Pada Rabu dan Kamis, 23 dan 24 September 2026, Corrie Van Der Ven dan Josien Van Der Klauw berkunjung ke Sinode GKSBS dan Yabima Indonesia. Ibu Corrie adalah Program Officer Kerk In Actie – Protestance Kerk in Nederland untuk Asia. Kunjungan ini adalah kunjungan informal, oleh karenanya topik-topik yang dibicarakan juga dalam suasana dan makna yang santai. Tetapi tentu saja tidak akan mengurangi muatan yang dipercakapkan yang pasti menarik dan saling memberi inspirasi bagi hubungan GKSBS dan Kerk In Actie – PKN.
Kemitraan antara gereja-gereja di Indonesia, tepatnya 33 Sinode di antara anggota PGI, memiliki sejarah yang cukup panjang dengan Protestance Kerk of Nederland (PKN). Keterlibatakn GKSBS sebagai bagian dari kemitraan ini bahkan sempat mendaulat GKSBS menjadi tuan rumah pelaksanaan Konferensi Nasional tentang Panggilan Diakonia pada tahun 2007 yang lalu dan diselenggarakan di Wisma Centrum Sinode GKSBS. Pada satu dekade terakhir, konsep kemitraan ini mengalami perubahan yang awalnya gereja-gereja di Indonesia dapat menjalin kerjasama bilateral atau church to church dengan PKN (atau juga Kerk In Actie) maka kini kemitraan melalui PGI dengan dibentuknya steering committee. Menjelang pertemuan kemitraan emansipatoris PGI-PKN yang akan dilaksanakan di Maluku tahun 2027 yang akan datang, hal ini menjadi salah satu topik yang diungkapkan oleh Sekretaris MPS GKSBS, Pdt. Riyadi Basuki, S.Si, M.A untuk memberikan beberapa pandangan kepada Ibu Corrie Van Der Ven dan Ibu Josien Van Der Klauw dari PKN yang berkesempatan berkunjung ke GKSBS dan Yabima Indonesia. Tentu ini adalah pertemuan tidak formal, apalagi khusus untuk menjaring masukan-masukan berkaitan dengan kemitraan emansipatoris. Bukan. Tetapi dalam percakapan yang terjadi, baik GKSBS maupun Kerk In Actie saling mengisi dengan beberapa issue kekinian yang sedang berkembang, baik di Asia (Indonesia) maupun Eropa. Bertukar cerita dari kedua pihak.

Ibu Corrie menyampaikan bahwa Protestance Kerk in Nederland (PKN) adalah gereja kecil dari negara kecil jika dibandingkan dengan Indonesia. Maka sebetulnya kemitraan emansipatoris itu memunculkan satu pertanyaan reflektif yang harus dijawab dengan kejujuran, yaitu : Apakah gereja-gereja di Indonesia sungguh-sungguh ingin bermitra dengan PKN? Jadi bukan saja PKN yang bermitra dengan gereja-gereja di Indonesia. Di samping tentu saja keberadaan steering committee perlu terus mendapatkan masukan-masukan mengenai posisi dan tugasnya dalam kemitraan emansipatoris ini.
Melalui pertemuan dan percakapan yang saling membagikan cerita dan issue terkini yang kemudian dapat direfleksikan bersama ini, kemudian berkembang pada kejadian gelombang panas yang melanda Eropa pada pertengahan tahun ini. Menurut Ibu Josien hal ini membuat kaget seluruh masyarakat Eropa karena Eropa jarang sekali mendapatkan bencana. Ibu Corrie kemudian menyampaikan bahwa bencana ini bukan soal gelombang panas belaka tetapi ada issue yang lebih serius yaitu tantang perubahan iklim dan fenomena kurang pedulinya masyarakat Belanda terhadap nilai solidaritas pada sesamanya. Dalam issue perubahan iklim misalnya, di Belanda muncul kesadaran bahwa kekeringan ternyata bisa dialami oleh mereka. Selain adanya gelombang panas yang terjadi, sungai-sungai di Belanda juga mengalami penurunan debit air. Kesadaran tentang ini mau tidak mau kemudian disikapi oleh pendisiplinan diri untuk menghemat air yang dimulai dari anak-anak, kemudian mengurangi konsumsi karena konsumsi itu mempengaruhi perubahan iklim. Perubahan kesadaran ini juga membawa pola pembelian mobil listrik yang meningkat di Belanda. Ada pergeseran dari mobil berbahan bakar fosil atau minyak bumi ke kendaraan listrik.

Ada satu hal yang menarik yang diungkapkan Ibu Corrie yaitu bahwa PKN sungguh tertarik tentang Spiritualitas Keugaharian yang dicetuskan oleh gereja-gereja di Indonesia. Karena masalah-masalah yang muncul dewasa ini, seperti yang disebutkan di atas, tidak hanya didekati secara ekonomis tetapi perlu sekali didekati juga dengan spiritualitas. Maka spiritualitas ugahari ini mampu memberi warna di tengah-tengah dunia ini. Pdt. Riyadi Basuki kemudian menyampaikan bahwa di GKSBS, spiritualitas ini sudah dimulai dihidupi lebih dari 10 tahun yang lalu, yaitu melalui nilai asketisme untuk berbagi. Bahkan nilai asketis ini diwujudkan dalam liturgi-liturgi GKSBS, misalnya dalam Masa Perayaan Paskah dan Pentakosta (MPPP) dimulai dengan pengolesan abu di Rabu Abu, pembasuhan kaki di kamis putih, dan aksi puasa paskah yang dijalankan dengan beberapa bentuk puasa dan pantang, yaitu untuk berbagi dengan sesama. Hal ini semacam gayung bersambut bahwa di Belanda juga belakangan ini terjadi peningkatan kelompok miskin (tuna wisma), meningkatnya politik sayap kanan yang menolak imigran, dan nasionalisme sempit yang cenderung tidak baik untuk membangun solidaritas antar sesama.

Pdt. Riyadi Basuki kemudian menceritakan tentang salah satu issue yang sedang dikerjakan oleh GKSBS sejak periode MPS yang lalu, adalah issue keterbukaan. GKSBS membangun nilai inklusifitas melalui program Rumah Kasih Mandiri yang memberikan perhatian pada disabilitas untuk juga melakukan ibadah sendiri dan mengembangkan jejaring dengan Pusat Rehabilitasi Yakkum (PRY) tentang kinesio terapi dan sarana alat bantu bagi disabilitas untuk beraktifitas. Juga tentang SMP Kristen Seputih Raman yang menjadi lembaga pendidikan Kristen yang memiliki program rutin untuk mengajak peserta didik berkunjung ke rumah-rumah ibadah dan melaksanakan dialog dengan tokoh-tokoh agama di rumah ibadah yang dikunjungi, yaitu Masjid, Pura, Vihara, Gereja Katolik dan Gereja Protestan.
Pdt. Suko Wismono kemudian memperdalam cerita tentang pengalaman GKSBS dalam mengembangkan nilai-nilai inklusifitas yang kerjakan di GKSBS Tulangbawang OKU Timur dan GKSBS Way Hitam melalui komunitas ternak sebagai alat untuk perjumpaan dan membangun keterbukaan. Bahkan Pdt. Suko Wismono sendiri sudah memiliki hubungan baik dengan salah satu komunitas pesantren salafi di OKU Timur dan menjadi pendeta pertama yang diundang dan diijinkan live in di pesantren dan mengikuti kajian-kajian yang mereka lakukan. Membangun pertemanan dengan yang lain bisa dilakukan dengan berbagai cara dan alat, salah satunya adalah komunitas petani dan peternak.

Dkn. Dwi Setyo Harjanto dalam kesempatan ini membagikan cerita tentang keterlibatan GKSBS dalam Pengurangan Risiko Bencana (PRB). Melalui Gerakan Kemanusiaan dan Solidaritas Bagi Sesama (gkSbs), GKSBS telah lama ambil bagian dalam gerakan solidaritas kebencanaan ini sejak tsunami Aceh, Gempa Bengkulu, Gempa Sumatera Barat, Gempa Mentawai, Gempa-tsunami-likuifaksi di Palu, dan terakhir keterlibatan GKSBS di Flores, NTT. Bahkan juga beberapa bencana vulkanik gunung api seperti di Sinabung dan gunung Merapi. Saat ini Sinode GKSBS menjadi bagian dari Jaringan Komunitas Kristen untuk Penanggulangan Bencana (JAKOMKRIS PBI).
Satu hal yang menjadi ciri khas gerakan kemanusiaan ini adalah ketika memilih dan menentukan titik lokasi daerah layanan adalah daerah yang belum banyak bantuan masuk dan terpencil, terdapat pengungsi/komunitas mandiri sangat diperhatikan dan relawan harus sedapat mungkin live in bersama penyintas untuk hadir menemani dan mengorganisir. Dalam mengirim personil pun, akan dimulai dengan tim assessment yang bergerak cepat di lokasi bencana yang kemudian akan dilanjutkan oleh tim berikutnya untuk psikososial. Tim dari gkSbs sedapat mungkin terdiri dari pendeta, anggota majelis, pemuda, dan anggota jemaat yang lain yang bisa secara kemampuan dan waktu. Untuk layanan yang utama, gkSbs memilih psikososial bagi kelompok rentan yang ada di dalam komunitas penyintas. Tetapi jejaring yang dimiliki sangat terbuka untuk bekerjasama di lapangan, misalnya menghubungkan komunitas rentan ini dengan bantuan-bantuan yang dimiliki oleh lembaga-lembaga besar lainnya seperti YEU dan PELKESI dengan layanan kesehatan, ADRA dengan sarana-sarana, MDS yang juga bergerak di psikososial, dan lembaga-lembaga lainnya.

Berbagi cerita dan pengalaman melalui pertemuan ini pasti menumbuhkan inspirasi baik untuk PKN mupun untuk GKSBS dan Yabima.
Penulis : Dwi Setyo Harjanto


Leave a Reply