ASKETISME DI ERA PANDEMI

Pandemi, isolasi, rapid antigen, PCR, Lockdown merupakan “kosakata” yang kini begitu akrab di telinga kita. Hampir tiap waktu kita mendengarnya dan mengucapkannya. Setiap orang berusaha menjelaskan makna dari istilah-istilah tersebut. Perdebatan-perdebatan pun biasa terjadi. Raungan sirine untuk akhir-akhir ini pun sering kita dengar. Kendaraan ambulan semakin sering kita lihat berlalu-lalang di jalanan. Di mana-mana kita melihat dan membaca berbagai anjuran-anjuran untuk menggunakan masker, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, mencuci tangan dan seterusnya dari mulai instansi pemerintah, lembaga-lembaga keagamaan sampai dengan lembaga-lembaga swadaya masyarakat. Di tiap rambu-rambu jalan kita juga mendengarkan anjuran-anjuran tersebut melalui speaker yang terpasang di tiang-tiang rambu-rambu tersebut. Semuanya terjadi begitu cepat semenjak Maret tahun 2020, ketika secara resmi pemerintah RI telah menetapkan untuk melakukan upaya guna mencegah penyebaran Covid-19, kita telah bersama dengan komunitas global masuk dalam era pandemic covid-19.

Pdt. Longgar Purnomo dari tim gugus tugas covid-19 Sinode GKSBS sedang menyiapkan rempah-rempah yang akan dibagikan kepada jemaat-jemaat melalui sistem salig berbagi

Dampak pandemi ini telah kita rasakan semua. Pandemi ini telah merenggut nyawa orang-orang yang kita cintai. Pandemi ini telah mengakibatkan beberapa orang kehilangan pekerjaannya. Pandemi ini telah menyebabkan perekonomian masyarakat tidak berjalan dengan baik. Mobilitas masyarakat kini telah dibatasi sedemikian rupa. Pandemi ini mengakibatkan frustasi yang luar biasa. Kejenuhan demi kejenuhan dirasakan setiap orang. Pertanyan kapan pandemic ini akan berakhir menjadi pertanyaan yang juga sering kita dengarkan. Pengalaman keterasingan menjadi pengalaman keseharian bagi mereka yang tak ada pilihan lain, selaian harus harus menjalani isolasi mandiri.

Lengkuas yang diambil dari pekarangan di belakang kantor Sinode, dibersihkan untuk kemudian diracik dengan jahe dan sereh sebagai rempah-rempah menambah imunitas tubuh. Paket rempah inilah yang kemudian dibagikan kepada jemaat-jemaat untuk mengajak jemaat-jemaat yang lain bersatu dalam gerakan saling berbagi dengan yang lain.

Pandemi ini pun telah menumbuhkan semangat untuk mempertahankan hidupnya sendiri. Demi keselamatan sendiri dapat saja orang menciptakan ruang-ruang aman bagi dirinya sendiri. kerinduan untuk berjumpa secara fisik digantikan perjumpaan virtual melalui berbagai aplikasi online. Tidak menjadi soal bagi mereka yang akrab dan dapat mengakses perkembangan teknologi komunikasi. Bagi mereka yang karena situasi yang berbeda, mereka yang kecil miskin atau mereka yang hidup di daerah yang sangat sulit akses internetnya tentu saja bisa menjadi soal tersendiri.

Pandemi ini telah memunculkan kecurigaan-kecurigaan antara satu orang dengan yang lain. Kebiasaan baru mencurigai sesamanya, jangan-jangan akulah pembawa virus corona atau orang lain pembawa virus coronanya. Mencurigai diri sendiri dan orang lain menjadi bagian dari kehidupan bersama di era pandemic. Takut menulari dan takut pula ditulari. Kecurigaan bersama demi keselamatan bersama. Seandainya pandemi berakhir, apakah kebiasaan mencurigai pun akan berakhir? Sepertinya kecurigaan mendapat alasan yang tepat untuk dilakukan di era pandemi ini. Bagaimana jika memunculkan varian baru kecurigaan? Di sisi lain, pandemi ini pun menumbuhkan solidaritas sosial. Masyarakat saling membantu satu dengan yang lain. Mereka saling memberikan dukungan. Mereka berbagi dan mengirimkan makanan untuk mereka yang dinilai sebagai kelompok masyarakat rentan.

Yabima Indonesia dan GKSBS Maranatha Kotagajah melaksanakan aksi kasih di Kotagajah, Lampung Tengah. Memberikan dukungan asupan gizi bagi masyarakat yang melaksanakan isoman, menyelenggarakan rapid antigen gratis, dan membuka konseling dokter.

Seiring dengan berjalannya pandemi ini, pemiskinan demi pemiskinan terjadi. Mereka yang miskin semakin sulit bergerak. Para petani kecil tak dapat secara optimalkan mengusahakan usaha pertaniannya. Persoalan lama yang digeluti para petani kecil dapat terasa semakin berat. Proses marginalisasi di era pandemi pun sangat mungkin terjadi.

Asketisme dalam konteks pandemic, apa bentuknya dan bagaimana caranya? Bukan dengan mengasingkan diri dan membentuk kelompok sosial yang terpisah dengan masyarakat pada umumnya. Pilihannya justru keluar dan menceburkan diri ke tengah kolam pergumulan manusia. Asketisme merupakan bentuk “mati raga sosial”. Penghayatannya tidak sebatas merasa diri cukup saja. Asketisme mendorong munculnya keberanian dan komitmen untuk keluar dari berbagai kenyamanan dan keamanan yang bisa diciptakan manusia. Itulah bentuk bermati raga secara sosial. Saat-saat di era pandemi ini berkecenderungan untuk membuat lingkar-lingkar sosial kecil yang aman dan batas yang aman, maka bagaimana mereka yang karena faktor-faktor tersebut justru mengakibatkan mereka yang kecil dan lemah situasinya semakin memburuk. Berasketis justru menggapai mereka yang menjadi korban dari kebanyakan orang yang karena kecamasan dan ketakutannya menciptakan lingkar-lingkar dan batas-batas amannya.

Sebuah kisah yang luar biasa dari St. Fransiskus ketika menghadapi orang kusta yang marah-marah. Ia mendatangi orang kusta tersebut dan meminta kepada orang kusta untuk menyampaikan maksudnya. Orang kusta tersebut meminta agar St. Fransiskus memandikan dirinya. Kata orang kusta tersebut: “Aku ingin engkau memandikan tubuhku mulai dari kepala sampai kaki, sebab saya begitu bau busuk sehinga saya jijik dengan diriku sendiri”. Dengan cintanya St. Fransiskus memandikan orang kusta dan mengeringkan badan yang penuh dengan kusta itu. Orang itu pun kemudian sembuh dari kusta. Siapakah orang kusta itu di era pandemi ini? Iya, mereka yang tidak menjadi perhatian dunia ini. Mereka yang terlupakan oleh sejarah dunia ini. Mereka adalah orang-orang kecil yang tidak mendapatkan bagian dari “roti” dunia ini. “Roti” ini hanya dinikmati oleh mereka yang mempunyai berbagai hak istimewa dari dunia ini. Iya, pandemi ini adala panggilan nyata untuk merangkul mereka.

Pandemi bukan saja soal virus dan penyakit. Pandemi, di sisi yang lain adalah, soal ketakutan dan kecemasan. Pandemi pun soal keterpisahan dan keterasingan. Kita semua diajak dengan cara yang berbeda-beda menanggapi realitas sosial yang baru ini secara bijaksana. Kita diundang untuk mengubah ketakutan menjadi keberanian. Kecemasan diubah menjadi harapan yang melegakan. Keterasingan diubah menjadi kehadiran dan perjumpaan. Kita tahu bahwa dimana ada cintakasih dan kebijaksanaan, di situ tidak ada ketakutan. Bukan lagi menyoal siapa paling bertanggungjawab atas semua yang terjadi ini. Semuanya itu, cara menyoal seperti itu sudah cukup. Tidak ada kata terlambat. Apa pun pilihan dan bentuknya, semua berharga dan baik. Peran-peran yang kita lakukan tidak untuk menggantikan peran siapapun. Kita bertanggungjawab atas pilihan kita, se kecil apa pun itu.  Kita bertanggungjawab atas nilai-nilai yang kita hayati. (en)

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print