Khotbah Minggu, 8 Maret 2026
Warna Liturgi : Ungu
Minggu Pra Paskah III
Perikop : Keluaran 20:1-17
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan
Bisa dibayangkan ketika seseorang berkendara di daerah yang belum pernah dikunjungi atau tidak dikenal. Sementara sang pengendara ini sebenarnya mempunyai aplikasi google maps, namun ia lebih memilih tidak menggunakannya dan tidak ingin bertanya kepada orang lain karena ingin mencoba jalannya sendiri. Apa yang terjadi? Akibatnya ia berputar-putar, tersesat, bahan bakar kendaraan dan waktu pun terbuang dengan sia-sia. Setelah menyadari bahwa dirinya tidak menemukan tujuannya, pada akhirnya ia pun mengikuti arahan google maps sehingga sampailah ke tempat tujuan dengan tenang. Pun demikian dengan kehendak Allah. Kehendak Allah layaknya seperti aplikasi google maps rohani. Ketika orang percaya menolak mengikuti arahanNya, maka tidak jauh berbeda dengan orang yang tidak mengikuti arahan google maps. Tersesat, tenaga dan waktu pun habis dengan sia-sia. Akan tetapi ketika orang percaya itu mau dan mengikuti petunjukNya, maka Allah pun menuntunnya sampai pada rencana terbaikNya.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan
Petunjuk dan arahan supaya tidak tersesat juga diberikan Allah kepada umat Israel di Gunung Sinai, yakni berupa Sepuluh Firman dan hukum-hukum lain. Sepuluh Firman yang diberikan itu merupakan dasar perjanjian antara Allah dan umatNya. Hal ini dimaksudkan untuk mengatur umat tentang bagaimana beribadah kepada Allah dan hidup bersama sebagai umatNya. Lalu Allah berbicara langsung dengan berinisiatif memperkenalkan diriNya dan menunjukkan perbuatan-perbuatan yang telah dilakukannya, “Akulah Tuhan, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari Mesir, dari tempat perbudakan” (2). Sebuah pendahuluan penting sebelum Allah memberikan hukum-hukumNya. Ia tidak langsung memerintah namun mengawali dengan mengingatkan kasih dan karya penyelamatanNya. Allah mengingatkan bahwa Ia lebih dahulu menyelamatkan umatNya sebelum menuntut ketaatan. Hukum yang diberikan ini bukan alat untuk memperoleh keselamatan tetapi petunjuk / arahan bagi orang yang sudah diselamatkan. Di dalam perjumpaan itu, Allah memberikan hukum-hukum sebagai peraturan yang wajib dilakukan oleh umatNya. Dia tidak melarang seni rupa atau karya manusia namun melarang membuat sesuatu untuk disembah. Di dunia kuno, umat Israel di sekitar oleh bangsa-bangsa yang membuat patung dewa sebagai lambang penyembahan. Allah melarang ini agar umat tidak menggambarkan diriNya yang tidak kelihatan dalam bentuk ciptaan. Allah itu Roh (Yoh. 4:24) dan tidak bisa direduksi (pemotongan / pengurangan) menjadi bentuk benda. Ketika manusia mencoba menggambarkan Allah dengan ciptaannya, otomatis mereka mengecilkan kemuliaanNya dan menukar Sang Pencipta dengan ciptaan. Sebagai konsekuensi dari ketaatan umat, Allah berjanji akan melindungi dan menolong umatNya. Karena nama Allah kudus maka umat tidak boleh menyalahgunakannya dengan cara apapun. Baik untuk menyebut dan memandangNya dengan sembarangan. Kasih Allah selalu tersedia bagi umat yang sadar betapa besar kasih yang sudah mereka alami ketika dalam perjalanan menuju tanah perjanjian.
Selanjutnya Allah memerintahkan agar memperhatikan dan memelihara hari Sabat. Dia tidak ingin umat mengabaikan dan melupakan hari itu dengan kesibukan duniawi. Sebuah perintah untuk memisahkan waktu khusus dan berhenti dari rutinitas serta memberi tempat bagi Allah. Waktu yang tidak sekedar beristirahat secara jasmani namun untuk menyembah, merenung dan membaharui relasi dengan Allah. Di hari istirahat itu Allah memerintahkan mereka untuk menyembahNya dan mengenang apa yang sudah dilakukanNya untuk mereka. Perintah merayakan hari istimewa itu bertujuan untuk membedakan umat Israel dari bangsa-bangsa lain. Dengan beristirahat, beribadah dan membebaskan budak (bahkan hewan) dari pekerjaan, umat Israel menunjukkan kepada dunia akan keistimewaan yang dimilikinya, yakni memiliki hubungan yang istimewa dengan Allah. Dimana Israel adalah bangsa pilihanNya.
Perintah-perintah lain menolong umat untuk merumuskan hubungan antara umat satu sama lain. Perintah ini seperti pondasi sebuah bangunan atau tiang demi menopang kehidupan Israel sebagai masyarakat dan melindunginya dari bahaya. Jika perintah itu tidak dipatuhi maka segala dampak negatif akan terjadi. Orang lain atau keluarga akan mengalami kerugian. Pernikahan terancam bubar. Ketentraman dan berkat yang diperuntukkan bagi orang yang hidup dalam lindungan Allah justru diganti berupa penderitaan dan kekacauan.
Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan
Di tengah MPPP GKSBS tahun 2025 ini sejenak kita bertanya dalam hati terkait dengan ketaatan kita padaNya. Sudahkah kita mengikuti petunjuk dan arahanNya atau justru selama ini lebih mengikuti jalannya sendiri dengan menolak arahanNya? Dari Sepuluh Firman yang diberikan oleh Allah kepada umatNya kita tahu bahwa Allah dengan tegas memerintahkan umatNya untuk menghormati dan hidup dalam ketaatan kepadaNya. Dalam perintah ini, kita melihat panggilan untuk mengasihi Allah dengan segenap hati dan tetap setia padaNya. Selanjutnya, kita diajar untuk menghormati dan mengasihi sesama manusia, mulai dari menghormati orang tua sampai dengan larangan untuk membunuh, mencuri, berzina dan bersaksi palsu. Hal ini menunjukkan bahwa ketaatan kita kepada Allah tidak hanya mencakup hubungan vertikal denganNya namun juga hubungan horizontal.
Dengan demikian kita mendapatkan pemahaman tentang pentingnya ketaatan kepada Allah dalam kehidupan ini. Ketaatan kepadaNya membawa kita pada kedamaian, keutuhan dan kesaksian hidup. Ketika kita hidup dalam ketaatan kepada Allah, kita mengasihiNya dengan segenap hati dan juga mengasihi sesama. Menghidupi kehendak Allah sebagaimana dalam perikop ini berarti menjadikan firman Tuhan sebagai arahan pelayanan dan dasar kehidupan. Sepuluh perintah Allah tidak sekedar aturan moral akan tetapi pernyataan kasih Allah yang membimbing agar kita semakin benar di hadapanNya. Sebagai jemaat GKSBS kita dipanggil untuk mengenal Allah yang menyelamatkan dan menjadikanNya satu-satunya Sumber Kehidupan. Menghidupi kehendak Allah juga tampak dengan cara mengasihi sesama dalam kontek GKSBS dapat diwujudkan dengan kebersamaan dan kepedulian sosial. GKSBS tidak hanya mengetahui kehendak Allah tetapi menghidupi dalam tindakan yang nyata. Adanya visi dan misi Sinode GKSBS adalah salah satu arahan menterjemahkan dan menghidupi kehendak Allah dalam kehidupan persekutuan dan kesaksian kita. Oleh sebab itu, selayaknya kita dengan tulus, sukacita dan gembira mewujudnyatakan apa yang telah menjadi arahan untuk menerjemahkan kehendak Allah tersebut.
Ayat dan Nyanyian
Nas Pembimbing : Mazmur 19:8
Berita Anugerah : Mazmur 32:1-2
Nas Persembahan : Nehemia 10:36
Nyanyian
Nyanyian Pembukaan : PKJ 1
Nyanyian Pujian : KJ 161
Nyanyian Peneguhan : KJ 157
Nyanyian Responsoria : PKJ 280
Nyanyian Persembahan : PKJ 145
Nyanyian Penutup : KJ 340


Leave a Reply