Refleksi

Bintang Timur – Adven III

Di manakah Dia, raja orang Yahudi yang baru dilahirkan itu? Kami telah melihat bintang-Nya di Timur dan kami datang untuk menyembah Dia.” (Matius 2:2)

“Wah, engkau sudah jatuh dari langit, hai Bintang Timur,  putera Fajar, engkau sudah dipecahkan dan jatuh ke bumi, hai yang mengalahkan bangsa-bangsa!” (Yesaya 14:12)

“Setelah mendengar kata-kata raja itu, berangkatlah mereka. Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.” (Matius 2:9)

Ingat, di malam yang cerah langit selalu penuh bintang-bintang

Tidak ada yang aneh dengan pengalaman orang yang melihat bintang di malam hari. Saat langit cerah, bintang-bintang bertebaran baik di Timur, barat, Utara, Selatan dan seluruh penjuru mata angin sejauh mata melihat. Tidak aneh juga, jika sejak dahulu kala orang menggunakan bintang sebagai penunjuk arah tertentu, pengetahuan ini dimiliki oleh seluruh budaya peradaban. Matahari, Bulan, atau Bintang-bintang selalu menjadi bagian penting bagi tiap tradisi-seni-budaya dan agama dalam memaknai peristiwa-peristiwa hidup.

Pendek kata, Bintang Timur adalah penamaan untuk menegaskan hal di atas itu. Dia tidak menunjukkan intervensi illahi seakan ada bintang istimewa yang bisa berjalan mengiring perjalanan orang. Dia tidak menunjuk langsung akan adanya orang istimewa yang entah sedang lahir, sedang mati, sedang berpikir atau bergumul tentang makna kehidupan. Bintang-bintang itu ada di sana, entah di Timur atau di Barat, entah apapun yang terjadi di dunia, entah ada orang sedang lahir atau tidak. Dia ada disana, siap dimaknai dan dihubungkan dengan apapun kisah hidup manusia; entah baik atau buruk.

Yesus dan Soekarno

Sebuah kebetulan yang istimewa jika kehadiran Bintang Timur itu digambarkan sejajar dengan Putera Fajar. Jika Yesus dibaca dengan puisi alam dan memberi gambaran tentang Bintang Timur, tak berlebihan jika kehadiranNya adalah sebagaimana makna kehadiran Soekarno sang Putra Fajar yang telah menerbitkan matahari baru bagi sebuah bangsa.

Keindahan bintang, mungkin karena kadang ada yang nampak lebih terang dari yang lain, telah menjadi bahasa puisi, bahasa liturgi, dan bahasa agama (dengan latar belakang Yahudi) yang sangat menolong mereka saat itu untuk membangun penghayatan terhadap Yesus. Demikianlah Soekarno Sang Putra Fajar juga telah menjadi bahasa nasionalisme, bahasa keagungan sejarah, bahasa harapan bagi bangsa Indonesia.

Jadi kayaknya kok terlalu berlebihan jika adanya Bintang Timur itu lantas dianggap sebagai bintang ajaib yang khusus ada hanya untuk peristiwa kelahiran Yesus, dan kemudian digambarkan berjalan-jalan menerangi dan menuntun rute perjalanan “para pencari” sebagaimana sebuah kisah nyata yang historis yang menunjukkan kemahakuasaan-keilahian Yesus.

Benar, kalau bintang-bintang di langit itu memang ada sejak dari jaman purbakala, dan tetap ada juga sekarang, mungkin berkurang atau bertambah jumlahnya tergantung perkembangan kemampuan ilmu pengetahuan manusia yang terbatas. Mungkin benar ketika Yesus lahir itu terjadi malam hari ketika ada bintang-bintang. Tapi bukan itu intinya. Itu semua adalah – sekali lagi bahasa puisi, bahasa liturgis, bahasa tradisi agama – yang digunakan untuk menggambarkan penghormatan dan penghargaan pada seseorang yang bernama Yesus.

Hargai Pesannya, rasakan keindahan bahasanya

Thema bintang dan gambaran malam kelahiran memang amatlah romantis dan sangat mudah membawa orang pada perasaan yang dalam akan pentingnya melihat sebuah peristiwa dalam bingkai yang lebih luas, bahkan seluas kosmos. Penghargaan dan semangat kecintaan pada orang bernama Yesus itulah yang bisa menghadirkan keindahan kehadiran Bintang Timur, bukan sebaliknya. Kekaguman akan gerakan yang dimulai dari suatu situasi kelam dengan adanya titik terang harapan yang terus dipelihara itulah sejarah asli munculnya kisah tentang Bintang Timur.

Jadi sebelum terlanjur sibuk mengkapitalisasi keindahan Bintang Timur yang membuat kita tergoda untuk merasa kurang penghayatan jika tidak membeli atau mengkonsumsi segala macam produk yang berasal daripadanya (souvenir, baju-baju, hiasan-hiasan, dsb), nampaknya kita perlu untuk mundur ke belakang membangun penghargaan dan penghormatan pada seorang anak bernama Yesus terlebih dahulu, baru kemudian kisah Bintang Timur itu dapat menaburi penghargaan kita dengan keindahan.

Dan kalau sempat, mungkin akan lebih menarik dan bermanfaat jika kita memanfaatkan bahasa seni-tradisi-budaya-religiusitas kita sendiri sebagai orang-orang Indonesia dalam menunjukkan penghargaan dan penghormatan kita pada hari kelahiran orang yang kita yakini telah memberi arti besar bagi hidup kita, bagi dunia ini.

Karena memang Bintang yang telah menjadi sekedar merk itu menyenangkan dan memabukkan, namun itu sama sekali tidak akan pernah bisa menggantikan keindahan dan ketulusan pesan kosmis bintang-bintang di langit yang selalu setia menjadi saksi dan menemani seluruh peristiwa hidup manusia.

 

oleh Kristanto Budiprabowo, pegiat perdamaian yang tinggal di Malang

Discussion

No comments yet.

Post a comment