35 Tahun Adalah Usia yang Matang

“35 tahun bukan usia yang muda. 35 tahun adalah usia yang matang”. Demikian salah satu kalimat dalam kotbah pembukaan pada rangkaian acara perayaan HUT Sinode GKSBS ke-35.

Pdt. Dono Wahyono dari GKSBS Siloam Palembang membawakan pelayanan firman pada Ibadah Pembukaan, Kamis sore, 4 Agustus 2022. Ada dua kegiatan pada perayaan HUT Sinode GKSBS kali ini, yaitu retreat para pendeta emiritus dan juga pelatihan Apreciative Inquiry dan Asset Based Community Development (AI/ABCD). Perayaan akan ditutup pada Sabtu, 6 Agustus 2022 dengan Ibadah yang akan dipimpin oleh Majelis Jemaat GKSBS Tanjungkarang sebagai tanggal berdirinya sinode GKSBS.

Sebelum 1987, saat GKSBS menjadi Sinode sendiri, benih-benih kekristenan sudah ada sejak jaman lampau. Mengutip dari buku Pdt. Hoogerwerf tentang Gereja di Tanah Seberang, para transmigran dari Jawa ke Sumatera ini adalah program kolonisasi dari pemerintah Hindia Belanda. Bahkan disebutkan bahwa program kolonisasi ini sudah dimulai pada tahun 1905 di daerah yang sekarang adalah Gedong Tataan. Orang-orang Jawa yang berada di tempat baru ini rata-rata sebagai buruh di perkebunan milik Hindia Belanda.

Baru sekitar tahun 1934, orang-orang Jawa yang ditransmigrasikan ke Sumatera ini menjadi perhatian oleh Gereja Kristen Djawa, khususnya dari klasis Purworejo, yang pada masa-masa kemudian mengirimkan tenaga pendeta untuk nglari, yaitu mencari dan menemukan orang-orang kristen yang bertransmigrasi di tanah seberang ini.

Dalam kotbahnya, Pdt. Dono Wahyono juga menyempatkan berbagi cerita ketika dulu, pendeta-pendeta GKSBS yang saat ini sudah emiritus ini (tentu sebagian sudah meninggal dunia), menggunakan cara bernyanyi. Ketika jalan-jalan di sekitar orang-orang yang bekerja atau sedang beristirahat, para pendeta yang nglari ini bersiul atau bernyanyi salah satu lagu dari kidung pasamuan yang sudah famillier. “Neng Nggunung wah neng ngare, Gusti Allah ono…” dan seterusnya. Kidung ini dinyanyikan sengaja dengan keras dengan harapan bahwa jika ada orang kristen di antara mereka, orang banyak ini pasti akan mengenal kidung itu. Dari cara inilah nglari itu akhirnya berjalan dan menemukan semakin banyak orang-orang kristen dan kemudian mendirikan kelompok-kelompok persekutuan.

“Ada peran-peran di masa lalu yang mengantarkan kita menjadi seperti sekarang ini. Itu semua adalah kerja keras para pendahulu kita, maka masa depan kita juga akan bergantung pada kerja-kerja masa kini, sekarang ini”, Pdt. Dono melanjutkan kotbahnya.

Pendeta-pendeta emiritus ini adalah para pelayan dan pejuang yang telah bekerja keras untuk GKSBS. Bukan saja mengumpulkan saja, tetapi juga mempunyai mimpi untuk membangun gereja yang hidup. Proses dari nglari hingga menjadi Sinode sendiri secara mandiri yang bernama Sinode Gereja Kristen Sumatera Bagian Selatan adalah bukti yang sahih bahwa para pendahulu kita juga bermimpi membangun gereja yang hidup.

Saat ini, apa yang menjadi mimpi itu akan diteruskan oleh generasi saat ini. Semua adalah terbatas. Semua ada waktunya. Secara organisasi, pada akhirnya pendahulu-pendahulu ini akan emiritus. Dibatasi oleh waktu. Maka pendeta-pendeta muda yang ada saat ini adalah penerus dari mimpi yang sudah dibangun.

Daud punya cita-cita yang besar luar biasa ketika dia bisa menyatukan Israel. Daud bermimpi akan membangun sebuah bait Allah yang besar sebagai simbol kehadiran Tuhan bagi Israel. Tetapi kata Allah kepadanya, “Cukup… tugasmu sudah cukup. Bukan kamu yang akan membangunnya tetapi Salomo”. Tidak selamanya mimpi-mimpi itu bisa kita wujudkan. Tetapi Tuhan selalu memiliki rencanaNya. Takut akan Tuhan akan membantu kita untuk mengetahui apa rencana Tuhan bagi kita di masa depan.

“Selamat Ulang Tahun ke-35 Sinode GKSBS. Untuk para pendeta emiritus, terimakasih atas semangat dan dedikasi yang telah dibangun. GKSBS akan menghadirkan cita-cita untuk menjadi gereja yang mandiri dan terbuka. Apa yang sudah dimulai akan diteruskan oleh generasi muda saat ini, melanjutkan semangat dan dedikasi Bapak dan Ibu sekalian. Untuk GKSBS, kita lakukan yang terbaik, kita lahirkan yang terbaik”.  Pdt. Dono Wahyono menutup kotbahnya.

Lihat juga Media Sosial GKSBS:

Sinode GKSBS | Facebook

Sinode GKSBS | Instagram

SINODE GKSBS | Twitter

Silahkan dibagikanShare on Facebook
Facebook
Tweet about this on Twitter
Twitter
Email this to someone
email
Print this page
Print

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.