Kabar Sinode

SEMILOKA : Membangun GKSBS Tahan Bencana

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Selama 2 hari ini, yaitu tanggal 21-22 November 2018, GKSBS mengadakan seminar dan lokakarya tentang “Membengun Sistem GKSBS Tahan Bencana”. Seminar pada hari ini diisi oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Lampung. Hadir sebagai narasumber adalah AGP. Madiono selaku Kassubbid Pencegahan BPBD Provinsi Lampung dan juga Effendy Arsyad S.Sos selaku Kassubbid Kedaruratan BPBD Lampung.

Sesi dari BPBD Lampung ini rupanya sangat menarik, karena dari yang dijadwalkan selesai Pkl. 17.00 sampai diperpanjang hingga Pkl. 18.30 WIB. Bagi BPBD Lampung, ini adalah pertama kali mereka diundang oleh gereja untuk berdiskusi tentang penanggulangan dan manajemen bencana.

“kami sangat senang dengan GKSBS karena baru pertama kali inilah kami diundang oleh gereja dalam diskusi kebencanaan” tutur Effendy Arsyad, S.Sos. pun demikian juga dengan kesan AGP. Madiono yang juga menyarankan bahwa sebaiknya GKSBS membangun jejaring dengan BPBD Kota Metro. “ya.. sebaiknya memang didaftarkan ke BPBD agar GKSBS masuk dalam komunitas relawan yang bermitra dengan BPBD. Apalagi GKSBS ini sudah sering melakukan aksi dan respon bencana selama ini”.

Pada sesi mala mini akan dilanjutkan dengan bersama-sama mendengarkan sharing dari Pdt. Andro Gusti, Sekretaris Umum Gereja Protestan Indonesia Donggala (GPID). Seperti membangun jejaring lebih dekat lagi antara GKSBS dan GPID karena memang sebelumnya GKSBS telah mengirimkan relawan ke Palu, bergabung dengan berbagai stake holder, termasuk GPID. GKSBS mengirimkan 3 tim, yaitu tim assessment terdiri dari Pdt. Tulus Silitonga dan Dwi Setyo Harjanto, setelah 2 minggu di Palu disambung oleh tim kedua yaitu tim psikososial yang terdiri dari Pdt. Victor Ivan Kristiantoni, Pdt. Indro Tri Sugioto, dan Pdt. Longgar Purnomo. Kurang lebih 2 minggu juga berada di desa Simoro kecamatan Sigi, disambung lagi oleh Pdt. Erik Timoteus Purba yang berangkat ke Palu untuk membangun jejaring dengan berbagai pihak.

“Membangun system tahan bencana ini merupakan refleksi dan evaluasi GKSBS akan halnya gereja memberikan respon terhadap bencana. Bagaimana gereja tidak gagap lagi dalam menghadapi bencana. Terlebih lagi GKSBS berada dalam ring of fire di Indonesia ini. Mau tidak mau GKSBS harus mempersiapkan dirinya untuk itu”. Demikian penjelasan Pdt. Erik Purba.

Pada hari kedua besok, peserta akan melakukan diskusi terarah guna membangun rancangan dan rencana tindak lanjut guna mencapai goal GKSBS yang Tahan Bencana.

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Discussion

No comments yet.

Post a comment