Keadilan Agraria

Retrospeksi Perjuangan Agraria Di Bujuk Agung

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print
Pdt. Karel Eka Putra Barus

Pdt. Karel Eka Putra Barus

Perkenankan saya menyampaikan ingatan masa lalu saya atas perjuangan Pdt. Sugianto dan teman-teman petani di Bujuk Agung yang bergabung dalam STKGB.

STKGB adalah Serikat Tani Korban Gusuran PT. BNIL.

Siapakah saya? Saya seorang Pendeta GKSBS yang melayani di GKSBS Pugungraharjo. Nama saya Karel Eka Putra Barus. Singkat saja, Karel Barus. Saya yang menganggap Pdt. Sugianto adalah salah satu guru saya dan Petani Bujuk Agung sebagai sahabat saya.

Saya yang pernah tinggal beberapa saat bersama Pdt. Sugianto dan Petani-petani yang ada di Bujuk Agung untuk melihat dan mendengar bagaimana kehidupan masyarakat dan bagaimana perjuangan atas hak-hak mereka. Sederhana sekali tujuan saya yaitu ingin belajar dari sang guru dan sahabat petani. Syukurlah saya tidak di tangkap.

Ingatan masa lalu saya atas Sahabat dan salah satu guru saya itu :

Masyarakat yang bergabung dalam STKGB adalah sekolompok kecil masyarakat yang memperjuangkan keadilan agraria di negeri ini. Ada banyak kelompok lain yang berjuang di negeri Indonesia ini. Mereka hanya salah satunya. Masyarakat yang memperjuangkan hak mereka itu adalah masyarakat yang sudah berulang kali berjuang namun selalu GAGAL. Kenapa? Saya tidak mau tahu dan mau menyalahkan perjuangan mereka. Tapi yang saya tahu karena lawannya adalah perusahaan besar di Lampung yaitu PT. BNIL dan mungkin dengan pihak-pihak lainnya… yang sangat sulit berlaku adil. Maaf itu refleksi saya.

Pak Sugianto itu diakui di GKSBS Sumber Hadi sebagai Pendeta. Ia juga punya kecintaan yang dalam terhadap GKSBS meskipun kadang cintanya di tolak. Entah mengapa?

Guru saya itu CINTA juga dengan keadilan. Maka ia akan sangat marah bila ada kekuasaan yang dipakai untuk melanggengkan ketidakadilan. Bagi dia, salah satu tugas gereja yaitu menegakkan keadilan. Sehingga dengan jerih ia juga mau mendampingi masyarakat yang memperjuangkan keadilan agraria di Bujuk Agung. Sayangnya itu versi saya.

Kalau versi orang yang tidak senang dengan perjuangannya bersama masyarakat tentu akan menyebutnya PROVOKATOR, AKTOR KERUSUHAN, PENJAHAT, ORANG BERDOSA, ORANG YANG TIDAK PEDULI DENGAN KELUARGA, dan masih banyak lagi yang kemudian mengotori belas kasihan.

Tapi jujur… ia juga keras kepala dan kadang bicara seenaknya saja. Ya, itulah dia.

Perjuangan yang dilakukannya bersama petani adalah perjuangan Non Violence Movement. Berjuang harus tanpa kekerasan. Saya sebagai pembelajar Peace Building selalu mempercakapkan itu dengan  Pak Gie (Pdt. Sugianto). Bahwa perjuangan keadilan harus berdampingan dengan perdamaian dan nir kekerasan. Ia setuju dengan itu. Dan memang saya tahu bahwa ia sangat menekankan kepada masyarakat di Bujuk  Agung agar tidak ANARKIS dalam perjuangan mereka. Lalu mengapa kok pakai bakar motor segala?

Pak Gie bukan dalangnya. Masyarakat sengaja disulut amarahnya oleh PAM SWAKARSA PT. BNIL. Yang akhirnya berimbas pada kerusuhan. Ini versi saya yang tidak membaca koran atau mendengar berita tetapi mendengar masyarakat Bujuk Agung. Jadi tangkap jugalah para pihak yang menyulut kemarahan masyarakat pada waktu itu. Syukur kalau bisa menangkap yang membayar mereka.

Demikian retrospeksi saya.

Salam kasih,

Pdt. Karel Barus.

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

No comments yet.

Post a comment