Khotbah Minggu, 3 Mei 2026
Warna Liturgi : Putih
Minggu Paskah V
Perikop : Yohanes 15: 9-17
Shalom jemaat yang dikasihi Tuhan, jika kita perhatikan kehidupan di sekitar kita, kasih sering kali diukur dengan untung dan rugi. Selama orang lain baik pada kita, kita mau mengasihi. Tapi kalau dia melukai atau mengecewakan, kasih itu mudah hilang. Dunia ini mudah memberi kasih, tapi juga mudah menariknya kembali. Berbeda dengan ajaran kasih Tuhan kita Yesus Kristus terkhusus dalam Injil Yohanes, memberi teladan kasih yang berbeda. Ia tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi hidup di dalam kasih itu. Di pasal 15 ini, Ia berkata, “Seperti Bapa telah mengasihi Aku, demikianlah juga Aku telah mengasihi kamu; tinggallah di dalam kasih-Ku itu.” Perkataan ini muncul bukan di masa senang, tapi menjelang penderitaan-Nya. Artinya, kasih Yesus bukan hanya ketika waktu bahagia, tapi juga di tengah penderitaan dan tantangan.
Jemaat yang dikasihi Tuhan, Injil Yohanes pasal 15 adalah bagian dari percakapan Yesus menjelang penyaliban-Nya. Ia berbicara dengan murid-murid-Nya di malam terakhir sebelum Ia diserahkan. Yesus tahu bahwa sebentar lagi murid-murid-Nya akan menghadapi ketakutan, kehilangan, dan tekanan. Karena itu Ia memberikan pesan penting tentang kasih dan kesetiaan. Jika kita perhatikan pada ayat 9–10, Yesus menjelaskan tentang kasih-Nya kepada murid-murid bersumber dari kasih Bapa kepada-Nya. Kasih itu tidak berkurang walau dalam penderitaan. Yesus mengasihi dengan kasih yang tetap, bukan sementara. “Tinggallah di dalam kasih-Ku” berarti hidup dalam relasi yang terus menerus dengan Kristus bukan hanya mengenal-Nya, tetapi menyatu dengan-Nya dalam ketaatan dan kasih.
Dalam ayat 12–13, Yesus memberikan perintah: “Supaya kamu saling mengasihi seperti Aku telah mengasihi kamu.” Dan Ia menegaskan: “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” Ini menunjuk langsung pada karya salib, kasih yang rela berkorban. Kasih sejati tidak mencari keuntungan diri, tetapi berani berkorban demi kebaikan orang lain. Kemudian, Yesus menyebut para murid bukan lagi hamba, melainkan sahabat (15). Dalam budaya waktu itu, hamba tidak memiliki kedekatan pribadi dengan tuannya. Tapi Yesus mengangkat relasi mereka menjadi hubungan persahabatan yang berarti sebuah tanda kasih yang terbuka, saling mengenal, dan saling mempercayai. Pada ayat 16–17 Yesus menegaskan bahwa Ia telah memilih murid-murid-Nya untuk pergi dan menghasilkan buah yang tetap. Buah itu adalah tanda bahwa mereka sungguh-sungguh tinggal dalam kasih Kristus. “Buah” berarti tindakan kasih, pengampunan, pelayanan, dan kesetiaan kepada Allah dan membawa damai bagi sesama. Pada bagian ini kita melihat bahwa kasih bukan hanya perasaan, tetapi panggilan hidup. Yesus tidak meminta kita sekadar berkata “aku mengasihi Tuhan”, tetapi untuk hidup dalam kasih itu setiap hari. Artinya apa?
Pertama, tinggal dalam kasih berarti hidup dalam relasi yang dekat dengan Yesus. Banyak orang mengenal nama Yesus, tapi belum tentu tinggal di dalam Dia. Tinggal berarti melekat, seperti ranting yang tidak bisa hidup tanpa pokok anggur dan menghasilkan buah yang sama dengan pokoknya. Jangan seperti benalu terlihat menempel namun tidak menghasilkan buah yang sama dengan pokoknya. Jadi Jika kita menjauh dari kasih Kristus, kita mudah layu oleh kebencian, iri hati, dan amarah. Tapi bila kita melekat pada-Nya, kasih-Nya mengalir dan memberi hidup pada kita.
Kedua, kasih sejati itu aktif, bukan pasif. Kasih yang diajarkan Yesus selalu diwujudkan dalam tindakan nyata yaitu menolong yang lemah, mengampuni yang bersalah, dan melayani tanpa pamrih. Dunia mengenal kasih yang menuntut balasan, tapi kasih Kristus adalah kasih yang memberi tanpa mengharapkan imbalan.
Ketiga, tinggal dalam kasih membuat kita berbuah. Buah kasih itu bisa terlihat dalam kesabaran terhadap keluarga, kerelaan memaafkan, kepedulian pada yang menderita, dan kesetiaan dalam pelayanan. Buah kasih tidak diukur dari seberapa besar keberhasilan, tetapi dari seberapa tulus kita hidup bagi Tuhan dan sesama. Seperti ketika sudah berusaha keras tapi tidak dihargai, tetap berbuat baik tetapi dicurigai dan tetaplah tinggal dalam kasih itu dengan melakukan kasih dengan saling mengasihi.
Dan keempat, kasih membawa keutuhan. Kasih Kristus bukan hanya memperbaiki relasi kita dengan Tuhan, tetapi juga menyatukan kita dengan sesama. Gereja yang hidup dalam kasih adalah gereja yang utuh, tidak mudah dipecah oleh perbedaan, tidak saling menjatuhkan, melainkan saling menopang satu dengan yang lain. Yesus berkata, “Inilah perintah-Ku: supaya kamu saling mengasihi.” Artinya, kasih itu bukan pilihan, tapi kewajiban bagi setiap pengikut Kristus. Tanpa kasih, pelayanan menjadi kosong. Tanpa kasih, ibadah hanya rutinitas. Tanpa kasih keluarga menjadi tidak damai dan yang lain sebagainya. Maka hiduplah dalam kasih sehingga setiap tindakan, perkataan bahkan pemikiran kita dapat menjadi kesaksian hidup tentang Kristus.
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus, sebagai Jemaat GKSBS, kita hidup dalam konteks masyarakat yang sedang berubah cepat. Banyak orang kehilangan arah dan kasih karena tekanan ekonomi, perbedaan pandangan, atau rasa kecewa. Dalam situasi seperti ini, Yesus memanggil kita untuk tetap tinggal dalam kasih-Nya dalam keadaan apapun. Kasih Kristus memampukan kita untuk tetap melayani walau tidak dihargai, tetap mengampuni walau disakiti, dan tetap bersatu walau berbeda pendapat. Ketika kasih itu hidup di tengah jemaat, tidak akan ada iri dan dengki. Sebaliknya, jemaat menjadi tempat yang membawa kedamaian bagi siapa pun yang datang.
Kasih yang berbuah juga berarti menjadi berkat bagi lingkungan. Kasih Kristus tampak lewat hal-hal sederhana: menolong tetangga yang kesulitan, menghargai orang lain, bersikap jujur dalam pekerjaan, dan menjadi sahabat bagi yang kesepian. Setiap tindakan kecil yang dilandasi kasih akan menghasilkan buah besar bagi keutuhan hidup bersama. Yesus berkata, “Aku telah memilih kamu.” Ini artinya kita bukan kebetulan menjadi bagian dari gereja. Kita dipanggil untuk menjadi saluran kasih-Nya di dunia. Meskipun hidup dalam kasih bukan hal yang mudah, tapi ini juga bukan hal yang mustahil. Yesus telah lebih dulu mengasihi kita tanpa syarat. Ia rela mati agar kita hidup dalam kasih dan keutuhan. Mari kita tinggal dalam kasih itu, bukan hanya di gereja, tetapi juga di rumah, di ladang, di tempat kerja, dan di tengah masyarakat. Biarlah kasih Kristus yang tinggal dalam hati kita menghasilkan buah yang indah: kedamaian, pengampunan, dan kesetiaan. Amin!
Nas Pembimbing : Yeremia 33:3
Berita Anugerah : Mazmur 130:7
NasPersembahan : Mazmur 96:8
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : KJ 2
- Nyanyian Pujian: KJ 434
- Nyanyian Peneguhan: KJ 39
- Nyanyian Responsoria : KJ 178
- Nyanyian Persembahan : KJ 450
- Nyanyian Penutup : PKJ 185


Leave a Reply