikat dengan identitas sosial maupun pikiran-pikiran kita. Kita lalu sadar, bahwa itu semua terus berubah, dan amat rapuh. Jarak semacam ini menciptakan kejernihan dan kewarasan di dalam diri kita.

Dengan kejernihan dan kewarasan, kita bisa hidup dengan jernih dari saat ke saat. Kita mencerap dari saat ke saat. Kita menggunakan analisis dan penilaian, jika diperlukan. Selebihnya, kita beristirahat di dalam rumah kesadaran murni di dalam diri kita sendiri.

Jika setiap orang menyadari kesadaran murni di dalam dirinya, hidup bersama akan menjadi mudah. Perbedaan tidak menjadi sumber bagi konflik, melainkan sumber bagi dialog. Politik menjadi efektif dan efisien. Korupsi, kolusi dan nepotisme pun hanya tinggal kenangan.

Jika para pemimpin Volkswagen belajar hal ini, tentu mereka tidak akan terjebak dalam skandal. Pemerintah dan masyarakat juga tidak akan tertipu mentah-mentah. Alam juga tidak akan rusak, karena kerakusan mereka. Namun begitu, kesempatan masih terbuka, juga bagi Volkswagen.

Untuk apa kekayaan berlimpah, tetapi kita tidak mengenal, siapa diri kita? Untuk apa nama besar dan jabatan tinggi, tetapi kita hidup dalam kelekatan dan penderitaan? Untuk apa memiliki kecerdasan tinggi, tetapi terjebak terus dalam kecemasan dan kesepian? Saya harap, kita mulai tergerak untuk melakukan tugas utama kita di dalam hidup, yakni menyadari kembali jati diri sejati kita sebagai manusia.

 

Penulis adalah Reza Alexander Antonius Wattimena. Pengajar di Fakultas Filsafat UNIKA Widya Mandala, Surabaya. Bidang penelitian Filsafat Politik, Filsafat Ilmu Pengetahuan dan Filsafat Timur. Penulis lepas di berbagai media. Kini sedang melakukan penelitian Filsafat Politik di München, Jerman

Pemilik rumahfilsafat.com

Silahkan baca yang lain...

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

No comments yet.

Post a comment

Related Post