Khotbah Minggu, 15 Maret 2026
Warna Liturgi : Ungu
Minggu Pra Paskah IV
Perikop : Yohanes 3:14-21
Minggu Pra Paskah IV, 15 Maret 2026
Kasih Allah Memulihkan Keutuhan
Saudara-saudara yang dikasihi dan mengasihi Tuhan, tidak terasa kita telah sampai pada minggu keempat dalam masa Prapaskah. Ini adalah masa dimana kita diajak untuk berefleksi, bertobat, menatap salib Kristus dan mempersiapkan hati menyambut Paskah. Tema kita hari ini adalah “Kasih Allah memulihkan keutuhan” Untuk menolong memahami lebih dalam bagaimana kasih Allah memulihkan keutuhan, saya mengajak kita untuk membayangkan satu kisah sederhana. Ada seorang anak kecil yang bermain di halaman rumah. Ia sudah diberitahu bahwa area itu berbahaya dan dilarang bermain di sana. Namun karena penasaran dan tidak mau mendengar, ia tetap bermain, pada akhirnya jatuh, terluka, dan menangis kesakitan. Di saat itulah ibunya datang, memeluknya, mengusap lukanya, dan berkata: “Nak bukankah ibu sudah melarangmu? Ibu keras padamu semata karena ibu mengasihimu. Ibu tahu kamu takut dan sakit, tapi jangan takut, ibu di sini. Ibu akan membuatmu baik-baik saja. Asalkan engkau percaya pada ibu!” Dengan menyesal anak itu memeluk ibunya. Tahukah saudara, kasih ibu itu tidak hanya menghapus rasa sakitnya, tapi juga memberinya keamanan dan keutuhan hidup. Bukankah Allah kita juga demikian, nampak jelas dalam teks hari ini.
Injil Yohanes ini ditulis oleh Rasul Yohanes dan merupakan satu dari keempat Injil yang tidak termasuk dalam Injil sinoptik (melihat bersama). Dalam hal ini Injil Matius, Markus dan Lukas, dimana ketiganya memiliki narasi dan urutan peristiwa yang mirip sehingga dapat “dilihat bersama” secara paralel. Sedangkan gaya penulisan dan struktur Injil Yohanes berbeda, lebih reflektif, teologis dan simbolis. Yohanes tidak hanya menceritakan apa yang Yesus lakukan, tetapi menafsirkan makna rohani dari setiap tindakannya. Yohanes juga menekankan keilahian Yesus, relasinya dengan Bapa dan hidup kekal melalui iman kepada-Nya.
Dalam Yohanes pasal 3 ini menceritakan percakapan antara Nikodemus dan Yesus. Ia datang pada malam hari karena penasaran sekaligus takut. Penasaran karena ia tahu bahwa Yesus berbeda “guru yang diutus Allah” dan ia ingin belajar dari-Nya. Sedangkan ketakutannya disebabkan perjumpaan tersebut dapat mengancam posisinya sebagai pemimpin agama Yahudi (Sanhedrin). Kendati demikian Yesus tetap menerima dan memilih membahas topik yang menarik yakni kelahiran baru dan hidup yang kekal. Namun karena Nikodemus tak kunjung memahaminya maka Yesus membandingkan diri-Nya dengan patung ular tembaga yang tertulis dalam Bilangan 21: 4-9 untuk menjelaskan bagaimana keselamatan itu dikerjakan. Saudara-saudara bukankah Nikodemus mewakili orang yang religius tetapi belum mengenal kasih karunia (Theis teoritis ateis praktis). Yesus menunjukkan bahwa keselamatan hanya mungkin melalui Anak Manusia yang akan ditinggikan.
Ketika bangsa Israel mengeluh, tidak taat dan berdosa dalam perjalanan di padang gurun, Tuhan mengizinkan ular berbisa menggigit mereka hingga mengakibatkan kematian. Namun karena Ia adalah kasih maka menyuruh Musa untuk membuat patung ular tembaga yang diangkat ditiang dan siapa yang memandangnya dengan percaya akan disembuhkan. Patung ular itu adalah simbol bagaimana Allah menyelamatkan umat-Nya dari kematian. Patung ular tebaga yang diletakkan di tempat yang tinggi adalah gambaran bagaimana Allah menyediakan jalan keselamatan bahkan ketika bangsa itu bersalah dan menyakiti hati-Nya. Hal itu digenapi dalam Yesus, Ia yang ditinggikan di kayu salib adalah jalan bagi manusia berdosa untuk dapat selamat dan memperoleh hidup kekal. Sekalipun dosa memiliki konsekuensi yang berat namun kasih Allah tetap menyediakan jalan keselamatan, dan barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal.
Saudara-saudara, inilah keindahan kasih Allah. Kasih-Nya tidak hanya membebaskan kita dari hukuman dosa, tetapi juga memulihkan seluruh bagian hidup kita. Pemulihan menyeluruh inilah yang hari ini kita sebut sebagai keutuhan. Pertama, hati yang dipulihkan. Dengan diampuninya dosa maka kita hati kita merasa damai sebab rasa bersalah dan ketakutan tidak lagi mengintimidasi. Kedua, pikiran diperbaharui. Dengan Roh Kudus yang ada dalam hidup kita, Ia memberi hikmat dan arah sehingga pikiran pun menjadi jernih. Ketiga, Tindakan diselaraskan. Dengan kasih-Nya maka kitab isa mengasihi, memaafkan, menolong, membawa damai. Saudara-saudara jika digambarkan maka hidup kita dulu berantakan seperti puzzle; tapi kasih Kristus menyusunnya menjadi utuh.
Saudara-saudara, mari kita naikan skala keutuhan dalam ber-GKSBS dengan beberapa hal yang mendesak: Pertama, kesejahteraan holistic yakni, memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan anggota jemaat yang meliputi aspek spiritual, mental, emosional, sosial dan fisik. Kedua, gereja inklusi yakni, melawan praktik memandang muka serta mengidentifikasi serta mengatasi berbagai hambatan non-fisik (stigma = cap, anggapan, penilaian negatif) yang dialami oleh jemaat penyandang disabilitas. Ketiga, persekutuan inklusif yang memberdayakan yaini, memperkuat koordinasi, komunikasi, dan rasa saling memiliki antara Sinode, Klasis, dan Jemaat, dengan memegang Visi serta PPHP secara seragam dan berkomitmen bersama, sehingga persekutuan semakin kuat dalam menjalankan pelayanan.
Pada akhirnya, kiranya kasih Allah yang memulihkan keutuhan itu terus kita bagikan kepada sesama sebagai wujud kita mengasihi Allah. Ingatlah bahwa kita ada karena anugerah-Nya; kita dipanggil menjadi instrumen yang dipakai untuk memperkenalkan Kristus. Biarlah segala kemuliaan hanya bagi Allah. Amin.
Nyanyian dan Ayat
Nas Pembimbing : Mazmur 107:1
Berita Anugerah : Mazmur 130:7
Nas Persembahan : Mazmur 54:8
Nyanyian :
Nyanyian Pembukaan : PKJ 13
Nyanyian Pujian : PKJ 2
Nyanyian Peneguhan : KJ 39
Nyanyian Responsoria : PKJ 179
Nyanyian Persembahan : PKJ 265
Nyanyian Penutup : PKJ 201


Leave a Reply