GKSBS adalah sebuah sinode gereja yang mewujudkan persekutuan jemaat-jemaat di wilayah Sumatera Bagian Selatan (meliputi Provinsi Lampung, Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan). Dengan visi “GKSBS Berjalan Menuju Buah yang Matang. Persekutuan yang Utuh, Mandiri dan Terbuka” serta berakar pada penghayatan iman dan kesaksiannya, GKSBS terpanggil untuk menjadi garam dan terang, tidak hanya bagi warganya tetapi juga bagi masyarakat luas. Dalam GKSBS saat ini terdapat 102 Jemaat Dewasa, 14 Klasis dan total Kepala Keluarga sebanyak 11.840 dan jumlah jiwa 35.411 (data 2025). Data ini menunjukkan lingkup pelayanan yang luas, dengan catatan bahwa jumlah jemaat terus bertumbuh secara dinamis. Tata kelola GKSBS berjalan melalui struktur Sinode, Klasis, dan Jemaat, serta didukung oleh berbagai yayasan.
GKSBS tidak hidup dalam ruang hampa. Pelayanannya berlangsung di tengah pusaran konteks global, nasional, regional (Sumbagsel), dan internal yang kompleks dan dinamis. Memahami dan menganalisis tantangan-tantangan kontekstual ini menjadi langkah krusial bagi GKSBS dalam perjalanannya bertekun menuju buah yang matang: keutuhan, kemandirian, dan keterbukaan. Tantangan-tantangan ini bukanlah sekadar hambatan, melainkan medan pergulatan iman dan pelayanan yang membentuk identitas dan arah GKSBS ke depan.
Makna Buah yang Matang: Keutuhan, Kemandirian dan Keterbukaan GKSBS
Yakobus 1:4 kemudian menjelaskan bahwa ketekunan (hypomonē) bukanlah tujuan akhir, melainkan sebuah proses yang harus dibiarkan bekerja hingga tuntas (ergon teleion) untuk menghasilkan “buah yang matang”. Buah matang ini adalah kondisi kedewasaan spiritual dan integritas karakter: “…supaya kamu menjadi sempurna dan utuh (teleioi kai holoklēroi) dan tak kekurangan suatu apa pun.” Dalam kerangka PPHP GKSBS 2025-2030, “buah matang” sebagai visi kedewasaan GKSBS ini secara spesifik diartikulasikan dalam tiga kata yang saling terkait: Keutuhan, Kemandirian, dan Keterbukaan. Kemandirian melanjutkan visi periode sebelumnya, sebagai kedewasaan GKSBS dalam bertanggung jawab atas kehidupan dan pelayanannya secara menyeluruh, termasuk penguatan finansial dan pengelolaan sumber daya. Keterbukaan juga berakar pada visi sebelumnya, menekankan kesediaan GKSBS untuk terus berdialog, bermitra, merangkul keragaman, dan relevan dengan konteksnya. Sementara itu, “keutuhan” (teleios kai holoklēros), yang bermakna matang, lengkap, dan tanpa cacat dalam semua bagiannya, menuntut pendalaman teologis lebih lanjut, khususnya dalam kaitannya dengan panggilan gereja untuk menjadi persekutuan yang inklusif bagi semua.
Wujud Nyata Keutuhan
Sinergi Internal: Koordinasi, komunikasi, dan rasa saling memiliki antara Sinode, Klasis, dan Jemaat semakin kuat dan harmonis. Visi dan program PPHP dijalankan dengan pemahaman dan komitmen bersama di semua aras.
Iman yang Bekerja: Semangat iman yang bekerja, sebagaimana ditekankan dalam Surat Yakobus, akan semakin nyata terwujud dalam praktik kehidupan sehari-hari jemaat dan dalam program pelayanan gereja.
Inklusivitas Radikal dalam Praktik: Menyadari keterbatasan sumber daya di banyak jemaat, fokus utama bukanlah semata-mata pada perubahan fisik bangunan, melainkan pada upaya advokasi yang gigih untuk hak-hak dan partisipasi penyandang disabilitas, baik di dalam gereja maupun di masyarakat luas. GKSBS secara sadar akan berupaya mengidentifikasi dan membongkar berbagai hambatan non-fisik seperti sikap, stigma, dan sistem yang mungkin telah menghalangi partisipasi penuh sebagian anggotanya dan secara aktif melawan sikap memandang muka (partialitas). Upaya mewujudkan aksesibilitas akan dilakukan secara kreatif dalam komunikasi dan informasi (misalnya format materi yang beragam, pemanfaatan teknologi yang terjangkau). Lebih penting lagi, penyandang disabilitas tidak hanya hadir, tetapi secara aktif didorong, difasilitasi, dan didengar. Guna menyumbangkan karunia serta mengambil peran dalam pelayanan dan kepemimpinan di semua aras gereja. Akan ada program dan pelayanan yang secara khusus bertujuan memberdayakan kelompok-kelompok yang mungkin terpinggirkan secara spiritual, sosial, dan ekonomi, agar mereka dapat hidup sejahtera dan bermartabat sebagai bagian utuh dari persekutuan.
Kesejahteraan Holistik: Perhatian terhadap kesejahteraan anggota jemaat semakin bersifat holistik, mencakup aspek spiritual, mental, emosional, sosial, dan fisik
Bumi yang utuh: Bahwa keseluruhan kehidupan mencakup alam keseluruhan perlu mendapat perhatian. Keutuhan tidak berarti tanpa lingkungan alam semesta yang terus dipelihara untuk sekarang dan kepentingan anak cucu. Sifat antroposentris harus direduksi dan mengubahnya menjadi relasi kosmologis yang saling menopang.
Wujud Nyata Kemandirian
Kesehatan Finansial:GKSBS menunjukkan kemandirian finansial yang lebih kokoh, ditandai dengan pengelolaan aset yang optimal dan produktif (termasuk hasil dari investasi yang dikelola dengan baik), sistem fundraising yang efektif dan berkelanjutan, serta meningkatnya kesadaran dan partisipasi jemaat dalam menopang pelayanan melalui Persembahan Kebersamaan secara bertanggung jawab. Ketergantungan pada sumber eksternal yang tidak pasti berkurang signifikan.
Pengelolaan Sumber Daya:GKSBS mampu mengelola seluruh sumber dayanya (manusia, aset, program) secara efektif, efisien, dan akuntabel. Kapasitas internal (pelayan, staf, majelis) terus ditingkatkan untuk menjawab kebutuhan pelayanan.
Wujud Nyata Keterbukaan
Pelayanan Kontekstual:GKSBS secara aktif dan relevan terlibat dalam isu-isu kontemporer (seperti perubahan iklim, keadilan sosial, transformasi digital, kerukunan bangsa) dengan landasan teologi yang kuat dan pendekatan yang konstruktif.
Dialog Transformatif: GKSBS menjadi mitra dialog yang dihargai oleh berbagai kelompok agama, etnis, dan organisasi masyarakat sipil. Dialog ini tidak hanya bertujuan untuk kerukunan, tetapi juga untuk menghasilkan aksi bersama demi kebaikan masyarakat Sumbagsel dan Indonesia.
Kemitraan Setara:Pola relasi dengan mitra (dalam dan luar negeri) berkembang menjadi kemitraan yang setara, saling memberdayakan, dan berfokus pada tujuan bersama, bukan lagi berbasis dependensi.
Persekutuan yang Merangkul: Suasana persekutuan di jemaat-jemaat GKSBS semakin terbuka, ramah, dan menyambut kehadiran semua orang dari berbagai latar belakang, mencerminkan kasih Kristus yang universal.