Kotbah Minggu, 19 Juli 2026
Warna Liturgi : Hijau
Minggu Biasa XI
Perikop : Markus 10:35-45
Shalom!
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak asing dengan istilah titip/titipan, budaya itu dilakukan oleh penduduk tempo dulu ketika ada tetangga yang hendak bepergian belanja atau menuju tempat dimana ada saudara kita tinggal, maka biasanya kita titip kebutuhan pokok, surat dan sebagainya, begitu juga ketika kita pergi, menitipkan rumah dan sebagainya dengan tetangga terdekat. Istilah titip/titipan memiliki makna lain dalam dunia politik saat ini, dimana banyak sekali oknum, karena kepentingan pribadi tidak segan menitipkan orang-orangnya untuk posisi tertentu. Dalam kepemimpinan di pemerintahan kita masih banyak juga hal tersebut kita dapati, semoga tidak dengan gereja atau sinode GKSBS.
Pada bacaan kita hari ini pun ada sebuah kisah dan motivasi yang berbeda pada murid-murid Yesus, ada yang meminta posisi atau menitipkan jabatan, ada yang bereaksi atas pemanfaatan kedekatan, namun Yesus memberi teladan sikap yang tegas sebagai pemimpin. Untuk terhormat dan di hargai bukan soal posisi dan jabatan namun soal karakter, kerendahan hati, pengurbanan dan pengabdian seperti tema kita hari ini. Dalam memeringati identitas gereja yaitu berdiakonia, maka kita akan belajar beberapa hal agar bisa menjadi pemimpin sejati yang rendah hati, rela berkurban dan penuh pengabdian adalah sebagai berikut:
Pertama; Memiliki Kesadaran Diri Dan Peka
Sebagai wujud keutuhan dan kedewasaan iman, belajar dari Yakobus dan Yohanes, ada nilai yang positif, mereka memebri diri dan siap untuk suatu posisi, tentu ini tidak semua orang bisa. Namun dalam kondisi ini yang diperlukan adalah kepekaan, sering kali maksud baik belum tentu akan berujung baik dan dibalik semua itu, jika motivasi melakukan sesuatu hanya untuk kepentingan pribadi maka akan menimbulkan konflik. Dengan demikian berdiakonia adalah sebuah identitas kita dan cirri khas orang percaya, seyokyanya dilakukan dalam sebuah kepekaan dan kesadaran diri yang utuh sebagai gereja, bukan lagi karena kita berbeda namun karena mereka butuh. Maka jawaban Yesus sangat tepat sekali, engkau tidak tahu apa yang engkau minta. Dan sering kali kita bagi pribadi ataupun dalam komunitas kita meminta dan melakukan sesuatu hanya berfokus pada diri dan lembaga bukan untuk kemuliaan Kristus.
Kedua; Tidak Agresif Dan Responsif
Kerendahan hati dan kerelaan untuk berkurban adalah aplikasi dari sebuah ritual ibadah dan inilah yang disebut ibadah sejati, yaitu menjalani hidup dalam kasih dan penuh belas kasihan. Belajar dari murid-murid yang lain, mereka cepat dalam mengambil sebuah tindakan dengan respon marah. Setiap hari minggu kita diajak menaikkan doa kebulatan tekat untuk hidup dalam kasih, namun berapa sering kita mengabaikannya setelah pulang beribadah, karena kita terlalu agresif dan cepat merespon, namun terlalu lambat untuk memikirkannya dan melihat dari sudut pandang Yesus. Dialog juga merupakan nilai GKSBS, maka dalam merespon situasi dan kondisi teladan Yesus sebagai pemimpin dengan memanggil semua murid dan member penjelasan dalam komunikasi adalah wujud keutuhan dan kemandirian serta keterbukaan yang sesungguhnya. Warga gereja adalah keluarga, majelis jemaat dan warga jemaat pun adalah keluarga, maka GKSBS pun adalah bagian dari keluarga, yang dibangun dalam kerelaan dan pengabdian, memulai dari ketiadaan namun terus dapat berbagi dengan sesama, dengan memulainya dari komunikasi, merespon dengan sabar dan bertindak dengan santun kiranya menjadi kekhasan kita.
Ketiga; Berani Mengalah Dan Siap Diberi Tanggungjawab
Ungkapan “Memang kamu akan meminum cawan yang harus Kuminum dan akan dibabtis dengan babtisan yang harus Kuterima”. Ini adalah sebuah peringatan bagi semua orang percaya bahwa tidak ada alasan lagi untuk tidak berbagi dan berani memberi, baik pengampunan, ide dan gagasan, materi, tenaga dan pikiran, serta kesiapan untuk melaksanakan misi Allah. Serta tanda kedewasaan yang sesungguhnya adalah kesiapan untuk memberi kesempatan bagi pihak lain untuk berkarya dan menggantikan posisi kita, namun sekaligus kita tidak lari jika diberi tanggungjawab. Berani mengalah juga adalah wujud berbagi yang tak ternilai besarannya, karena tidak semua orang bisa dan mau, namun sebagai GKSBS kita diajak bersama bahwa kasih sejati adalah keberanian member kepada pihak lain meskipun kita dalam keterbatasan.
Keempat; Memberi Diri Seutuhnya
Klimaks dari bacaan kita adalah di ayat 43-45, bicara kepemimpinan, bicara keutuhan, kemandirian dan keterbukaan serta berdiakonia adalah keutuhan hidup kita, mula-mula kita berikan kepada Allah dan kemudian mewujudkannya melalui hal-hal sederhana dengan berbagi apa yang ada pada kita. Yesus memberikan sebuah metode kepemimpinan yang melayani dan bukan otoriter, bos juga dekokratis, namun kepemimpinan menghamba. Setiap kita dipanggil untuk meneladani Yesus, bahwa barang siap ingin menjadi pemimpin maka ia harus siap di pimpin, barang siapa ingin dilayani maka ia harus melayani terlebih dahulu.
Bapak ibu yang dikasihi Tuhan Yeus Kroistus, dalam memeringati bulan Diakonia dan merayakan sukacita GKSBS mari wujudkan identitas berbagi kita sebagai bentuk kemandirian yang utuh dan matang serta berani terbuka, baik sebagai pemimpin dan yang dipimpin dengan menjalani hidup dalam kerendahan hati, pengurbanan dan pengabdian yang dilakukan dengan kesadaran diri serta menjadi pribadi yang terus peka, tidak merespon segala sesuatu dengan tergesa-gesa sehingga tetap tenang dalam kondisi yangtidak nyaman, keberanian untuk mengalah dan dapat bertanggungjawab jika diberi mandate juga terus meneladani Yesus dengan member diri seutuhnya dalam melaksanakan misi Allah. Tuhan Memberkati
Nas Pembimbing : Galatia 6:2
Berita Anugerah : Mazmur 103:10-13
Nas Persembahan : Amsal 11:24-25
Nyanyian :
Nyanyian Pembukaan : PKJ 8:1-6
Nyanyian Pujian: PKJ 177:1-3
Nyanyian Peneguhan: PKJ 184:1-2
Nyanyian Responsoria : PKJ 185:1-5
Nyanyian Persembahan : PKJ 264:1-
Nyanyian Penutup : PKJ 183:1-2

Leave a Reply