Dengan Sabar dan Tekun, Pemerintahan Allah Terus Bertumbuh

Khotbah Minggu, 7 Juni 2026

Warna Liturgi : Hijau
Minggu Biasa V
Perikop: Markus 4:26-34

Saudara-saudara yang dikasihi Tuhan Kristus.
Dalam dunia yang serba cepat dan mengutamakan hasil instan, kita sering kali menjadi tidak sabar. Kita ingin doa dijawab sekarang, masalah selesai segera, dan perubahan terjadi dalam sekejap. Ketidaksabaran ini seringkali membawa kita pada kekecewaan dan keraguan, terutama ketika kita melihat kehidupan rohani kita atau keadaan di sekitar kita sepertinya tidak berubah.

Namun, hari ini, melalui dua perumpamaan singkat yang Yesus sampaikan, kita diajak untuk melihat realitas yang sama sekali berbeda tentang bagaimana Tuhan bekerja. Yesus membukakan mata kita pada kebenaran bahwa pemerintahan atau kerajaan Allah (arti kerajaan Allah: pemerintahan Tuhan di dalam hati manusia dan di dunia ini, kerajan Allah bukan soal kekuasaan duniawai, tapi tentang kehadiran Allah dan pekerjaan Allah yang mengubah hati manusia dan dunia ini secara bertahap) itu nyata, aktif bertumbuh, dan akan mencapai tujuannya, meskipun seringkali dengan cara yang tersembunyi dan tidak tergesa-gesa. Marilah kita belajar dari biji sesawi dan benih yang bertumbuh di tanah.

  • Pertumbuhan kerajaan Allah bersifat rahasia dan tidak tergantung pada usaha kita (ayat.
    26-29)

Perumpamaan pertama menggambarkan seorang penabur yang hanya melakukan dua hal: manabur dan menuai. Di antara kedua momen itu, dia tidur dan bangun seperti biasa. Dia tidak tahu bagaimana proses pertumbuhan terjadi. Yang terjadi di dalam tanah adalah rahasia dan kuasa dari benih dan tanah itu sendiri.

Banyak dari kita yang kelelahan secara rohani karena kita merasa harus “membuat” kerajaan Allah bertumbuh. Kita berusaha memaksa pertobatan orang, mengkhawatirkan pelayanan, dan frustasi Ketika hasilnya tidak sesuai rencana. Yesus mengingatkan: tugas kita adalah menabur, bukan menumbuhkan. Kita menabur firman, kasih, kebaikan, dan kebenaran. Lalu, kita harus “tidur dan bangun” artinya kita tetap menjalani hidup dengan iman dan ketaatan sehari-hari, sambil mempercayakan proses pertumbuhan kepada kuasa Allah yang bekerja di balik layar.

  • Pertumbuhan kerajaan Allah dimulai dari hal kecil, tetapi memiliki dampak yang besar.
    (ayat 30-32)
    Perumpamaan kedua adalah tentang biji sesawi, yang dikenal sebagai biji terkecil yang ditanam petani pada zaman itu. Namun, dari biji yang hampir tak terlihat itu, tumbuh sebuah tanaman yang jauh lebih besar dari segala sayuran, hingga burung-burung dapat bersarang dibawah naungannya. Jangan meremehkan awal yang kecil! Kerajaan Allah seringkali hadir tidak dengan gemuruh dan spektakuler, tetapi melalui hal-hal sederhana, misalnya: sebuah kata penghiburan yang kita ucapkan, sebuah tindakan kasih yang tidak dikenal orang, sebuah doa singkat yang kita panjatkan, sebuah keputusan untuk jujur di tengah ketidak jujuran. Semua ini seperti biji sesawi. Kita mungkin merasa kontribusi kita tidak berarti, tetapi di tangan Allah, itu memiliki potensi untuk tumbuh menjadi sesuatu yang besar dan memberkati banyak orang (“burung-burung bersarang”). Jangan berkecil hati dengan kesederhanaan talenta, sumber daya, atau pengaruh kita. Menyerahkan “biji sesawi” kita kepada Tuhan. Iman sekecil biji sesawipun dapat memindahkan gunung. Apa “biji sesawi” yang bisa kita tabur hari ini di keluarga, tempat, kerja, atau komunitas kita
  • Sikap kita: sabar dan tekun dalam penantian akan tuaian.

Kedua perumpamaan ini mengarah pada satu panggilan sikap: kesabaran dan ketekunan. Sang penabur sabar menunggu musim menuai. Seorang petani tidak bisa memaksa tanaman tumbuh lebih cepat dengan menariknya. Kesabaran adalah keyakinan bahwa Tuhan bekerja meski kita tidak melihatnya. Ini adalah buah Roh (Gal. 5:22) yang lahir dari kepercayaan bahwa waktu dan proses Allah selalu tepat. Ketekunan adalah kesetiaan untuk terus menabur dan merawat, meski cuaca kehidupan terkadang tidak bersahabat. Itu adalah komitmen untuk tetap setia dalam hal-hal kecil sambil menantikan buah yang besar. Allah tidak terburu-buru, tetapi Ia juga tidak terlambat. Dia menjamin bahwa tuaian itu pasti akan tiba. “Apabila buah itu sudah cukup, ia pun segera menyabit, sebab musim menuai sudah tiba.”

Jemaat yang dikasihi Tuhan, Kerajaan Allah sedang bertumbuh di sekitar dan di dalam kita. Ia tidak selalu memenuhi headline berita, tetapi ia bekerja dengan setia seperti benih di tanah dan seperti biji sesawi yang kecil. Mari kita menjalani hidup dengan:

  1. Stop menjadi “tukang cemas” yang ingin mengontrol pertumbuhan kerajaan Allah. Lakukanlah bagian kita dengan setia, lalu beristirahatlah dalam kedaulatan Tuhan.
  2. Start menjadi “penabur yang percaya”. Jangan pandang remeh hal kecil yang bisa kita lakukan untuk kemuliaan-Nya. Taburkanlah firman, kasih, dan perbuatan baik dengan penuh iman.
  3. Bersabarlah dan tetaplah tekun. Percayakah bahwa di balik segala tantangan dan keheningan, Tuhan sedang keberja. Musim menuai – di mana keadilan, damai sejahtera, dan sukacita kerajaan Allah dinyatakan sepenuhnya – pasti akan datang.

Marilah kita keluar dari ibadah ini dengan hati yang tenang, penuh harap, dan siap untuk menabur dengan setia, karena kita tahu bahwa pemerintahan Allah terus bertumbuh dengan sabar dan pasti. AMIN


Nas Pembimbing : Mazmur 1:3
Berita Anugerah : Mazmur 32:1
Nas Persembahan : Amsal 11:25

Nyanyian :
1. Nyanyian Pembukaan : PKJ 192:1-3
2. Nyanyian Pujian : PKJ 226:1-3
3. Nyanyian Peneguhan : PKJ 232:1-3
4. Nyanyian Responsoria : PKJ 103:1-3

5. Nyanyian Persembahan : PKJ 145
6. Nyanyian Penutup : PKJ 131:1-2

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *