RABU ABU

Apa Itu RABU ABU?

Rabu Abu adalah awal dari Masa Prapaska. Kata “abu” dipakai karena pada hari itu jemaat menerima olesan abu berbentuk tanda salib di dahi sebagai pengingat bahwa dirinya adalah makhluk lemah dan berdosa yang memerlukan pertobatan serta kemurahan dan pengampunan dari Allah sebagaimana diberitakan dalam Injil Yesus Kristus.

Mengapa Merayakan Rabu Abu?

Harus diakui bahwa jawabannya bukanlah “karena diperintahkan langsung oleh Tuhan”. Perayaan Rabu Abu bukan ketetapan yang turun dari sorga melainkan ditetapkan oleh gereja di dalam kebebasannya sebagai pengikut Kristus.

Dalam sejarahnya, gereja akhirnya menetapkan Rabu Abu sebagai awal Masa Prapaska karena ada kerinduan untuk berpuasa 40 hari (seperti dilakukan oleh Musa, Elia, dan Yesus) sebelum merayakan Paska tetapi tidak pada hari Minggu (karena hari Minggu adalah hari Kebangkitan, hari sukacita) dan karena melihat bahwa di dalam Alkitab, “abu” berulangkali muncul sebagai simbol “pertobatan”, “keprihatinan”, “perendahan diri”.

Namun, dalam Abad Pertengahan (abad V-abad XVI), Masa Prapaska (yang awalnya ditetapkan oleh gereja di dalam kebebasannya sebagai pengikut Kristus itu) cenderung menjadi bertakhyul (Inggris: superstitious <baca: “saperstisyus”>) karena penuh dengan aturan yang menakutkan dan membebani hati nurani. Bisa dipahami jika ketika pecah Reformasi Gereja pada abad XVI, sejumlah reformator termasuk Calvin, nenek moyang rohani kita, meniadakan Masa Prapaska dalam rangka membebaskan gereja dari takhyul. Peniadaan Masa Prapaska tadi cukup lama membekas di lingkungan gereja-gereja Calvinis/Reformed (baca: “riformd”). Akan tetapi, pergaulan oikumenis dengan gereja-gereja beraliran lain seperti Lutheran, Anglikan, bahkan Katolik Roma sedikit demi sedikit mendorong gereja-gereja Reformed untuk menyerap kembali kekayaan tradisi liturgis gereja kuno, termasuk Masa Prapaska, bahkan Rabu Abu, tanpa harus kembali pada takhyul Abad Pertengahan. Mereka tidak lagi takut kalau-kalau Calvin marah. Bukankah Calvin pernah berkata: “Saya tidak akan memarahi mereka yang beribadah pada hari lain (maksudnya selain hari Minggu, pen) asalkan mereka tidak bertakhyul”? Dan mengenai Rabu Abu, bukankah itu cocok benar untuk mengekspresikan ajaran Reformed mengenai kerusakan total manusia akibat dosa dan keajaiban anugerah penyelamatan Allah di dalam Kristus?

Kapan Dirayakan Rabu Abu?

Dari tahun ke tahun, tanggal perayaan Rabu Abu berbeda-beda tergantung dari tanggal perayaan Paska. Yang jelas, Rabu Abu adalah 46 hari sebelum Paska sehingga dipotong 6 hari Minggu Prapaska, puasa yang dilakukan oleh gereja sebelum merayakan Paska genap 40 hari. Atau, kalau sulit menghitung 46 hari, lihatlah kalender, tandailah hari Minggu yang persis sebelum Paska sebagai Minggu Prapaska VI, lalu Minggu yang sebelumnya lagi sebagai Minggu Prapaska V, dst sampai dapat Minggu Prapaska I. Rabu sebelum Minggu Prapaska I, itulah Rabu Abu.

Bagaimana Tata Cara Perayaan Rabu Abu?

Seperti telah disinggung tadi, dalam perayaan Rabu Abu, jemaat berbaris untuk menerima olesan abu berbentuk tanda salib di dahi. Ketika itu, pelayan yang mengoleskan abu biasanya berkata: “Ingatlah bahwa engkau debu dan akan kembali kepada debu” atau “Bertobatlah dan percayalah kepada Injil” dan yang diolesi menyahut: “Amin”. Pengolesan abu ini didahului dengan ajakan untuk memperhatikan disiplin Prapaska dan ungkapan tobat.

Dalam liturgi, pengolesan tersebut masuk dalam Ritus Pertobatan setelah Pemberitaan Firman. Jadi, struktur dasar liturgi Rabu Abu adalah:

  • Berhimpun
  • Pemberitaan Firman
  • Ritus Pertobatan
  • Pelayanan Meja (Persembahan dan Perjamuan Kudus)
  • Pengutusan

Karena ungkapan tobat mendapat tempat khusus dalam Ritus Pertobatan, maka unsur “pengakuan dosa” pada bagian BERHIMPUN bisa ditiadakan. Dengan begitu, unsur-unsur pada bagian BERHIMPUN cukup Votum, Kata Pembuka, Doa Pembuka, Nyanyian.

Untuk PEMBERITAAN FIRMAN, baik jika dibacakan ketiga bacaan yang tercantum dalam leksionari yaitu Yoel 2:1-2,12-17 atau Yesaya 58:1-12 (PL), 2 Korintus 5:20b-6:10 (Surat), dan Matius 6:1-6,16-21 (Injil) dan dalam khotbah ditarik benang merah dari ketiga bacaan ini. Sedangkan mazmur yang tercantum dalam leksionari yaitu Mazmur 51:3-19 bisa dibaca berbalasan atau dinyanyikan atau didasarkan setelah bacaan PL (sebagai Mazmur Tanggapan); bisa juga masuk dalam Ritus Pertobatan sebagai bagian dari ungkapan tobat sebelum menerima pengolesan abu.

Apabila dirayakan juga Perjamuan Kudus, baik jika digunakan formula Pengucapan Syukur/Ekaristi yang dikhususkan untuk Masa Prapaska.

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print