Keluarga yang Mandiri dan Terbuka

Sesuai dengan kalender gerejawi GKSBS, pada bulan Oktober ini kita kembali memasuki Masa Perayaan Hidup Berkeluarga (MPHB). Adapun tema MPHB pada 2021 ini adalah “Keluarga yang Mandiri dan Terbuka”. Untuk mengantar kita masuk ke dalam penghayatan akan tema ini, baiklah kita ambil dua contoh kasus kehidupan berkeluarga:

Contoh 1

Bapak S dan ibu N sudah lebih kurang 10 tahun berumahtangga. Selama 10 tahun itu pula, pertengkaran berulangkali terjadi di antara mereka. Bahkan, ada kalanya pertengkaran itu sedemikian hebat hingga ibu N beberapa kali minggat dari rumah. Sementara minggat, ibu N mengadu kepada ibunya yang dia tahu akan cenderung membela. Di sisi lain, bapak S juga tidak berusaha merahasiakan persoalan rumah tangganya melainkan justru menceritakannya ke mana-mana. Adakah di sini kemandirian? Ataukah ini yang dinamakan keterbukaan? Atau??

Contoh 2

Mbah A tinggal dengan dua orang cucunya. Kedua cucu ini begitu disayanginya. Tidak pernah beliau memarahi mereka. Bahkan, Mbah A tidak akan terima ketika ada tetangga, guru di sekolah atau pelayan di gereja yang menegur, apalagi sampai memberi sanksi kepada satu saja dari cucu kesayangannya. Bagi beliau, orang luar tidak berhak mengarahkan bagaimana seharusnya perilaku para anggota keluarganya. Adakah di sini keterbukaan? Atau inikah kemandirian? Atau??

Sejauh ini, kita sudah mulai melihat bahwa persoalan “mandiri” dan “terbuka” (yang diusung sebagai tema Sinode GKSBS 2020-2025) memiliki kena-mengena juga dengan “kehidupan berkeluarga” (bukan hanya kena-mengena dengan “gereja sebagai lembaga” atau dengan “lembaga-lembaga Kristen yang menjadi mitra atau kepanjangan tangan gereja”!). Oleh karena itu, mari kita coba sedikit memperdalam bincang-bincang kita mengenai “mandiri” dan “terbuka” dalam kaitan dengan kehidupan berkeluarga.

Sebelumnya, sedikit menyegarkan kembali ingatan, ketika dalam MPHB kita berbicara tentang “keluarga”, yang menjadi fokus adalah “keluarga inti” (bapak, ibu <dan anak>) atau, sedikit diperluas, “kerabat dekat” yang masih berada dalam jangkauan. Namun, supaya tidak sempit, keterkaitan dengan keluarga dalam arti yang lebih luas (contoh: keluarga besar menurut silsilah; tetangga sebagai Saudara/i terdekat; sesama anggota jemaat yang sudah seperti keluarga; keluarga besar umat manusia; segenap ciptaan sebagai satu keluarga…) perlu juga diperhitungkan.

Keluarga Yang MANDIRI

“…Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya sehingga keduanya menjadi satu daging…” (Kejadian 2:24). Bagi kita, ayat Alkitab ini tentunya sudah tidak asing. Dalam Katekisasi Pranikah, ayat ini tentu dibacakan dan diterangkan. Ayat ini pun sering dikutip dalam undangan nikah yang dicetak dan disebarkan. Juga saat ritus pernikahan gerejawi dilayankan, ayat ini biasanya tak ketinggalan.

Sehubungan dengan pentingnya kemandirian dalam hidup berkeluarga, ayat tersebut memberikan dasar yang kuat. Secara sederhana, kita bisa menangkap di sini pesan Ilahi bahwa orang yang menikah hendaknya melangkah, move on (baca: muwv on) meninggalkan kebergantungan sedemikian pada orangtua. Dari pengalaman, kita tahu bahwa hal ini seyogianya dikondisikan dengan tinggal terpisah dari orangtua atau mertua, jika perlu sejak awal menikah. Namun, andaikata ini belum atau tidak mungkin dilakukan, baiklah tetap diingat bahwa karena sudah menikah dan memiliki pasangan, maka bukan lagi orangtua melainkan pasanganlah yang harus didahulukan.

Bersama pasangannya, orang yang sudah menikah harus membangun tatanan kehidupan berkeluarga yang baru. Tidak seharusnya mereka meneruskan begitu saja “kata bapak saya………………….” atau “dulu, nasehat dari ibu……………………”. Memang, ada hal-hal baik bentukan dari rumah orangtua yang layak untuk dipertahankan terus. Akan tetapi, ada juga kebiasaan-kebiasaan lama (termasuk yang terbentuk saat masih bersama orangtua) yang jika diteruskan hanya akan membuat pasangan dan/atau orang-orang sekitar ‘tersandung’. Oleh karena itu, sepasang suami istri perlu terus belajar untuk lebih “mengenal Tuhan”, “mengenal diri sendiri”, “mengenal pasangan”, “mengenal anak-anak” (jika dikaruniai) dan “mengenal lingkungan (masyarakat dan alam) sekitar” agar tatanan kehidupan berkeluarga yang baru bisa semakin terwujud seperti yang Tuhan maksud. Memang, jalan yang harus dilewati tidak selalu mulus. Namun, yang tidak mulus itu pun pasti terlewati ketika sungguh-sungguh ada keterbukaan terhadap karya anugerah Allah Bapa melalui Kristus di dalam Roh Kudus.

Selain itu, bagi orangtua yang secara simbolis sudah ‘melepaskan’ anaknya untuk berumahtangga, Kejadian 2:24 hendaknya senantiasa menjadi pengingat bahwa bukan lagi masanya untuk mereka campur tangan terlalu jauh dalam kehidupan sang anak. Memang, bisa dipahami bahwa saat mendengar rumah tangga anaknya berada dalam masalah, orangtua cenderung tidak tega. Kecenderungan tidak tega ini akan semakin menjadi ketika anak itu sendiri memohon campur tangannya atau bahkan berusaha kembali kepadanya. Boleh dibilang inilah salah satu “momen krisis” di dalam relasi antara orangtua dengan anaknya yang sudah berumahtangga. Namun sesungguhnya, di balik krisis ini, ada peluang bagi para orangtua tersebut untuk menjadi pemenang dan sekaligus memenangkan anaknya. Caranya bukan dengan menuruti ketidaktegaannya, melainkan justru (sesuai panggilan Tuhan Yesus untuk menyangkal diri dan memikul salib) dengan ‘menegakan’ anaknya; membiarkan anaknya berproses secara mandiri dengan pasangannya. Soal pertolongan pihak ketiga, biarlah itu menjadi bagian Tuhan dan orang-orang netral yang dipakai-Nya.

Bagi orangtua yang masih memiliki anak(-anak) sebagai tanggungan, Kejadian 2:24 hendaknya memberikan visi bahwa suatu hari nanti anak(-anak) itu harus ‘pergi’. Itu berarti, orangtua harus mempersiapkan anak-anak itu untuk mandiri. Sedini mungkin, anak-anak itu harus mereka tuntun pada pengenalan yang benar akan Tuhan. Jika tanggung jawab ini sungguh-sungguh dijalankan, bolehlah diharapkan bahwa Kekristenan dari anak(-anak)nya itu akan sungguh-sungguh dijiwai oleh iman sejati dan bukan sekedar ikut-ikutan.

Orangtua juga bertanggungjawab untuk memandirikan anak-anak tersebut sedemikian hingga karakter mereka benar-benar ‘jadi’ (dadi) dan bukan malah ‘menjadi-jadi’ (ndadi). Tentu, tahap-tahap perkembangan anak perlu dipertimbangkan. Kita tahu bahwa ada masa di mana anak-anak memang masih memiliki “kebutuhan”(bukan sekedar keinginan!) untuk “dimengerti” dan, sampai batas tertentu, “dimanjakan” (0-7 tahun?…). Apabila pada masa ini kebutuhan untuk dimengerti dan dimanjakan ini secara “tepat” (tidak kurang ataupun berlebihan) dipenuhi, dapat diharapkan bahwa seiring dengan pertambahan usia, anak-anak itu akan belajar untuk mengerti orang lain dan tidak manja lagi. Lewat dari masa ini, orangtua harus mendidik anak(-anak) untuk bekerja dan melayani. Tidak boleh anak-anak itu terus-terusan ditolong, apalagi selamanya dibiarkan ongkang-ongkang kaki dan hanya tahu dilayani. Betapapun saat ini kita berada dalam era digitalisasi, orangtua tetap harus mendisiplin anak-anak (dan juga dirinya sendiri!) untuk “menjaga jarak” dengan barang-barang teknologi.

Keluarga Yang TERBUKA

Segera setelah memberikan gambaran tentang “mandiri”, pencerita dalam Kejadian 2 memberikan pula gambaran tentang “terbuka” terkait dengan kehidupan berkeluarga. Dituturkannya bahwa di Taman Eden, sebelum terjadi kejatuhan, manusia pertama dan istrinya “…telanjang…tetapi mereka tidak merasa malu” (Kejadian 2:25). Bisa dibayangkan bahwa saat itu, kendati tidak berpakaian, mereka masih menyandang kebenaran dan kekudusan sejati (bdk. Efesus 4:24). Bahkan, oleh kemuliaan Allah mereka dilingkupi. Rasa malu dalam pengertian negatif belum mereka alami karena mereka masih gambar Allah yang sungguh amat baik. Perjumpaan dengan TUHAN Allah, dengan pasangan dan dengan ciptaan-ciptaan lain pun sungguh-sungguh mereka nikmati. Belum ada kecenderungan manusia itu untuk menutup diri.

Namun, begitu manusia jatuh ke dalam dosa, semua yang indah itu berubah. Manusia menjadi cenderung menutup diri terhadap ciptaan lain, terhadap sesama dan, terlebih lagi, terhadap TUHAN Allah. Ganti ‘ketelanjangan’, diupayakannya pencitraan sedemikian rupa agar jangan dirinya dikenal sebagaimana adanya. Bilamana merasa ‘ditelanjangi’ atau disingkap sedikit saja kekurangannya, dia bisa malu sedemikian hingga meledak amarahnya.

Syukurlah, di dalam pemeliharaan-Nya, TUHAN masih memakai setidak-tidaknya “keluarga inti” sebagai komunitas yang di dalamnya seseorang bisa sedikit banyak merasa nyaman untuk ‘telanjang’. Selama segala rahasia masih terjaga di dalam cinta (1 Korintus 13:7), setiap anggota tidak akan segan mengemukakan pergumulan dan memperlihatkan kerapuhannya. Seorang suami, yang memendam berbagai uneg-uneg selama bekerja, bisa mencurahkan itu semua saat berbicara berdua dengan istrinya. Seorang istri, yang menahan air mata saat mendengar pergunjingan tetangga, bisa puas menangis di pelukan suaminya.  Seorang anak, yang diam saja saat di-buly teman-temannya, bisa bercerita dengan leluasa kepada orangtuanya atau kepada saudara-saudarinya.

Kendati demikian, tidak bisa dimungkiri bahwa realitas dosa juga merongrong kehidupan berkeluarga termasuk dalam hal keterbukaan. Di dalam keberdosaannya, seorang suami, yang kehilangan pekerjaan misalnya, rawan tergoda untuk melakukan kekerasan dalam rumah tangga dalam rangka menutupi rasa malunya. Seorang istri, yang lebih sukses dalam berkarier, rawan terjebak dalam kecenderungan untuk tidak lagi mendengarkan suaminya. Seorang anak, yang secara formal lebih berpendidikan, rentan kehilangan sikap hormat terhadap orangtuanya.

Keluarga-keluarga Kristen pun belum lepas sepenuhnya dari persoalan dosa dan segala akibatnya, termasuk kecenderungan untuk tidak terbuka: tidak terbuka terhadap Allah, tidak terbuka antarsesama anggotanya, tidak terbuka terhadap gereja, tidak terbuka terhadap lingkungan sekitar, tidak terbuka untuk terlibat di tengah dunia dengan segala persoalannya… Jangan langsung melihat jauh-jauh; lihatlah dulu keluarga kita…

  • Sudah seberapa konsisten keluarga kita “berdoa” dalam pengertian yang terdalam (bukan sekedar menaikkan permohonan!) yakni “mengangkat hati kepada Allah” (Bapa kami yang di sorga…), “memuliakan nama-Nya” (…dikuduskanlah nama-Mu…), “membuka diri terhadap karya-Nya”(…datanglah  kerajaan-Mu…), “menundukkan diri kepada kehendak-Nya” (…jadilah kehendak-Mu…)?
  • Seberapa sering kita berbicara dari hati ke hati dengan pasangan kita, dengan anak-anak kita (terutama untuk para orangtua yang masih memiliki anak sebagai tanggungan) atau dengan orangtua kita (terutama untuk anak-anak yang belum berumah-tangga)?
  • Ketika Saudara/i seiman atau pelayan jemaat menegur kesalahan kita atau kesalahan anak-anak kita, sudahkah kita berbesar-hati menerima?
  • Diperhadapkan dengan persoalan-persoalan seperti kemiskinan, ketidakadilan, kerusakan lingkungan hidup, perubahan iklim, pandemi Covid 19, sudahkah kita dan keluarga kita bersyafaat dan secara serius berupaya terlibat dalam pemecahannya

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini saja, agaknya kita sudah harus rendah hati mengakui bahwa keluarga-keluarga Kristen sama berdosanya, tidak lebih hebat dibandingkan dengan keluarga-keluarga pada umumnya.

Namun, berkat anugerah penyelamatan Allah (Bapa) di dalam Kristus melalui Roh Kudus, keluarga-keluarga Kristen sejati terus bertumbuh di dalam iman, bertobat senantiasa, dan dari hari ke hari semakin maju di dalam pengudusan kendati belum sempurna. Dalam hal ini, mereka tidak pasif saja melainkan sungguh-sungguh “membuka diri” (terhadap Tuhan dan orang-orang yang dipakai-Nya), “mempergunakan secara tepat sarana-sarana anugerah” (seperti doa, firman Tuhan, sakramen, persahabatan/bimbingan spiritual) serta “berjuang di tengah dunia”. Secara manusiawi, naik turun atau bahkan jatuh bangun tentu dialami. Ini cukup merendahkan hati untuk mengakui bahwa sampai kapanpun, menurut standar Tuhan, dirinya masih pemula. Kendati demikian, pengharapan selalu ada karena mereka tahu bahwa Allah tidak akan gagal dalam berkarya.

Pertanyaannya sekarang adalah: Sudahkah keluarga kita termasuk di dalam keluarga Kristen sejati?… Jika sudah, mari kita dan keluarga kita terus melangkah seturut kehendak dan karya Allah… Jika belum, biarlah saat ini menjadi “titik balik” dan “awal baru” bagi keluarga kita, atau setidak-tidaknya bagi diri pribadi kita (sebelum akhirnya itu menular kepada keluarga kita)…

Selamat merayakan hidup berkeluarga di dalam Tuhan… Tuhan memberkati…

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.