Renungan Minggu Adven #3: Berilah AKU Minum

[Pdt. Eko Nugroho] — Semua orang mempunyai kerentanan yang sama. Seperti tak mengenal kelas sosial, si kaya dan si miskin sama di hadapan pandemi ini. Semua orang menghadapi resiko yang sama. Bahkan, setiap orang dapat berubah menjadi ancaman bagi seorang dengan yang lain.  Aku dapat menjadi ancaman bagimu. Engkau pun menjadi ancaman bagiku. Oleh karena itu mari kita menjaga jarak. Jarak dan membuat jarak adalah cara untuk menyelamatkan orang lain. Jarak adalah solusi atas berbagai bahaya mengancam kehidupan manusia di era pandemi ini. Jarak merupakan solusi supaya terhindar dari berbagai gangguan. Yang baik, yang benar, yang suci pun agar tak tercemar dibuat ada jarak. Supaya terhindar, maka jangan berhubungan dengan mereka yang bakal mengancam, mengganggu, maupun mencemari kita. Seperti orang Yahudi tak mau berjumpa dan berelasi dengan orang Samaria. Jarak memisahkan mereka. Jarak yang mereka ciptakan sendiri. Jarak untuk menjaga klaim kesucian dan kemurnian orang Yahudi.  Pandemi ini mengajak kembali untuk merefleksikan apa itu jarak dan atau berjarak?

Kepada perempuan Samaria, Yesus berkata: “Berilah Aku minum” (Yohanes 4:7). Seperti layaknya seorang pengemis Yesus menghampiri perempuan dan meminta air minum. Kepada mereka yang hancur, mereka yang terluka akibat berbagai jarak sosial yang diciptakan manusia, Yesus menyapa bukan sebagai orang yang lebih tinggi, tetapi dengan cara yang rendah hati, dari bawah, sebagai seorang pengemis. Mereka yag terluka membutuhkan orang memberikan penghargaan. Bukan orang justru menambah luka dan kehancurannya karena rasa malu akibat luka-luka kehidupannya.

Dalam dunia yang penuh dengan berbagai kelekatan dan terikat dengan barang. Mulai dari memiliki barang, membeli dan menjual barang sampai dengan mengerjakan barang. Keterikatan manusia dengan berbagai barang menumpulkan kemampuan manusia untuk berelasi dengan orang lain. Enggan untuk berada bersama dengan mereka, enggan untuk merayakan kehidupan dengan mereka. “Berilah AKu minum”, menjadi model relasi dimana relasi yang sejati bukanlah mengerjakan sesuatu bagi orang lain, memiliki orang lain, menggunakan mereka untuk berbagai kepuasan kita. Relasi yang sejati adalah menyediakan diri bagi mereka. Relasi yang sejati adalah menghayati perjumpaan dan persekutuan hati dengan mereka.

Kita akan menjadi sumber kehidupan bagi orang lain jika kita datang dengan rendah hati, dalam dan mengakui kemiskinan serta kehancuran kita. Seperti Yesus yang datang kepada perempuan Samaria itu sebagai pengemis, Allah pun meminta bantuan kepada kita sebagai orang yang hancur, orang kecil. Banyak relasi yang rusak dalam hidup manusia. Kita menolong orang lain untuk dikagumi. Kita menolong orang lain agar kita dihormati. Untuk berbagai kehidupan, kita perlu menghampiri dalam kerendahan kita. Allah yang terluka dan mudah terluka membutuhkan bantuan kita. Allah meminta minum kepada kita, dalam diri mereka yang relasi hancur, mereka yang tersisih dan menjadi korban berbagai kekerasan di dunia ini. Allah mengajak kita untuk membangun persekutuan hati. Selamat menantikan kedatangan Allah yang haus…..Allah yang haus dalam diri mereka yang paling rentan, mereka yang tak berdaya dalam jarak,  mereka yang hidup dalam berbagai resiko pandemi ini.

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print