Bapak Ibu Saudara saudari yang terkasih dalam Kristus,
Kini kita memasuki Bulan Diakonia dan HUT GKSBS. Pada masa ini kita diajak untuk tidak hanya berbicara tentang kasih, tetapi menghadirkannya dalam tindakan yang nyata yaitu dengan menolong yang lemah, membela yang tertindas, memberi pengharapan bagi yang putus asa, dan menjadi tanda kehadiran Allah di tengah dunia. Inilah hakikat diakonia yaitu pelayanan yang lahir dari kasih Allah dan menumbuhkan keutuhan di antara manusia.
Mari kita membuka firman Tuhan dari Yesaya 58:6–10. (Pemimpin atau salah satu jemaat membacakan teks)
Berdasarkan bacaan Alkitab kita, maka obrolan kita dalam saresehan ini akan dibagi menjadi 5 bagian, sebagai berikut :
Bagian 1 – Ibadah yang Sejati adalah Keadilan dan Kasih
Nabi Yesaya berbicara kepada umat yang rajin beribadah, rajin berpuasa, rajin menaikkan doa. Tetapi Allah menegur mereka karena ibadah itu tidak melahirkan keadilan. Mereka berpuasa, tetapi tetap menindas sesamanya; mereka berdoa, tetapi menutup mata terhadap penderitaan orang miskin.
Allah berkata: “Bukan! Puasa yang Kukehendaki ialah supaya engkau membuka belenggu kelaliman, melepaskan tali kuk, memerdekakan orang yang teraniaya, dan memecah-mecah roti bagi orang yang lapar.”
Bapak Ibu Saudara saudari, di sini kita belajar bahwa ibadah sejati bukan sekadar ritual, tetapi harus juga ada aksi utnuk mewujudkan keadilan dan kasih. Ketika gereja hanya berhenti pada nyanyian dan doa, namun menutup mata terhadap ketidakadilan, maka ibadah kita kehilangan maknanya.
Bapak Ibu Saudara saudari mari kita bertanya kepada diri kita sendiri: Apakah ibadah kita di gereja sudah melahirkan kasih yang nyata bagi sesama? Siapa di sekitar kita yang mungkin masih terbelenggu oleh kelaparan, kemiskinan, atau kesepian? Apakah kita sudah berbuat sesuatu bagi orang/keluarga tersebut, atau kita biarkan begitu saja? (Beri waktu sejenak bagi jemaat merenung lalu berbagi.)
Ibadah sejati memanggil kita untuk bergerak keluar, untuk mengulurkan tangan, untuk menjadi tanda kasih Allah di dunia. Saat kita melakukan keadilan dan kasih, maka pada saat itulah terang Tuhan bersinar di tengah umat-Nya.
Bapak Ibu Saudara saudari mari kita mulai Bulan Diakonia ini dengan langkah sederhana contohnya dengan membuka mata dan hati. Cobalah lihat satu keluarga atau satu orang di sekitar kita yang sedang membutuhkan uluran tangan. Tidak perlu jauh, bisa tetangga, sahabat, atau sesama jemaat. Tuliskan nama mereka dalam hati, dan berdoalah agar Tuhan menuntun kita melayani mereka dengan kasih, bulatkan tekad kita untuk berbuat sesuatu bagi orang tersebut. (beri waktu jemaat merenung)
Bagian 2 – Pelayanan yang Lahir dari Belas Kasih Kristus
(Markus 8:1–21)(bacakan)
Bapak Ibu Saudara saudari, dari teks Alkitab yang baru kita baca di situ kita membaca bahwa Yesus melihat banyak orang yang mengikutinya dan berkata, “Aku kasihan kepada orang banyak ini.” Lalu Ia memberi makan empat ribu orang dengan tujuh roti dan beberapa ikan kecil.
Bapak Ibu Saudara saudari pelayanan Yesus selalu lahir dari belas kasih bukan karena ada proyek, bukan karena ingin dipuji, tetapi karena hati-Nya tergerak oleh cinta.
Bapak Ibu Saudara saudari, belas kasih adalah akar dari setiap tindakan diakonia. Tanpa belas kasih, pelayanan kita hanyalah kegiatan sosial biasa. Tetapi dengan belas kasih, pelayanan kita menjadi jalan bagi kehadiran Allah.
Pertanyaannya adalahApakah pelayanan kita selama ini lahir dari belas kasih, atau dari keharusan dan rutinitas? Atau karena kehausan akan pujian? Kapan terakhir kali hati kita benar-benar digerakkan belas kasih oleh penderitaan orang lain? (Berikan ruang refleksi hening atau diskusi singkat antarjemaat.)
Bapak Ibu Saudara saudari, ketika kita memberi dengan kasih, kita tidak sedang menurunkan derajat diri, melainkan sedang menaikkan martabat sesama sebagai ciptaan Allah. Kristus memberi makan ribuan orang bukan untuk memamerkan kuasa, tetapi untuk mengembalikan martabat manusia yang lapar, agar mereka baik secara fisik maupun rohani.
Bagian 3 – Sukacita dalam Memberi
Pelayanan diakonia bukan beban, melainkan sukacita. Gereja tidak diminta memberi karena berkelebihan, tetapi karena bersyukur. Karena ini syukur maka gereja tidak perlu menunggu ada sisa pada Kas baru kemudian bisa berbagi, namun karena ini syukur maka, berbagi seharusnya dianggarkan, bukan menunggu sisa. Hal penting yang perlu kita inga bahwa memberi bukan kehilangan, tetapi menemukan kebahagiaan sejati.
Bapak Ibu Saudara saudari pertanyaan yang muncul adalah, mengapa sering kali kita sulit memberi? Apakah karena takut kekurangan, atau karena belum percaya bahwa Allah mencukupkan? (beri waktu jemaat merenung dan berkomentar)
Bapak Ibu Saudara saudari Diakonia sejati lahir dari iman yang percaya bahwa kasih Allah tidak pernah habis. Ketika kita berbagi, kita sedang mempercayakan hidup kita pada Allah yang memelihara.
Bapak Ibu Saudara saudari Selama Bulan Diakonia ini, setiap kita (pribadi/keluarga) diajak menetapkan satu aksi nyata untuk kita lakukan secara pribadi (atau keluarga), bisa berupa bahan pangan, bantuan dana, atau waktu untuk menjadi relawan. Ingat berdiakonia itu bukan seberapa besar nilainya, tetapi seberapa tulus hatinya.
Bagian 4 – Gereja sebagai Keluarga Allah yang Melayani
(Efesus 2:19–22) (bacakan)
Paulus berkata bahwa kita “bukan lagi orang asing, melainkan anggota keluarga Allah.”
Artinya, gereja bukan sekadar organisasi, melainkan keluarga yang dipersatukan oleh kasih Kristus. (bhs jawa : Sedulur)
Keluarga Allah tidak bisa menutup mata terhadap penderitaan saudaranya. Jika satu bagian tubuh sakit, seluruh tubuh turut merasakannya. Begitulah gereja: saling memikul beban, saling menopang, dan saling menguatkan. Inilah yang disebut kasih akan tersa jika dilakukan bersama dalam konsep persaudaraan (Jawa : Paseduluran).
Dengan kesadaran ini maka pertanyaan pentingnya bagi kita adalah Apakah gereja kita sungguh hidup sebagai keluarga Allah? Apakah persekutuan kita adalah tempat di mana setiap orang merasa diterima dan dicintai? Apakah ada orang di sekitar kita yang merasa tidak punya tempat di gereja ini? Apakah ada orang di sekitar kita yang merasa tidak berharga di gereja ini? (beri kesempatan jemaat merenung dan memberikan komentar)
Bapak Ibu Saudara saudari, mari kita jadikan gereja tempat yang aman dan penuh kasih.
Selama Bulan Diakonia ini, mari kita buka ruang bagi anak muda yang merasa tidak didengar, orang tua yang merasa sendirian, dan anak-anak yang tidak dianggap. Rancang kegiatan bagi mereka agar gereja menjadi “Rumah” bagi mereka. Jangan biarkan gereja berdiri mengah namun kopong.
Bagian 5 – Membangun Jati Diri Gereja yang Utuh
Bapak Ibu Saudara saudari, jati diri gereja tidak dibangun dari gedung megah atau kegiatan besar yang menghabiskan dana konsusmsi berjuta-juta, tetapi dari kasih yang diwujudkan dalam pelayanan. Ketika gereja memberi makan orang lapar, menghibur yang berduka, membela yang tertindas, di situlah wajah Kristus tampak nyata.
Inilah jati diri GKSBS: Gereja yang hidup dalam keutuhan, keterbukaan, dan kemandirian melalui kasih yang melayani.
Bapak Ibu Saudara saudari sebagaimana yang kita sudah alami beberapa tahun belakangan ini bahwa puncak Bulan Diakonia adalah Hari Ulang Tahun GKSBS. Hal ini menjadi peringatan panggilan bahwa “Gereja bukan untuk dirinya sendiri, tetapi untuk dunia yang dikasihi Allah.”
Sampai dengan ini maka pertanyaan reflektif bagi kita adalah, apakah jika orang di luar gereja melihat kehidupan kita, apakah mereka melihat wajah Kristus yang penuh kasih? Apakah masyarakat di sekitar gereja bisa berkata, “Syukur ada GKSBS di daerah kami, karena kehadiran GKSBS daerah kami, maka kami bisa merasakan kasih Allah”? (beri waktu jemaat merenung dan memberi komentar)
Bapak Ibu Saudara saudari, mari kita rayakan HUT ke 39 GKSBS tahun ini dengan cara baru, yaitu bukan hanya dengan ucapan selamat, tetapi dengan tindakan kasih. Biarlah seluruh kegiatan kita selama bulan Juli ini kita arahkan pada memberi bantuan, kunjungan kasih, pelayanan sosial, atau hal lainnya yang merupakan persembahan hidup kita bagi Tuhan yang telah terlebih dahulu melayani kita. Amin


Leave a Reply