Diakonia

Persahabatan Menghasilkan Wawasan dan Visi Baru (Kesaksian dari Belanda)

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Dalam sebuah persahabatan pasti akan ada interaksi yang saling member inspirasi satu dengan yang lainnya. Demikian halnya juga persahabatan antar jemaat GKSBS dan Protestance Kerk of Netherland (PKN). Dalam program Church to Church and Community Program antara GKSBS dan PKN, ada beberapa jemaat di kedua sinode ini menyediakan diri untuk saling bercerita dan berbagi semangat. Salah satunya adalah persahabatan jemaat GKSBS Bukit Sion dengan PKN jemaat Zoetermeer.

Berikut ini adalah sebuah kesan yang diceritakan oleh Bapak Jan Buurma, salah satu jemaat gereja Zoetermeer yang pernah berkunjung ke GKSBS dan Yabima Indonesia.  Beliau sangat terinspirasi oleh cerita-cerita GKSBS dalam upaya menanamkan konsep-konsep diakonia transformative, rumah bersama sampai pada tema “berapa banyak roti yang ada padamu?”

Berikut ini email beliau yang dikirim dan diterjemahkan oleh Pdt. Henriette Nieuwehuis.

 

Kesaksian dari Belanda

Tentang relasi antara GKSBS dan Protestantse Kerk di Belanda

ketika berkunjung di GKSBS Bukit Sion

Beberapa minggu yang lalu saya mendapat email yang sangat menarik. Email ini ditutup dengan: “Tolong sampaikan informasi ini kepada kawan-kawan GKSBS”.

Emailnya berasal dari bapak Jan Buurma. Dia adalah salah satu warga jemaat dari gereja di Zoetermeer. Jemaat ini sudah lima tahun berelasi dengan GKSBS Bukit Sion. Pak Jan dalam rangka persahabatan ini juga sudah pernah mengunjungi GKSBS dan Yabima Indonesia beberapa tahun yang lalu dengan opa dan oma yang lain. Demikian informasi dari pak Jan. Semoga menjadi semangat untuk GKSBS:

 

“Kurang lebih lima tahun yang lalu jemaat kami mulai mendukung pekerjaan pdt. Henriëtte di Sumatera Bagian Selatan. Pokok yang paling berharga saya dapat dari GKSBS adalah visi diakonia mereka. Mereka menjelaskan tentang macam-macam diakonia, yaitu dari diakonia karitatif sampai diakonia reformatif. Intinya dari penjelasan ini buat saya menjadi: kita sebaiknya berhenti dengan “harus” (melelahkan buat semua orang) dan mulai dengan “bisa” (membangun pada karya dan talenta yang semua orang sudah terima).

Beberapa bulan yang lalu ada “pertemuan jemaat” di Zoetermeer. Tema yang kami bahas merupakan jemaat yang hidup dilatarbelakangi dengan jemaat yang semakin lansia. Dalam pekerjaan saya (penilitian agraria ekonomis) saya belajar bahwa akan sangat menolong untuk bertanya: “Apa yang terjadi di sekitar saya?” Kalau pertanyaan ini ditanyakan dalam konteks gereja kami bisa dikatakan: “Kami semakin sedikit! Mari kami mundur diri!” Malam itu saya ingatkan visi diakonia GKSBS dan berapa banyak roti ada kepadamu. Jadi bisa dikatakan: juga di Zoetermeer Roh Allah masih berbunyi! Visi ini semakin memenuhi hati saya dan orang lain. Mulai dari situ kami sebagai jemaat bisa melihat di sekitar kami. Melihat “Rumah bersama”. Di manakah ada tanda-tanda penuh harapan? Bagaimana tanda-tanda ini bisa dikaitkan dengan gerakan kami? Sebelum “pertemuan jemaat” ditutupi ada perubahan kecil dibuat dalam renstra jemaat kami. Dalam satu kalimat “kehendak Allah” diubah menjadi “Roh Allah”. Dalam kalimat ini terjadi perubahan yang besar dari “harus” ke “bisa”.

Ini salah satu cara bagaimana visi GKSBS melalui Kerk in Actie masih menginspirasi dan menyemangati jemaat di Zoetermeer. Kami perlu mengingatkan terus bahwa belajar dari gereja luar negri bisa menghasilkan wawasan dan visi baru.

Sampai bertemu lagi,

Jan Buurma

Silahkan baca yang lain...

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

No comments yet.

Post a comment

Related Post