Artikel

Manusia Menjadi Tuhan

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Laporan Simposium Global Humanity and Spirituality in the face of the Fourth Industrial Revolution, Andong, Korea, 19-23 November 2017

pic from google

  • Pengantar

Kisah kejatuhan Adam dan Hawa menjadi serial berkelanjutan dalam perjalanan bumi ini saat mereka ingin menjadi seperti Tuhan. Belum diketahui apakah Hitler terinspirasi juga dari kisah mereka sehingga ia menginginkan ras aria termurni di Jerman . Sehingga cerita Holocaust menjadi pengingat tiada henti dan terus terulang dalam bentuk lain di kisah kemanusiaan.

Dunia saat ini dalam perjalanannya di era Revolusi Industri 4.0.  Sejarah mencatat kalau setiap kisah revolusi industri membawa masyarakat manusia sebuah perubahan radikal di bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Namun konon katanya revolusi keempat ini akan memberikan dampak berbeda dari 3 revolusi sebelumnya. Belum juga kita kaget dari apa yang diakibatkan revolusi ke 3, dunia sudah memasuki revolusi keempat saat ini.

Klaus Schwab, pendiri dan Ketua Eksekutif World Economic Forum mengatakan “ revolusi keempat dibangun dengan revolusi digital dan mengkombinasikan berbagai teknologi yang akan membawa perubahan paradigma yang tidak bisa diperkirakan di bidang ekonomi, bisnis, masyarakat dan individu. Bukan saja mengubah “apa” dan “bagaimana melakukan sesuatu” tapi juga merubah “siapa” kita sebagai manusia.

Teknologi sendiri dibangun oleh manusia namun di era 4.0, teknologilah yang akan mengontrol manusia, seperti sudah terlihat di kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang dikembangkan saat ini. Bukan saja hidup manusia, tapi juga psikologi dan spiritualitas manusia akan dikuasai. Jaman dimana manusia akan dikontrol oleh mesin sudah tiba. Bagaimana hidup manusia akan terlihat di era ini? Apa artinya bagi manusia? Bagaimana dengan kemanusiaan manusia? Di mana dan bagaimana peran dan fungsi kemanusiaan manusia? Bagaimana kita bisa menjalani hidup tersebut, yang akan berbeda dengan hidup yang sedang dihidupi saat ini? Ini adalah hal mendasar yang menjadi tantangan eksistensial manusia saat ini.

Beberapa pertanyaan diatas menjadi diskusi dalam simposium yang didukung oleh Walikota Andong. Kota Andong dengan penduduk sekitar 160.000 orang memiliki sejarah budaya yang berkembang dari budaya rakyat (folk culture), Budisme dan Konfusianisme sampai kekristenan saat ini. Andong adalah mekkah – nya Budisme, yang memainkan peran penting dalam sejarah budaya dan spiritualitas Korea. Semangat dan gaya hidup kaum aristokrat yang menghormati keadilan dan sikap baik dengan integritas terus terang dan menikmati belajar, musik dan dansa.

Andong memiliki nilai-nilai budaya yang tidak bias karena kepemilikan agama dan budaya yang tidak fokus pada titik tertentu di dalam sejarah. Andong dikenal sebagai asalnya “Seongju Faith” yang berarti Tuhan dari Rumah Tuhan untuk melindungi rumah dan keluarga. Di Andong, terdapat Kuil Bongjeongsa, kuil asli dari Hwaeom School yang menyediakan dasar kitab suci dari Zen Budisme Cina.

Peserta simposium ini adalah teolog dan kaum awam dari Afrika Selatan, Kuba, Amerika Serikat, Jerman, Indonesia, India, Tanzania, Jamaika, Gambia dan Korea yang diadakan di Gyeongan Teological Graduate University, Kota Andong, Korea Selatan.

  • Dampak era 4.0 pada Kemanusiaan dan Spiritualitas

Perjalanan manusia dan mesin dari tahun 1700 dengan diperkenalkan sistim mekanisasi sampai jaman kontemporer dengan system siber mendatangkan dampak yang signifikan bagi kemajuan manusia melalui pengetahuan dan akusisi kekayaan. Namun semua pembangunan ini telah terstruktur dan terimplementasi dengan menguntungkan pemilik modal dan kelompok minoritas dari penderitaan golongan mayoritas di bumi ini. Beberapa bagian kemanusiaan secara konsisten terbudakkan dan komodifikasi untuk menyediakan angkatan kerja yang murah, besar dan tergantikan di setiap era revolusi industri untuk memperkaya kaum the haves.  Sehingga dengan semua janji menguntungkan dari era 4.0, manusia mesti mempertanyakan secara kritis : siapa yang berada di belakang agenda 4.0? kepentingan siapa yang dilayani? Bagian kemanusiaan mana yang akan dikorbankan guna mencapai tujuan jaman kecerdasan buatan?

Revolusi industri 4.0 menggabungkan fisik, teknologi, digital dan keuntungan biologis dalam sebuah system yang akan merubah manusia. Tubuh dan otak manusia akan ditanamkan implant dan chip – yang akan membuat beberapa manusia hidup lebih lama – 150 atau 200 tahun namun beberapa manusia akan meninggal lebih cepat.  Makna manusia akan didefinisikan ulang dan siapa saja yang akan disebut “manusia”. Bahkan ada yang mengharapkan agar manusia menjadi “tuhan” yang memainkan peran sebagai pencipta hidup.

Menurut penelitian yang terbaru, Revolusi Industri ke 4 membuat 47% kerja manusia akan diganti oleh mesin dan lebih dari 7 juta pekerjaan akan hilang. Studi tahun 2013 berjudul “The future of employment: How susceptible are jobs to computerization?” yang dilakukan dua akademisi Universitas Oxford : Carl Benedikt Frey dan Michael A. Osborne memperkirakan 47% pekerjaan di Amerika akan dikerjakan secara otomatis pada dua decade ke depan. Di Afrika, 85% kerja di Etiopia dan lebih dari setengahdi Angola, Mauritius, Afrika Selatan dan Nigeria akan diambil alih oleh mesin. Afrika Selatan yang akan merasakan dampak mendalam karena merupakan salah satu Negara dengan tingkat penggangguran yang cukup tinggi. Oxfam melaporkan hanya 8 orang memiliki kekayaan USD 426 milyar, sejajar dengan kekayaan 3.6 milyar orang.

Di banyak negara, pemerintah-pemerintah tidak mampu mengantisipasi bahkan “menguasai” perkembangan era ini. Pemerintah lebih banyak terperangkap dalam kemajuan perusahaan. Legislator dan para pembuat kebijakan ditantang untuk bisa menangkap dan mengatur kemajuan yang sedang terjadi ini dimana orang bisa saja mengelak atau menghindari hukum untuk membayar pajak dan sebagainya. Pada sisi yang lain, pemerintah juga akan memperoleh teknologi baru untuk mengontrol populasi dengan sistem pantauan melekat dan kemampuan mengontrol atau membuat aturan infrastruktur digital. Sehingga demokrasi menjadi terancam. Revolusi 4.0 akan berdampak pada keamanan nasional dan internasional dengan peluang konflik yang meningkat.

  • Kemanusiaan dan Spiritualitas dalam menghadapi Revolusi Industri Keempat

Semua janji kemajuan manusia dalam Revolusi Industri Keempat harus dianggap sebagai tersangka karena mereka yang mengendalikan pelaksanaannya melakukannya bukan untuk kemajuan altruistik namun untuk memaksimalkan keuntungan mereka. Gereja tidak dapat bersikap netral, pasif atau tidak berbuat apa-apa hanya dengan menerima klaim perubahan teknologi yang tak terelakkan yang akan memperbaiki kehidupan manusia, tanpa memeriksa bagaimana, kapan, di mana, dan juga kemungkinan konsekuensi etis dan moral bagi manusia dan lingkungan Hidup. Persiapan untuk keterlibatan teologis yang aktif mengharuskan mendalilkan cara hidup yang menegaskan bahwa manusia dapat mengatasi tantangan dan peluang revolusi industri keempat untuk memfasilitasi “kepenuhan hidup” demi “kebaikan bersama” bagi semua orang.

 

Walter Wink (2014: 102) menyatakan “manusia hanya homo sapiens saja, hanya Tuhan yang sepenuhnya manusia”.Filsafat Konfusianisme mengingatkan kita bahwa tidak peduli berapa banyak pengetahuan yang didapat seseorang, hal itu tidak membuat dia lebih manusiawi – Kecuali otaknya sepenuhnya terintegrasi dengan pikiran, kemanusiaan seseorang sangat berkurang. Pikiran adalah pusat dimana fisik terhubung dengan spiritual karena pikiran berdiri melebihi dan di atas fisik (apa yang kita sebut semangat / jiwa / kesadaran). Kecerdasan buatan dan teknologi siber memberikan akumulasi pengetahuan, kecerdasan, tapi apa yang membuat manusia menjadi manusia sepenuhnya adalah keterkaitan tubuh dengan pikiran / jiwa. Menurut kitab Kejadian (2), ‘Adamah, makhluk bumi (Pria dan Wanita), menjadi manusia sepenuhnya saat Tuhan memberi mereka nafas kehidupan. Oleh karena itu, manusia atau manusia memiliki perbedaan kualitatif yang khas, yaitu dengan Roh kehidupan (keterkaitan dengan Tuhan), ‘jiwa yang hidup’ yang menghubungkan kita secara intim dengan Pencipta Tertinggi, Pencipta, Manusia Tertinggi, yang menjelaskan inkarnasi Yesus (Tuhan menjadi manusia).

Pencarian kemanusiaan adalah mencari makna dan tujuan yang lebih dalam untuk menghadapi kenyataan secara kreatif. Kehidupan spiritualitas menantang kita untuk berjuang untuk memahami apa yang sedang terjadi di dunia sekitar kita. Hidup di dalam Roh ini memberi prioritas untuk mengetahui bagaimana bertindak dengan benar. Oleh karena itu, “Semangat Hidup”, “kebersamaan menuju kehidupan”, kepenuhan hidup berusaha untuk menjadi dan bertindak dengan bijaksana daripada memberi penekanan semata-mata pada perolehan pengetahuan.  Kehidupan Spiritual ini akan semakin menjadi lebih penting daripada pengetahuan dan keterampilan yang diakses melalui data. Oleh karena itu, pentingnya semangat penegasan, ‘kebijaksanaan roh’, kemampuan untuk ‘melihat’, mencari yang terbaik untuk kebaikan bersama. Oleh karena itu, penyadaran akan lebih penting di era ini, karena banyak orang memiliki banyak informasi dan, pada saat yang sama, dapat tidak mengetahui tentang kebijaksanaan dan keyakinan. Untuk konektivitas antar agama ini sangat membantu, misalnya Filsafat Konfusian mengajarkan disiplin untuk membedakan, tidak hanya untuk mengakses informasi.Disiplin spiritual dalam agama Kristen perlu ditemukan kembali untuk mengkritik bagaimana data massa dapat melayani orang sehingga mereka dapat mengalami kepenuhan hidup.Pendidikan harus lebih fokus pada akumulasi pengetahuan dan lebih pada etika penggunaan informasi

Nilai kemanusiaan secara tradisional terkait dengan martabat melalui kerja. Jika kecerdasan buatan akan semakin menggantikan tenaga kerja manusia (“keabadian tanpa tenaga kerja”), bagaimana manusia dapat mendefinisikan ulang nilai dan maknanya? Apa yang akan terjadi bila orang memiliki lebih banyak waktu senggang daripada kerja? Kita adalah rekan pencipta dengan Tuhan.Tantangan utama bagi institusi teologis dan komunitas religius: Pembacaan ulang Kitab Suci. Bagaimana Alkitab diterjemahkan untuk berbicara kepada realitas baru yang dibawah oleh Revolusi Industri ke-4?

  • Kemanusiaan dan Spiritualitas dari Pengetahuan Asli dan Perspektif Iman

Pengetahuan masyarakat adat dan tradisi keagamaan didasarkan pada hubungan, komunitas, dan bumi. Mereka berfokus pada hubungan yang benar antara semua makhluk di bumi: rumput, laut, langit, binatang, hewan berkaki dua atau alnabes, berbagi, kebijaksanaan, keadilan, dan koneksi ke tanah dan masyarakat.

Di Korea, satu spiritualitas masyarakat yang berakar kuat, yang berbasis pada hubungan dengan bumi, dikembangkan lebih jauh pada abad ke-19 oleh filsuf Korea, Kang Jung Jeung, yang pekerjaannya menanggapi kekerasan dan penindasan jangka panjang oleh raja. Pada tahun 1894, petani Korea memberontak, dan ribuan petani dibunuh oleh tentara raja. Kang Jung Jeung mencari jalan agar kedua kelompok dapat hidup bersama tanpa berkelahi. Heoon Sangsaeng adalah hasilnya. Dia bermaksud bahwa luka dalam kehidupan bersama Korea dapat disembuhkan melalui penghapusan dan keharmonisan. ‘Heoon’ adalah ‘delete’ dan ‘sangsaeng’ adalah ‘harmoni’. Baik raja maupun rakyat perlu menghapus amarah, pembunuhan, keserakahan, penindasan, kemiskinan, dan dehumanisasi. Seluruh orang perlu mengembangkan cara hidup bersama dalam masyarakat, selaras. Sangsaeng dan Heoong tetap menjadi bagian spiritualitas Korea, seperti yang dapat dilihat dalam perkembangan Teologi Minjung di tahun 1970an, yang menekankan Heoon dan Sangsaeng sebagai respons terhadap kediktatoran saat itu. Pada tahun 1990an, teologi Minjung beralih ke Sangsaeng – hidup bersama secara harmonis, mendengarkan penderitaan dan cerita rakyat.

Di Afrika, pengetahuan spiritual masyarakat adat adalah Ubuntu. Ubuntu – dewa kehidupan untuk semua ciptaan, termasuk berkaki dua, segala sesuatu dalam ciptaan. Ubuntu hidup dengan membangun hubungan yang benar, menghentikan pembunuhan, mencari keadilan. Mencari hanya hubungan hidup di keluarga, komunitas, diri, dan masyarakat. Perekonomian yang mengelilingi Ubuntu adalah ekonomi yang cukup, melimpah, bukan kelangkaan. Menuju pembangunan kehidupan bagi masyarakat, itulah yang menentukan hubungan yang benar. Tidak ada yang ‘dimiliki’ apapun dan semua orang dihargai.

Sangat sedikit yang sekarang hidup dengan pengetahuan spiritual itu, dengan iman kepada Tuhan kehidupan. Tuhan tradisional itu lenyap saat agama Kristen masuk ke negeri kita. Tuhan Afrika bisa menjadi pohon, gunung, matahari, semangat kedahsyatan dan ketakutan, bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kita. Sesuatu yang tidak bisa saya mengerti dan ada di sana. Apakah itu tuhan yang sama dengan tuhan Kristen? Ketika dewa lain diperkenalkan, dewa adat menjadi dewa itu. Bila Anda menganggap hal itu sebagai ‘memiliki’, itu adalah sebuah konsep baru. Ini adalah hadiah. Ekonomi kapitalis hadir dengan tuhan Kristen. Hal-hal yang hierarkis, individualisme, tiada akhir. Sebuah ekonomi persaingan bukan masyarakat, semakin banyak, mengkonsumsi, mengeksploitasi tidak melestarikan. Ambillah sebanyak yang kita dapat dari bumi, jangan menyimpannya. Di Ubuntu semua orang dihargai. Dalam nilai-nilai Kristen, manusia menjadi musuh kita, bukan pasangan hidup.

Baik Ubuntu dan Heoon Sangsaen memiliki spiritualitas kemanusiaan yang membantu membangun hubungan. Nilai dan warisan budaya manakah di Indonesia yang mampu menjaga kemanusiaan kita saat manusia akan menjadi tuhan? Apakah gereja Indonesia tertarik melakukan diskusi mengenai ini setidaknya membaca tanda-tanda jaman yang sedang berlangsung?

 

Dicatat oleh Carla Natan
Anggota GKI Kayu Putih
15 Desember 2016

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

No comments yet.

Post a comment