Khotbah Minggu, 18 Oktober 2026
Warna Liturgi : Hijau
Minggu Biasa XXIV
Perikop : Markus 10:2-12
Bapak ibu yang terkasih dalam nama Kristus,
Kembali kita menghayati kehidupan berkeluarga dan saat ini kita akan diberkati dan ditolong untuk menghayati kehidupan berkeluarga dari firman Tuhan yang terambil dalam Injil Markus 10:2-12. Memang tidak asing lagi bagi kita tentang pengajaran mengenai pernikahan, yang pada intinya orang Kristen tidak boleh bercerai. Dalam teks ini Tuhan Yesus menjelaskan dalam sebuah jawaban diskusi dengan orang – orang Farisi mengenai perceraian. Orang-orang Farisi mengutip kembali kisah Musa yang memberikan surat cerai pada masa itu, namun Yesus melihat dari sisi yang lain tentang hal tersebut, yakni tentang ketegaran hati bangsa Israel yang pada akhirnya Musa menerbitkan surat cerai. Artinya bukan Musa menyetujui perceraian namun lebih kepada mengikuti tuntutan bangsa Israel saat itu. Landasan yang Yesus sampaikan sudah sangat jelas dengan mengutip bunyi kitab Kejadian 2:24.
Bapak ibu yang terkasih, mari kita perhatikan beberapa hal penting dalam teks ini :
1.Manusia tidak diperkenankan bercerai atau menceraikan sebuah pernikahan.
Maksudnya ialah Allah yang telah mempersatukan dan memberkati maka Allah juga yang berhak memisahkan pasangan suami isteri yaitu dengan kematian.
2.Perceraian terjadi akibat kebebalan hati manusia.
Bercerai adalah kehendak manusia apabila dalam pernikahannya terjadi sebuah persoalan yang pada akhirnya menjadikan hal tersebut dipakai sebagai alasan untuk berpisah. Pada intinya setiap orang akan mencari pembenaran sendiri. Jika demikian cerai berarti cara menyelesaikan masalah rumah tangga dengan cara berpisah dan sekaligus menghujat dan membatalkan berkat pengurapan dari Allah, atas pernikahan. Maka dengan demikian cerai adalah dosa.
Saudara-saudari yang terkasih,
Saya yakin, bahwa sebenarnya konsep tersebut sudah tidak asing lagi bagi setiap orang Kristen. Namun demikian, mengapa sampai hari ini masih saja ada pasangan Kristen yang masih bercerai ? bahkan bukan hanya pasangan suami isteri yang masih muda, pasangan suami isteri yang sudah menikah di atas 20 tahun sekalipun masih melakukan perceraian. Apa dan siapa yang salah dalam hal ini ? Memang banyak faktor yang mendukung pasangan suami isteri pada akhirnya memutuskan untuk bercerai seperti misalnya perselingkuhan, kondisi ekonomi yang sulit, faktor kebosanan, Kekerasan dan lain lain. Sering kali pada masa-masa awal seseorang akan mengatakan bahwa “jodoh di tangan Tuhan”, tetapi pada saat berkonflik seseorang mengatakan ”Jodoh Kita sampai di sini”. Akan tetapi tidak sedikit juga pasangan suami isteri yang mengalami hal tersebut pada akhirnya tidak mengambil langkah untuk bercerai. Maka sebenarnya diperlukan sebuah perjuangan yang hebat dari masing-masing pasangan suami isteri untuk mempertahankan pernikahannya.
Setidaknya setiap pasangan harus memiliki prinsip bahwa :
- Tuhan pasti menolong setiap kesulitan keluarga
- Tuhan mengajarkan untuk saling mengampuni
- Tuhan mengajarkan pertobatan untuk setiap dosa
Maka dengan beberapa hal tersebut setiap keluarga terutama pasangan suami isteri akan dapat belajar untuk memperjuangkan keutuhan pernikahannya.
Pernikahan bukan hanya sekedar pertunjukkan bahwa sesorang telah mengakhiri masa lajangnya, atau hanya untuk bergaya karena musimnya orang menikah. Pernikahan Kristen bukanlah pernikahan biasa yang tidak perlu melakukan persiapan sebelumnya. Katekisasi pernikahan juga merupakan hal yang sangat pernting untuk gereja dapat membantu mempersiapkan diri bagi pasangan yang akan menikah. Setelah laki-laki dan perempuan menikah menjadi sepasang suami isteri maka sebenarnya perlu mengingat bahwa pernikahan adalah Anugerah Tuhan. Dengan memperjuangkan agar pernikahan tetap utuh sampai maut memisahkan maka sebenarnya kita sedang memuliakan nama Tuhan. Tidak ada pernikahan yang tidak memiliki tantangan/rintangan, tidak ada pernikahan yang didalamnya tidak ada kesalahan, maka ingatlah bahwa Tuhan pasti menyertai setiap hal yang kita alami dalam keluarga kita. Ingatlah kesetiaan dan janji Tuhan, ingat lah juga FirmanNya untuk menjadi pedoman dalam menjalani rumah tangga atau keluarga karena dengan demikian kita akan dimampukan untuk memperjuangkan keluarga kita tetap utuh dan damai sejahtera. Tidak ada perjuangan yang tanpa pengorbanan, namun perjuangan yang disertai pengorbanan akan menjanjikan kemenangan.
Selamat memperjuangkan keutuhan keluarga, kirannya Tuhan menyertai kita sekalian. Amin.
Nas Pembimbing : Kejadian 2: 21-25
Berita Anugerah : Roma 3:23-24
Nas Persembahan : Filipi 4: 18-19
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : PKJ 14
- Nyanyian Pujian : KJ 318 :1-2
- Nyanyian Peneguhan : PKJ 37:1
- Nyanyian Responsoria : PKJ 289 :1-2
- Nyanyian Persembahan : PKJ 145 :1
- Nyanyian Penutup : KJ 408:1-2


Leave a Reply