Khotbah Minggu, 12 Juli 2026
Warna Liturgi : Hijau
Minggu Biasa X
Perikop: AMOS 5: 21-24
Shalom ibu, bapak, dan Saudara/i
Ibu bapak saudara/i mungkin sering dengar atau bahkan hafal lagu PKJ 264 bait 1-3 karena sering kita nyanyikan. Mari kita nyanyikan lagu ini dan mari kita perhatikan setiap kalimat yang disampaikan di dalam lagu ini. Lagu tersebut memiliki lirik yang menjelaskan tentang ibadah yang dinyatakan dalam kasih kepada Tuhan dan sesama manusia. Hal ini menunjukkan bahwa Ibadah tidak hanya ritus yang dijadwalkan pada hari Minggu atau hari-hari khusus namun juga ibadah dapat dinyatakan dalam praktek kasih kepada sesama dan alam semesta. Artinya dalam ibadah kita tidak berhenti pada puji-pujian, alur liturgi, persembahan, dan berkat namun dapat hadir kepada kesusahan sesama kita, hadir mendampingi sesama kita apabila tidak menerima keadilan, dan mengulurkan tangan kita membantu sesama dengan berkat yang kita miliki. Nah dalam kehidupan kita saat ini adakah kerelaan untuk menyatakan kasih itu dalam tindakan. Mari kita lihat teks bacaan kita saat ini dalam kitab Amos bagaimana ibadah yang sebaiknya dipraktikan oleh kita?
Ibu, bapak dan saudara/i
Sebelum kita masuk dalam penjelasan teks, kita akan lebih dahulu memahami keadaan sosial yang terjadi ketika Amos menyampaikan tentang nubuatnya. Nabi Amos ini berasal dari Tekoa yang tidak jauh dari Yerusalem, ia bernubuat di Kerajaan Israel Utara pada masa pemerintahan raja Yerobeam II dan raja Uzia di Yehuda. Pada masa pemerintahan raja Yerobeam II dicirikan sebagai periode kemakmuran dan kedamaian yang belum terjadi sebelumnya, akan tetapi dibalik adanya kemakmuran dan kedamaian ada pula korupsi dan penindasan. Adanya korupsi dan penindasan ini diakibatkan kesenjangan sosial yang ada di masyarakat di mana yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Apalagi dengan sistem peradilan yang tumpul kepada kalangan elite (kelompok kecil orang-orang terpandang atau berderajat tinggi, agar mereka dapat mempertahankan posisi dan meningkatkan pendapatan, mereka memanipulasi pasar, menyuap para hakim, dan memaksa yang miskin untuk menjadi budak dikarenakan berhutang dengan kalangan elite. Lalu bagaiman dalam hal keagamaan mereka pada waktu itu? ternyata juga berdampak pada ritual ibadah yang diselenggarakan begitu semarak dengan mempersembahkan hewan-hewan yang tambun, dan nyanyian-nyanyian yang diiringi oleh musik agar indah. Ibadah didesain seindah mungkin agar sempurna dihadapan Tuhan sehingga apa yang dilakukan kalangan elite kepada orang miskin dianggap tidak bersalah dan berdosa. Singkatnya yang penting ibadah itu ritualnya dan motif lain dapat diartikan sebagai rayuan kepada Tuhan. Maka dari penjelasan secara sosial dan keagamaan kita dapat melihat situasi kepada muncul teks bacaan kita saat ini.
Ibu, bapak, dan saudara/i
Amos 5:21-24 menyampaikan tentang respon Tuhan kepada ibadah yang dilakukan oleh bangsa Israel diantaranya (pertama) Tuhan membenci, menghinakan, dan tidak senang kepada perkumpulan raya bangsa Israel, (kedua) persembahan yang diberikan tidak disukai oleh Tuhan, dan (ketiga) Tuhan tidak mau mendengar nyanyian-nyanyian lagu gambus. Sedangkan tiga hal tersebut merupakan bagian dalam ritual ibadah yang sudah menjadi kewajiban bagi bangsa Israel. Apalagi pada ayat 24 disampaikan bahwa “biarlah keadilan bergulung-gulung seperti air dan kebenaran seperti sungai yang selalu mengalir”. Adanya penekanan penting perihal keadilan dan kebenaran. Melalui penjelasan ini menunjukkan bahwa Tuhan memahami bagaimana keadaan yang sebenarnya yang dilakukan oleh bangsa Israel pada konteks waktu itu pada jaman nabi Amos bernubuat. Mereka mempersembahkan dan melakukan perayaan namun lupa kepada keadaan orang-orang disekitar mereka yang membutuhkan seperti penjelasan konteks yang sudah disampaikan di atas.
Ibu, bapak, dan saudara/i
Berdasarkan penjelasan teks tadi kita bisa memahami bahwa Tuhan tidak sedang membenci ritual ibadah itu sendiri namun Tuhan melihat bahwa yang dilakukan bangsa Israel hanya ritualnya dan mengabaikan tindakan yang baik sehingga ibadah terasa kosong. Maka Tuhan mengajak untuk melakukan keadilan dan kebenaran sebagai bagian dari ibadah itu sendiri. Sehingga ibadah yang dilakukan membawa dampak baik bagi sesama dan bukan sebaliknya menjadi kesengsaran bagi sesama manusia. Melalui perikop yang sudah kita baca pada saat ini, kita belajar bahwa penting ibadah yang membawa dampak baik bagi sesama, sehingga ibadah yang dilakukan lebih aktif. Apalagi dalam bulan diakonia pada saat ini, kita diajak bersama untuk membawa kasih dengan memberi dan melayani. Kita sebagai gereja perlu menyadari hal ini agar kita tidak hanya fokus pada diri sendiri dalam ritual ibadah kita yang sebenarnya bukan tidak benar namun kita juga fokus kepada keadaan keluarga kita, saudara-saudara, dan masyarakat yang membutuhkan uluran tangan kita. Lalu apa yang bisa dinyatakan, dimulai dari gereja yang terbuka untuk mendengar suara anak muda dan keberadaan sekolah Minggu, sudahkan kita memberi ruang yang luas kepada mereka, karena mereka gereja akan diteruskan. Demikian juga dengan orang-orang disekitar kita yang kesusahan apakah kita rela berbagi kepada mereka? atau ada syarat-syarat tertentu untuk berbagi contohnya kalau orang lain berbagi kepada kita maka kita berbagi, kalau kita mampu memberi namun kuatir nantinya kekurangan atau syarat-syarat lainnya. Dengan memberi dan melayani inilah menjadi salah satu contoh melaksanakan keadilan dan kebenaran.
Ibu, bapak dan saudara/i
Tidak lupa juga bahwa dalam PPHB tahun 2025-2030 terdapat satu isu yaitu keterbukaan yang di dalamnya berisi tentang keterlibatan aktif dan menjadi berkat bagi sesama. Hal ini semakin meneguhkan bahwa GKSBS sebagai gereja mengajak bersama kita yang mendengar untuk ikut serta memberitakan dan menyatakan semangat dalam pelayanan. Mari ibu, bapak dan saudara/i semua berita Firman Tuhan yang sudah kita dengar bersama menjadi pengingat kepada kita untuk mewartakan dengan hati yang teguh. Khotbah ini akan ditutup dengan kata-kata yang dibuatkan oleh google yaitu puisi yang berjudul Ibadah Sejati, Kasih yang nyata
Di ruang hening, saat doa dipanjatkan,
Hati berserah, jiwa merendahkan.
Bukan hanya kata, bukan hanya nyanyian merdu,
Ibadah sejati, lebih dari itu.
Ia bermula dari hati yang terjamah,
Oleh kasih Tuhan yang tiada bersalah.
Mengalirkan damai, mengusir gundah,
Membangunkan semangat, hidup berlimpah.
Namun ibadah tak usai di ambang pintu gereja,
Ia menjelma aksi, di dunia yang meraja.
Saat tangan terulur, hapus duka sesama,
Di situlah ibadah menemukan makna.
Dalam senyum tulus bagi yang tersisih,
Dalam waktu yang dibagi, tanpa pamrih.
Menjadi terang di tengah kegelapan pekat,
Membawa harapan, bagi yang terikat.
Setiap perbuatan baik, wujud nyata iman,
Bukan untuk puji, bukan untuk dikenan.
Tapi karena kasih, yang telah lebih dulu diberi,
Mengalirkan berkat, ke setiap sanubari.
Maka beribadahlah, dengan Roh dan kebenaran,
dan biarlah hidupmu jadi jawaban.
Dampak nyata kasih Kristus yang hidup,
Bagi sesama manusia, terang yang tak redup
Nas Pembimbing : 1 Yohanes 3 : 18
Berita Anugerah : Yesaya 43:25
Nas Persembahan : Mazmur 90:8
Nyanyian :
Nyanyian Pembukaan : PKJ 23
Nyanyian Pujian : PKJ 212
Nyanyian Peneguhan : KJ 36
Nyanyian Responsoria : KJ 260
Nyanyian Persembahan : PKJ 148
Nyanyian Penutup : KJ 412


Leave a Reply