Oukoemene kebangsaan Tahap II

Suasana Pendidikan Oukumene kebangsaan di kantor PGI

Saya bersyukur pada bulan Februari 2017 kemarin berkesempatan kembali mengikuti pendidikan oukumene kebangsaan pada tahap II. senang bisa berjumpa kembali dengan rekan-rekan se-pelayanan di semua daerah bersama dengan 15 Sinode yang lain. dalam pertemuan ini ada teman satu angkatan yang tidak bisa hadir yaitu teman dari GITJ dan HKPB mereka sedang ada tugas sinode dan pada kahirnya dengan berat hati panitia menyatakan mereka berdua di diskualifikasi dari pendidikan oukuemene pada tahap I.

Jika dalam pendidikan tahap I metaphor yang pakai dalam proses pendidikan memakai Pohon yang memandu para peserta untu memahami seluruh proses kegiatan dan materi yang disampaikan oleh fasilitator dengan metode pendekatan AI. Maka dalam proses pendidikan pada tahap II ini pendidikan oikoumene ke Indonesiaan mengunaka metaphor Rumah Bersama. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia banyak istilah rumah yang dipakai dalam konteks tradisi dan budaya. Biasanya rumah yang dimaksdu menjadi tempat mengambil keputusan bersama yang tidak hanya terbantas pada suku tertentu melainkan untuk semua orang. Rumah yang dipahamai dalam budaya Indonesia bukan hanya dipahamai sebagai tempat tinggal, melainkan rumah memiliki banyak fungsi bagi penghuninya juga bagi orang lain.

Salah satu pimpinan Pusat NU ustad Pituduh

Bersama ketua PGI disela-sela acara

Bersama Pdt. Dono, Menyempatkan diri berkunjung ke kekantor Pdt Sri Yuliana dari GKSBS

Kegiatan pendidikan Oukoimene Ke indonesiaan diawali dengan orientasi seluruh proses pendidikan oleh Sekretaris PGI bapak Gomar Gultom M.Th dan ibu  Ketua PGI pdt. Dr. Henriette H. Lebang. Refleksi tugas pada tahap I menjadi bagian awal melihat keberadaan peserta ketika berada di tengah-tengah kepelbagaian suku, ras agama dan golongan.

Pemabahasan Rumah bersama menjadi focus diskusi dalam pendidikan pada tahap II ini, dunia sebagai rumah bersama menjadi point yang ditekankan oleh para fasilitator agar keberadaan Indonesia yang berbeda mendorong semua pihak untuk dapat hidup secara bersama-sama. Pemahaman regional akan rumah bersama juga diispirasi oleh kegerakan global yang juga memikirkan akan oukoimene semesta. Gerakan global akan kebersamaan dan keperdulian mendorong untuk melakukan gerekan local dalam hal beroikoemene. Sebenarnya ada banyak peristiwa yang terjadi di Indonesia sebagai wujud kegiatan bersama oikoumene yang menjadi modal kegerakan perubahan yang dilakukan bukan hanya pribadi atau golongan tertentu, melainkan dilakukan secara bersama-sama. Semangat bangsa untuk terbebas dari penjajahan yang tidak mempersoalkan perbedaan bangsa suku, dan agama menjadi dasar bahwa Indonesia sudah melakukan gerekan Oikoumene kebangsaan. Demikian juga gereja dalam tingkat sinodal, klasis dan jemaat sudah melakukan tindakan-tindakan oikoumene yang berorientasi pada perubahan kearah yang lebih baik terhadap setiap persoalan yang dihadapi disekitar gereja. Dorongan untuk melakukan perubahan seharusnya menjadi titik tolak pribadi lepas pribadi, oleh karena itu perlu rasanya untuk mebangkitkan spiritualitas para gembala dalam menanamkan dalam dirinya nilai-nilai kebersamaan dan oikoumene kebangsaan sehingga dirinya menjadi motor pengerak bersama dengan orang lain untuk bekerjasama melakukan perubahan.

Seluruh materi dalam POK tahap 2 ini kemudian diakhiri dengan membangun rekontruksi rumah bersama yang harus dibangun; pointnya adalah adanya niali-nilai yang positif yang bisa terus dikembangkan dalam diri suku, ras, agama, golongan dan dalam diri bangsa Indonesia yang dipakai untuk membangun rumah bersama. Keterbukaan, persaudaraan, dan penerimaan menjadi nilai kuat dalam rumah bersama. Demikian pula adanya kesadara bahwa ada nilai-nila yang tidak bisa dirubah dan mungkin diubah dalam rangka membangun rumah bersama yang sekirannya akan mempersulit membangun komunikasi dan relasi satu dengan yang lainnya.

Selaian melakukan pendidikan didalam kelas, peserta juga diajak eksposure keberapa tempat dalam rangka melihat konteks kebinekaan dan usaha-usaha membangun kebersamaan diantaranya. PBNU yang masih punya komitmen yang kuat untuk mempertahankan Pancasila, UUD, Bineka Tunggal Ika, dan Negara kesatuan Indonesia. Juga komitmen Presiden melalui staf kepresidenan yang berusaha membantu kepala Negara untuk memikirkan kesejahteraan bangsa Indonesia.

Silahkan dibagikan ...Share on FacebookTweet about this on TwitterEmail this to someonePin on PinterestShare on Google+Share on LinkedIn

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*