Khotbah Minggu, 25 Oktober 2026
Warna Liturgi : Hijau
Minggu Biasa XXV
Perikop : Rut 1:1-18
Shalom jemaat yang terkasih di dalam nama Tuhan Yesus Kristus,
Pada Masa Perayan Hidup Berkeluarga di tahun ini, kita mengucap syukur kepada Tuhan karena kasih setia-Nya atas setiap keluarga kita masing-masing. Sekalipun ada banyak hal yang terjadi di dalam kehidupan keluarga kita, Tuhan tetap setia menolong kita. Dalam menghayati MPHB tahun ini, kita diingatkan kembali bahwa keluarga bukan sekadar tempat tinggal, namun keluarga adalah taman kasih, sekolah kehidupan dan altar pertama untuk kita mengenal Allah. Karena, melalui keluarga, iman kita ditumbuhkan, kasih kita diuji dan kesaksian kita menjadi nyata diwujudkan. Dengan demikian, tema khotbah pada hari ini ialah Membangun Keluarga dengan Kasih Setia.
Hari ini kita belajar dari sebuah kisah keluarga dari Rut 1:1-18, yang memuat sebuah lukisan tentang kehidupan sebuah keluarga yang sedang diperhadapkan dengan pergumulan yang bertubi-tubi. Keluarga tersebut adalah keluarga Elimelekh.
Kisah ini berawal dari situasi kelaparan di tanah Israel. Elimelekh bersama Naomi istrinya dan kedua anaknya pergi ke daerah Moab. Setelah sampai di sana, tidak lama kemudian, Elimelekh meninggal. Naomi tinggal bersama kedua anaknya, yaitu Mahlon dan Kilyon, lalu keduanya mengambil perempuan Moab, Orpa dan Rut untuk dijadikan istri mereka. Setelah 10 tahun bersama, Mahlon dan Kilyon pun meninggal.
Perpindahan dari tanah Israel ke daerah Moab, bagi keluarga Naomi berakhir dengan tragis. Ia harus diperhadapkan dengan sebuah kenyataan, yaitu kehilangan suami dan kedua anaknya, kehilangan tempat tinggal di Moab yang hanya bertahan selama 10 tahun, lalu pada akhirnya Naomi kehilangan semuanya, baik sumber penghidupan maupun harapan untuk masa depan keluarganya.
Titik balik terjadi ketika Naomi mendengar bahwa Tuhan telah memperhatikan umat-Nya dan memberikan makanan kepada mereka. Lalu, Naomi bersiap untuk pulang kembali ke tanah Yehuda bersama dengan kedua menantunya, Orpa dan Rut. Dalam perjalan pulang, Naomi memperlihatkan suatu perubahan pikiran, yaitu sebuah penyesalan. Naomi meminta agar kedua menantunya tidak mengikuti dia kembali ke tanah Yehuda, tetapi kembali ke rumah orangtuanya di Moab. Yang dilakukan oleh Naomi adalah wujud kasihnya kepada kedua menantunya. Naomi begitu memikirkan tentang masa depan dari kehidupan kedua menantunya, karena ia juga menyadari sebagai peremuan tua dan miskin, ia tidak lagi dapat memberikan apa-apa kepada mereka. Akhirnya, Orpa, dengan air mata, ia memilih untuk menerima kebebasan itu dan kembali ke Moab. Namun, Rut memilih pilihan untuk tetap tinggal. Naomi tetap mendesak Rut untuk mengikuti jejak Orpa. Namun, Rut merespons dengan sebuah pengakuan iman dan kesetiaan. “Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku; di mana engkau mati, aku pun mati di sana, dan di sanalah aku dikuburkan.” (16-17).Rut telah menunjukan komitmen kasih setianya untuk tetap tinggal bersama dengan Naomi.
Apa yang telah dilakukan oleh Rut ini adalah wujud nyata dari kasih setia (Ibrani: hesed). Hesedbukan hanya sekadar rasa sayang atau emosi, tetapi kasih yang aktif, loyal, penuh pengobanan dan bertahan bahkan ketika segala sesuatunya terasa tidak ada harapan lagi. Inilah pondasi yang Allah kehendaki untuk kita bangun di dalam kehidupan keluarga kita masing-masing.
Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
Dari kisah keluarga Naomi ini kita dapat mengambil beberapa prinsip penting untuk membangun kehidupan keluarga kita dengan kasih setia:
- Kasih setia adalah pilihan, bukan hanya sekadar perasaan saja. Naomi dengan tidak hanya memikirkan diri sendiri, ia memilih untuk membebaskan kedua menantunya agar dapat kembali kepada orangtuanya. Dan Rut memilih untuk tetap setia tinggal bersama Naomi. Demikian juga keluarga kita, kasih setia harus menjadi sebuah pondasi dari setiap keputusan dan komitmen kita. Ketika diperhadapkan dengan berbagai pilihan, kita tetap memilih untuk setia kepada kelaurga, mengasih pasangan, anak-anak, dan orangtua kita.
- Keberanian untuk menghadapi perubahan. Naomi dan Rut berani meninggalkan tanah Moab dan kembali ke tanah Yehuda meskipun mereka sedang menghadapi ketidakpastian. Hal ini mengingatkan kita untuk dapat memiliki keberanian mengambil langkah-langkah baru dalam hidup, meskipun itu mungkin menakutkan.
- Pengharapan di tengah kesulitan kehidupan keluarga. Meskipun Naomi sedang mengalami kesedihan dan kehilangan, dia tetap kembali ke tanah asalnya dengan sebuah harapan yang baru akan masa depan yang lebih baik. Hal ini mengingatkan dan mengajarkan kepada kita agar tetap berpengharapan dan percaya bahwa Tuhan akan menyediakan jalan hidup yang lebih baik, bahkan di saat-saat tersulit sekalipun.
Saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
Melalui kisah Naomi dan Rut ini, kita diingatkan bahwa keluarga yang dibangun dengan kasih setia adalah keluarga yang tangguh. Ia mungkin terluka, tetapi tidak mudah hancur. Ia mungkin mengalami kepahitan seperti Naomi, tetapi selalu ada harapan, karena kasih setia dari Tuhan Yesus Kristus. Amin.
Nas Pembimbing : Mazmur 112:1-2
Berita Anugerah : Mazmur 103:3
Nas Persembahan : Kisah Para Rasul 20:35
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : KJ 286
- Nyanyian Pujian : KJ 288
- Nyanyian Peneguhan : KJ 289
- Nyanyian Responsoria : KJ 447
- Nyanyian Persembahan : KJ 450
- Nyanyian Penutup : KJ 451


Leave a Reply