Pendidikan Membangun Bangsa yang Utuh dan Berhikmat
Bapak Ibu saudara-saudari yang terkasih, hari ini kita memasuki sebuah masa istimewa dalam perjalanan gerejawi kita — Bulan Pendidikan dan Kebangsaan. Bulan ini bukan sekadar rangkaian kegiatan seremonial atau momen penghargaan bagi dunia pendidikan, tetapi sebuah kesempatan bagi kita untuk merenungkan kembali panggilan sebagai komunitas yang mendidik, membentuk, dan memperbarui kehidupan bangsa melalui hikmat Allah.
Sebelum lanjut mari kita baca Amsal 1:7 untuk membuka saresehan kita
Isi dari Amsal 1:7 ini seperti sebuah kunci yang membuka seluruh makna pendidikan sejati.
Firman Tuhan ini menuntun kita kepada akar dari segala pengetahuan yaitu takut akan Tuhan.
Apa artinya “takut akan Tuhan”? Tentu bukan ketakutan seperti seorang fobia yang berjumpa dengan hal yang ditakutinya, melainkan kata takut di sini harus dipahami sebagai rasa hormat, kagum, dan tunduk kepada Allah sebagai sumber kehidupan dan kebenaran. Dalam takut akan Tuhan, manusia menyadari bahwa hidup ini bukan miliknya sendiri.
Pengetahuan, kepandaian, bahkan kemerdekaan yang kita miliki, semuanya adalah anugerah. Dan setiap anugerah mengandung tanggung jawab. Maka, pendidikan sejati selalu dimulai dari kesadaran bahwa aku belajar bukan untuk berkuasa, tetapi untuk melayani; aku menuntut ilmu bukan untuk meninggikan diri, tetapi untuk memuliakan Tuhan.
Bapak Ibu saudara-saudari, di zaman kita hari ini, begitu banyak orang pandai, tetapi sedikit yang bijak. Begitu banyak gelar, tetapi sedikit karakter. Begitu banyak sekolah, tetapi sedikit tempat yang benar-benar menumbuhkan hati yang takut akan Tuhan. Kita mungkin bisa menciptakan alat-alat canggih, tapi kita masih sulit menciptakan masyarakat yang saling menghargai. Kita punya sekolah tinggi, tapi tidak jarang kehilangan rasa kemanusiaan tentu ini sebuah ironi.
Bapak Ibu saudara-saudari, melalui Bulan Pendidikan dan Kebangsaan tahun 2026, inilah saatnya kita kembali ke akar, bahwa segala pengetahuan harus lahir dari rasa hormat kepada Sang Pemberi Hikmat?
“Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” Ayat ini seolah menegur lembut, tapi juga tegas yang menyatakan bahwa tanpa iman, pengetahuan akan kehilangan arah. Kita bisa tahu banyak hal, tapi tidak tahu untuk apa kita hidup. Kita bisa menjadi ahli di bidang tertentu, tapi gagal menjadi manusia yang benar.
Maka pendidikan yang benar tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi membentuk hati (Karekter yang penuh Kasih). Pendidikan sejati tidak berhenti pada penguasaan ilmu, tapi harus sampai pada penguasaan diri. Sikap Takut Akan Tuhan akan menumbuhkan kesadaran moral, tanggung jawab sosial, dan kepekaan rohani. Di sinilah gereja dapat mengambil peran, yaitu menjadi ruang belajar yang hidup, tempat di mana iman, kasih, dan kebijaksanaan bertumbuh bersama. Setiap kebaktian, setiap persekutuan, setiap keluarga Kristen, pada hakikatnya adalah sekolah kehidupan, tempat kita belajar mengenal Tuhan dan sesama.
Sampai dengan kesadaran ini, maka pertanyaan bagi kita adalah, apakah rumah kita sudah menjadi sekolah iman bagi anak-anak kita? Apakah kita, sebagai orang tua atau jemaat, masih menjadi guru yang menuntun dengan kasih dan teladan? Ataukah kita hanya menyerahkan urusan pendidikan kepada sekolah, tanpa menyadari bahwa mendidik adalah panggilan rohani?
Bapak Ibu saudara-saudari, bacaan alkitab kita tidak berkata “takut akan Tuhan adalah permulaan ilmu,” tetapi “permulaan pengetahuan.” Dalam bahasa Ibrani, kata da‘at berarti lebih dari sekadar mengetahui fakta atau dapat diartikan mengenal secara mendalam melalui relasi. Artinya, orang yang takut akan Tuhan bukan hanya tahu tentang Allah, tetapi hidup bersama Allah. Pengetahuan sejati tidak hanya menambah informasi, tetapi membentuk karakter. Dan di situlah muncul kata berikutnya: “hikmat.” Hikmat bukan sekadar tahu apa yang benar, tetapi melakukan yang benar pada waktu yang tepat dengan hati yang benar.
Bapak Ibu saudara-saudari, melihat perkembangan zaman, seringkali kita bertemu dengan pandangan yang menyanjung pengetahuan, tetapi sering mengabaikan hikmat. Kita menghormati kepintaran, tetapi menertawakan kebijaksanaan. Kita mengagumi inovasi, tetapi lupa bahwa tanpa kasih, semua inovasi bisa menjadi alat kehancuran.
Teks Alkitab yang kita baca berkata “Orang bodoh menghina hikmat dan didikan.” Kebodohan di sini bukan soal kurang pintar, melainkan kesombongan rohani, sikap hati yang menolak dididik, menolak diajar, menolak dibentuk. Dan di situlah kehancuran manusia dimulai: ketika kita merasa tidak lagi perlu belajar dari Tuhan, dari sesama, dan bahkan dari sejarah.
Kata “didikan” dalam Amsal berasal dari akar kata yang berarti “mendisiplinkan,” “menuntun,” atau “membentuk.” Didikan adalah proses panjang, tidak instan, dan kadang menyakitkan. Namun tanpa didikan, tidak ada pertumbuhan. Seperti besi yang ditempa dalam api untuk menjadi kuat, begitu pula iman dan karakter manusia dibentuk melalui disiplin dan pengalaman.
Bapak Ibu saudara-saudari, di sinilah tantangan besar kita hari ini: kita hidup di zaman yang serba cepat dan instan. Anak-anak ingin hasil tanpa proses, keberhasilan tanpa perjuangan. Cara pandang inilah yang seringkali menjadi penghalang bagi kita untuk menerima didikan. Atau pertanyaan reflektifnya adalah Apakah kita masih mau dibentuk oleh Tuhan, bahkan ketika prosesnya tidak nyaman? Apakah kita mau belajar dari kegagalan, atau kita lebih suka menyalahkan keadaan?
Bapak Ibu saudara-saudari, didikan Tuhan tidak bertujuan menjatuhkan, melainkan menguatkan. Ia mengajar kita untuk setia, untuk tahan uji, dan untuk menjadi saksi di tengah dunia yang haus makna.
Bapak Ibu saudara-saudari, bacaan alkitab kita ini bukan hanya bicara tentang pribadi, tetapi juga tentang bangsa. Bangsa yang besar bukan hanya karena ketersediaan sumber daya alamnya, tetapi karena hikmat moral dan spiritual rakyatnya. “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan,” ini bukan sekadar prinsip rohani, tetapi juga prinsip kebangsaan. Bangsa yang takut akan Tuhan adalah bangsa yang menghargai kebenaran, menegakkan keadilan, dan mengasihi sesamanya. Namun, bila bangsa mulai menghina hikmat dan didikan, maka korupsi, kebencian, dan ketidakadilan akan tumbuh subur. Pendidikan kehilangan jiwa, dan kebangsaan kehilangan arah. Dalam keadaan (situasi) inilah gereja dipanggil untuk menjadi penjaga nurani bangsa, bukan malah ikut-ikutan dengan keadaan, kehilangan arah, menghalalkan korupsi, dan bukan juga dengan berteriak di jalan, tetapi dengan terus menyalakan terang pendidikan yang berakar pada iman.
Bapak Ibu saudara-saudari, kita mendidik generasi bukan hanya untuk menjadi cerdas, tetapi untuk menjadi manusia yang berhikmat dan berbelas kasih. Kita tidak hanya mengajar membaca dan menulis, tetapi juga mengajarkan kejujuran, tanggung jawab, dan cinta tanah air. Maka pertanyaannya bagi kita adala, apakah di GKSBS kita dapat menemukan pendidikan yang mengarah untuk menumbuhkan rasa cinta kepada bangsa dan sesama?
Apakah pendidikan di GKSBS melahirkan generasi yang berakar dalam iman dan bertumbuh dalam kasih? (beri kesempatan jemaat berkomentar)
Bapak Ibu saudara-saudari, dalam setiap masa, Tuhan memanggil semua orang Kristen untuk menjadi guru kehidupan. Mungkin kita bukan guru di sekolah, tapi kita mengajar lewat keteladanan. Contohnya, seorang ibu yang mengajarkan anaknya berdoa itu berarti dia adalah guru. Seorang petani yang bekerja jujur, itu berarti ia adalah guru. Seorang pelayan gereja yang sabar melayani tanpa pamrih itu juga berarti ia adalah guru.
Bapak Ibu saudara-saudari, setiap kita, dalam lingkup kecil atau besar, sedang menjadi guru bagi sesama. Berangkat dari pemahan ini, maka pertanyaannya adalah: apa yang sedang kita ajarkan melalui hidup kita? (beri kesempatan jemaat menjawab)
Kita mungkin tidak sadar, tapi anak-anak, tetangga, bahkan rekan kerja sedang belajar dari cara kita berbicara, bekerja, dan memperlakukan orang lain. Jika hidup kita berakar pada takut akan Tuhan, maka orang lain akan belajar takut akan Tuhan juga. Mari kita bertanya dalam hati: Apa yang sedang dipelajari orang dari hidupku? Apakah hidupku mengajarkan hikmat, atau justru kebingungan? Apakah aku sedang menuntun, atau tanpa sadar menyesatkan? Gereja tidak akan pernah kekurangan murid, tapi gereja bisa kehilangan guru yaitu saat jemaat berhenti hidup dalam keteladanan.
Bapak Ibu saudara-saudari, dalam banyak hal, pendidikan di dunia kita telah menjadi alat kompetisi. Anak-anak belajar bukan untuk memahami, tetapi untuk menang. Guru mengajar bukan untuk menumbuhkan, tetapi untuk mengejar target. Pada situasi inilah bacaan Alkitab mengingatkan kita, bahwa pendidikan yang sejati adalah pendidikan yang menyembuhkan. Pendidikan menjadi obat bagi kebodohan. Dengan hikmat, kita mengobati penyakit yang bernama kesombongan dengan kerendahan hati, dan mengobati kebencian dengan kasih. Ketika gereja hadir di tengah masyarakat, kita dipanggil untuk menjadi ruang belajar yang menyembuhkan, di mana orang diterima apa adanya, diajar dengan kasih, dan ditumbuhkan dengan sabar.
Pendidikan bukan pekerjaan mudah. Pendidikan membutuhkan cinta, tapi juga keberanian. Mendidik berarti berani menegur, tapi juga berani mengampuni. Mendidik berarti sabar menunggu pertumbuhan, bukan memaksa hasil. Dan semuanya berawal dari satu hal yaitu takut akan Tuhan. Karena hanya orang yang takut akan Tuhan yang berani mengasihi tanpa pamrih. Hanya orang yang menghormati Tuhan yang sanggup menghormati manusia lain tanpa pandang bulu.
Bapak Ibu saudara-saudari, ayat yang kita renungkan hari ini bukan hanya untuk dihafalkan, tetapi untuk dijalani. “Takut akan Tuhan adalah permulaan pengetahuan.” Artinya, setiap kali kita belajar, bekerja, mengajar, melayani, bahkan memimpin, kita harus mulai dengan takut akan Tuhan. Karena tanpa Tuhan, semua kecerdasan akan kehilangan arah. Tapi dengan Tuhan, bahkan hal yang sederhana bisa menjadi sumber hikmat.
Bapak Ibu saudara-saudari, mari kita jadikan Bulan Pendidikan dan Kebangsaan ini sebagai momentum untuk memperbarui tekad: untuk belajar lagi dari Tuhan, untuk menjadi pendidik yang berhikmat, dan untuk membangun bangsa yang utuh yaitu bangsa yang berdiri di atas kasih dan kebenaran. Amin


Leave a Reply