Kabar Sinode

RABU ABU – Memasuki Masa Pra Paskah

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

diambil dari google

Dimana atau dalam peristiwa apakah kalimat sebab engkau debu, dan akan kembali menjadi debu biasa terdengar? (jeda sejenak). Ya, kalimat sebab engkau debu dan akan kembali menjadi debu adalah bagian dari liturgi pemakaman yang biasa diucapkan pemimpin ibadah sambil menjatuhkan tanah ke dalam makam, sebelum makam ditutup. Momen yang sering diiringi tangisan kedukacitaan.
Debu, dalam bahasa Ibrani avaq atau afar dan sering disejajarkan dengan efer yang berarti abu. Debu dan abu sering dihubungkan dengan situasi perkabungan dan penyesalan (misalnya nabi Yunus, raja Daud, Ayub, dan lainnya). Perkabungan dalam debu dan abu ini juga sering disertai perendahan diri dan puasa, baik secara pribadi maupun komunal (umat/bangsa).
Dalam Kejadian 3:19b, Debu dan abu juga merupakan sebuah penegasan terhadap rendahnya kedudukan manusia. Kalimat sebab engkau debu dan akan kembali menjadi debu diucapkan langsung oleh Allah kepada Adam dan Hawa setelah mereka jatuh ke dalam dosa, sebagai kalimat penutup atas akibat-akibat dosa yang harus mereka tanggung. Imago Dei atau citra Allah dalam diri manusia telah dirusak oleh dosa (Kejadian 3).

Sejak 2004, setiap tahunnya GKSBS menjalani masa Pra-paskah, Paskah, dan Pentakosta dalam bentuk Aksi Puasa Paskah dan Pentakosta. Perayaan gerejawi ini disatu sisi dapat terus melestarikan dan menumbuhkan iman melalui penghayatan dan perayaan karya keselamatan Allah. Namun disisi lain, perayaan yang menjadi rutinitas ini dapat mengaburkan nilai penghayatan umat. Ibarat menonton film yang sudah diketahui akhir ceritanya, sehingga sukacita diakhir cerita tidak dapat dirasakan.
Mengawali MPPP dengan menarik diri ke titik awal penciptaan, kiranya membawa kita dalam sebuah kesadaran spiritual untuk secara jujur dan besar hati melihat dan mengakui kelemahan-kelemahan dan dosa kita sebagai manusia debu, sehingga karya penyelamatan Allah dalam diri Yesus Kristus akan sungguh-sungguh menjadi garis Finish yang membaharui kita. Sebagaimana pemaparan Rasul Paulus kepada jemaat di kota Korintus dalam I Korintus 15: 45-49, yang menggambarkan tubuh manusia yang fana sebagai manusia debu yang diwarisi dari Adam, dan tubuh rohani yang akan dikenakan pada kebangkitan sebagai gambaran manusia sorgawi sebagai buah karya penyelamatan Allah dalam kematian dan kebangkitan Kristus.
Dalam MPPP tahun 2017 ini, GKSBS diajak untuk berefleksi diri dalam tema Keutuhan Ciptaan untuk Sumbagsel. Tema ini lahir dari kesadaran kritis akan krisis multidimensi yang semakin gencar melanda dunia sebagai akibat retaknya keharmonisan manusia dengan sesama ciptaan. Maraknya pembalakan liar dan pembakaran hutan, ketergantungan petani terhadap pupuk kimia, pestisida, dan obat-obatan kimia, pengelolaan sampah di perkotaan, ketidakadilan sosial maupun agraria, suburnya nilai konsumtif dan individualisme serta berbagai situasi nyata yang terjadi di Sumbagsel merupakan realita rusaknya keutuhan ciptaan.

Memasuki Rabu Abu dalam kesadaran sebagai manusia debu kiranya membawa kita dalam kesadaran spiritual bahwa sebagai bagian dari ekosistem (jaring kehidupan), kita telah mengambil bagian secara langsung maupun tidak langsung, terhadap retaknya keutuhan ciptaan. Pencemaran tanah, air dan udara, maupun pola hidup yang mengabaikan keharmonisan dengan alam dan sesama, telah menjadi sumbangan kita terhadap rusaknya keutuhan ciptaan bukan hanya di Sumbagsel, namun juga bagi bumi tercinta. Global warming atau pemanasan global merupakan salah satu akibat dari rangkaian keserakahan manusia, yang kemudian dituai kembali dengan terjadinya bencana demi bencana maupun berbagai wabah penyakit.
Kesadaran spiritual ini kiranya melahirkan sebuah penyesalan mendalam dan perkabungan akan kegagalan kita sebagai manusia debu dalam menjaga keutuhan ciptaan. Namun, ini bukan akhir cerita, melainkan awal sebuah kisah yang akan kita gali, gumuli, dan refleksikan bersama disepanjang MPPP 2017 ini. Kesadaran diri sebagai manusia debu merupakan langkah awal untuk membuka diri dan terus menerus memberi diri diperbaharui dalam komitmen demi komitmen untuk mengambil bagian aktif dalam memperjuangkan keutuhan ciptaan di Sumbagsel yang akan ditemukan disepanjang MPPP ini.
Selamat memasuki MPPP 2017 sebagai manusia debu. Amin

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

No comments yet.

Post a comment