Hati Yang Tergerak Oleh Belas Kasihan

Khotbah Minggu, 5 Juli 2026
Warna Liturgi : Hijau
Minggu Biasa IX
Perikop : Markus 8:1-21

Jemaat yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus,

Bulan ini kita akan masuk dalam bulan diakonia yang selama satu bulan penuh jemaat se-sinode GKSBS akan melaksanakannya sekaligus dengan perayaan HUT Sinode GKSBS yang ke-39. Tema bulan diakonia tahun 2025 ini adalah: “Membangun Jatidiri Gereja Yang Utuh Dengan Berdiakonia”.

Firman Tuhan yang sudah kita baca adalah kisah Yesus memberi makan 4.000 orang dalam ayat 1-10, dan ini adalah peristiwa yang kedua Yesus memberi orang makan dalam jumlah yang besar. Sebelumnya, Yesus juga sudah memberi makan 5.000 orang dalam pasal 6:30-44. Dari kedua peristiwa ini, ada satu kata kunci yang sangat penting yaitu bahwa hati Yesus selalu tergerak oleh belas kasihan (psl. 6:34 dan psl. 8:2). Pertanyaannya adalah: “Mengapa hati Yesus tergerak oleh belas kasihan? Paling tidak ada dua penyebab: Pertama: Orang banyak itu sudah tiga hari mengikuti Yesus dan mereka tidak memiliki makanan, dan sekalipun mereka membawa bekal dari rumah masing-masing, pastilah sudah habis selama tiga hari itu. Kedua: Jika mereka disuruh pulang, apa lagi dalam kondisi lapar pasti lebih beresiko sebab rumah mereka jauh dan bisa-bisa mereka rebah dijalan. 

Jemaat yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus…,

Ada beberapa hal menarik dari firman Tuhan ini yang akan menjadi perenungan kita dalam pembukaan bulan diakonia khususnya terkait dengan belas kasihan:

Pertama: Belas kasihan akan muncul dengan sendirinya apa bila kita bisa menempatkan diri dalam posisi orang lain atau dalam bahasa yang umum ini disebut dengan empati. Inilah yang dilakukan oleh Yesus: “Bagaimana seandainya Saya yang mengalami itu atau ada diposisi itu?”. Dalam kitab-kitab Injil, kita sering menemukan Yesus berempati kepada orang lain termasuk ketika Ia menangis dalam kedukaan yang dialami oleh Maria dan Marta karena Lazarus saudara laki-laki mereka meninggal (Yoh. 11:35). Di era teknologi canggih seperti sekarang, sikap empati ini memang pelan-pelan sudah mulai tergerus walau di media sosial beberapa kali kita melihat jika ada orang yang tidak mampu lalu menjadi viral maka akan banyak bantuan. Ini tentu baik, namun secara umum, seiring berjalannya waktu sikap empati ini sudah semakin menipis. Gereja dalam hal ini Sinode GKSBS harus tetap memupuk empati ini agar tetap tergerak untuk menolong yang benar-benar butuh pertolongan.

Kedua: Berbelas kasih itu tidak harus menunggu banyak atau berkecukupan baru kita tergerak, tidak! Ketika Yesus hendak memberi makan 4.000 orang, bahan yang tersedia itu hanya tujuh roti dan beberapa ikan. Artinya secara hitung-hitungan tidak mungkin cukup. Tapi kita bukan mau membahas mujizat namun penekanannya adalah pada pertanyaan Yesus kepada murid-muridNya:: “Berapa roti yang ada padamu?”. Pertanyaan ini mengingatkan kita akan visi sinode GKSBS beberapa tahun yang lalu dalam berdiakonia. Artinya tidak harus menunggu banyak dan melimpah baru timbul belas kasihan, namun sekali lagi belas kasihan itu bersifat spontanitas karena kita memberikan yang ada pada kita. Paulus dalam suratnya kepada Timotius sampaikan bahwa: “……..tiap-tiap manusia kepunyaan Allah sudah diperlengkapi setiap perbuatan baik” (2 Tim.3:17). Artinya selalu ada sesuatu yang bisa menggerakkan hati kita untuk berbelas kasih. GKSBS bukanlah Sinode yang kaya, demikian juga Klasis-klasis yang ada bahkan sampai ke Jemaat-jemaat, tetapi belas kasihan itu bukan tergantung kepada kaya dan banyaknya yang kita miliki, karena selalu ada sesuatu yang bisa kita bagikan kepada sesama. Tapi apakah GKSBS selama sudah melakukan diakonia? Tentu saja iya, gempa di beberapa daerah di Indonesia beberapa waktu yang lalu, misalnya gempa di Bengkulu beberapa tahun yang lalu, sinode GKSBS langsung terjun melalui relawan-relawan yang langsung terjun kelapangan dalam memberikan bantuan, bahkan sinode telah membentuk Tim Tangguh Bencana yang juga sering memberikan pelatihan dalam penanggulangan bencana. Ini tentu sesuatu yang patut disyukuri. Ayo…Klasis dan Jemaat, apa yang bisa dilakukan dalam rangka mewujudkan diakonia ini?  Para narapidana butuh pelayanan, anak-anak yatim piatu butuh uluran tangan, lingkungan hidup butuh uluran tangan dan masih banyak lagi ladang pelayanan kita untuk berdiakonia…

Ketiga: Ada yang menarik dari terjemahan kata “bakul” dalam Markus pasal 6:43 dan pasal 8:20. Dalam pasal 6:43 bakul diterjemahkan dengan kata ”kofinos, (kofinos)” yaitu bakul yang dipergunakan oleh orang Yahudi untuk membawa makanan sedangkan dalam pasal 8:20 kata bakul diterjemahkan dengan kata “sfuris (sfuris)” yaitu keranjang yang memiliki tutup dan biasanya dipakai oleh orang-orang bukan Yahudi. Apa makna dari terjemahan ini? Markus dengan gamblang hendak menjelaskan bahwa belas kasihan Tuhan Yesus tidak hanya bagi orang Yahudi saja tetapi juga bagi orang-orang non Yahudi atau bahkan bagi semua orang. Demikian juga bagi semua jemaat GKSBS dimana pun berada, hendaknya kita berbelas kasih kepada semua orang tanpa memandang latar belakang mereka, sebagaimana Allah juga berbelas kasih kepada semua orang.  Demikian juga kita berbelas kasih kepada orang lain bukan dalam rangka mencari sensasi, tetapi karena memang belas kasih itu sudah menjadi bagian atau kodrat kita sebagai pengikut Kristus. Selamat berdiakonia. Tuhan Yesus memberkati. Amin !


Nas Pembimbing : Amsal 19:17
Berita Anugerah : Mazmur 103:2-3
Nas Persembahan : 2 Kor. 9:7

Nyanyian :

  1. Nyanyian Pembukaan : KJ 17: 1-3
  2. Nyanyian Pujian : KJ 467:1-3
  3. Nyanyian Peneguhan : PKJ 129:1-3
  4. Nyanyian Responsoria : KJ 424:1-3
  5. Nyanyian Persembahan : KJ 433
  6. Nyanyian Penutup : PKJ 264:1-3

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *