Artikel

Bank Sampah – Menabung Sampah

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

salah satu timbunan sampah yang tidak dipilah

Hari Rabu ini saya mau ikut menjadi anggota sebuah bank di Metro. Bukan di bank yang biasa untuk menabung uang tetapi saya mau ikut menjadi anggota di bank sampah. Saya mau menabung sampah.

Di Indonesia, sampah sudah menjadi masalah besar. Ada banyak sampah dibuang begitu saja di sembarang tempat, dibakar atau ditimbun. Menurut BPS, pada tahun 2004 situasinya seperti berikut:

  • 41,28% sampah diangkut petugas (sebagian dijual, sebagian dibawa ke TPA, sebagian dibawa ke TPA yang illegal)
  • 35,59% dibakar
  • 14,01% lainnya (dibuang ke sungai, jalan, taman, dan sebagainya)
  • 7,97% ditimbun
  • 1,15% diolah (menjadi kompos)

Dari Metro Ke Pugungraharjo

Waktu saya baru tinggal di Indonesia, lima tahun yang, saya selalu membuang sampah dengan perasaan sakit hati. Mengapa? Karena sampah di Metro tidak dipilah. Tapi lama-kelamaan sakitnya hilang dan saya pun akhirnya melakukan seperti yang orang Indonesia juga lakukan: membuang semua macam sampah pada satu tempat. Di Perumahan tempat saya tinggal, sampah sekali seminggu diangkut oleh petugas yang dibayar oleh RT kami (iuran warga kompleks).

Hingga pada saat saya pindah ke Pugungraharjo di mana tidak ada petugas, situasinya menjadi lain. Karena di Pugungraharjo tidak ada petugas sampah. Kemudian  saya tanya suami saya: ‘Kita membuang sampah di mana?’ Lalu suami menjawab: ‘Sampahdibakar di sini’, Setelah beberapa waktu saya mengusulkan untuk memilah sampah organik, anorganik dan kaca. Sisanya ada yang dibakar dan ada yang diantarke TPA.

Setelah empat bulan di Belanda (Agustus-November 2016), negara yang saya sebut sebagai ‘kerajaan pemilahan sampah’, maka rasa sakit itu muncul lagi. Sejak itu, saya menyadari bahwa saya harus merubah kebiasaan saya soal sampah dan saya mencari di internet dengan kata kunci ‘sampah’ dan ‘Metro’. Karena siapa tahu ada alternatif di kota soal sampah, pikir saya. Dan saya sudah menemukan salah satu solusi: Bank Sampah!

Bank Sampah

Saat rapat tentang program Ekologi di sinode GKSBS, saya mengusulkan kepada teman-teman untuk melihat salah satu bank sampah yang ada di Metro. Dan mereka setuju. Kami membuat janjian dengan salah satu relawan dan pergi ke Bank Sampah ‘Cangkir Hijau’.

Kunjungan Tim Ekologi GKSBS ke Bank Sampah CANGKIR HIJAU di Metro

Sistem bank sampah di Cangkir Hijau seperti berikut:

Sampah yang dibawa ke sana akan dipilah sesuai jenisnya. Dan ternyata untuk sampah plastik sudah banyak jenisnya. Kemudian sampah ditimbang, dan sesuai harga kiloan akan dicatat dalam buku tabungan atau langsung bisa ditukar dengan voucher pulsa, pijat refleksi, dll. Uang dari buku tabungan boleh diambil setelah satu bulan. Bank sampah ini belum menerima sampah organik.

Jika berminat bisa melihat mekanisme bank sampah pada tautan youtube berikut ini:

https://www.youtube.com/watch?v=alKak3f9a_U
https://www.youtube.com/watch?v=WWQ3tgp6Aik
https://www.youtube.com/watch?v=B8iiQfcrYfI

Sejak satu bulan yang lalu, di rumah kami bertekad untuk menerapkan pemilahan sampah. Tidak hanya memilah sampah organik dan kaca, tetapi juga kertas dan plastik. Sampah yang tidak masuk jenis ini kami antar ke TPA di Pugungraharjo. Dan hari Rabu besok saya akan mengantar sampah kami ke bank sampah ‘CangkirHijau’ di Metro.

Jujur saja, ini cukup merepotkan. Saya sudah pernah membawa mobil saya penuh dengan sampah ke Metro, tetapi ternyata bank sampahnya tidak buka hari itu. Bank sampah ini sendiri juga sangat bergumul dengan kontinuitas mereka, dengan komitmen dari relawan-relawan yang ada di bank sampah. Hampir semua relawan adalah mahasiswa yang menempuh pendidikan di Kota Metro. Dalam dua tahun mereka hanya mendapat kurang lebih 50 nasabah saja. Tidak mudah memang untuk menyemangati orang agar ikut menjadi anggota di bank sampah. Sekarang ini mereka hanya buka pada hariRabu saja.

Gila

Minggu yang lalu, Pdt. Riyadi Basuki dan saya mengadakan pertemuan Steering Committee di Jakarta untuk membuat modul Keterampilan Advokasi Ekologi dan modul Keterampilan Hidup Ramah Lingkungan. Dalam kegiatan penyusunan modul ini, kami antara lain mengudang Ibu Yeni Mulyani Hidayat. Dia adalah direktur sebuah bank sampah. Namanya adalah Bank Sampah My Darling (Masyarakat Kesadaran Lingkungan). Dia memiliki motivasi yang sangat kuat untuk memberi kesadaran masyarakat untuk Re-use (memakai ulang) dan Reduce (mengurangi) dan khususnya untuk Recycle (mendaur ulang). Dari sampah yang didaur ulang ini Ibu Yeni berhasil memanfaatkan koran bekas untuk membuat kotak tisu, wadah, tas, dll. Dari plastik kresek dia bisa membuat tas, aksesoris, dll. Dia membuat seni dari sampah dan itu cukup menghasilkan.

Ibu Yuni dengan hasil kerajinan daur ulang sampah di bank sampah My Darling

Tetapi menurut cerita beliau, dia merasa sendirian dalam perjuangannya ini. Pada awal motivasinya untuk mendapat uang, tetapi sekarang motivasinya adalah untuk tetap menjaga lingkungan yang bersih. Namun teman-temannya lama kelamaan meninggalkan Ibu Yeni karena menganggap dia sudah tak waras lagi. Bisa dibaca di link berikut ini : http://www.otonomi.co.id/orbit/dianggap-gila-karena-sampah-karya-wanita-cianjur-go-internasional-170308l.html
dan (http://www.rri.co.id/post/berita/370314/ruang_publik/butuh_orang_gila_untuk_mendirikan_bank_sampah.html

 

Saya sudah menjadi cukup gila untuk ikut menjadi anggota di sebuah bank sampah di Metro. Dan saya berharap setidaknya Yabima dan Sinode GKSBS juga mau ikut untuk membangun kesadaran ekologis dalam hal yang konkrit seperti mengelola sampah.

Sekarang ini tinggal saya mencari teman yang gila juga untuk mendirikan bank sampah di Pugungraharjo. Ini semangat saya. Mohon doa dan semangat dari bapak/ibu/saudara sekalian.

‘Tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya, dan dunia serta yang diam di dalamnya’ (Mazmur 24:1).

***

 

Ditulis oleh Pdt. Henriette Nieuwenhuis dan mengalami editing seperlunya oleh admin.

 

 

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

Trackbacks/Pingbacks

  1. […] untuk bank sampah lihat Artikel 14 Maret 2017 ini. […]

Post a comment