Khotbah Minggu, 1 November 2026
Warna Liturgi : Hijau
Minggu Biasa XXVI
Perikop : Yohanes 2 : 1-11
Shalom, saudaraku yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus
Di lingkungan di mana kita tinggal saat ini, pada saat ada kerabat, atau tetangga akan membuat sebuah pesta, maka kita pun diajak untuk rewang (membantu atau menolong). Biasanya dari pihak keluarga sudah membagi tugas-tugas dan tanggung jawab bagi para perewang. Itu artinya, setiap orang yang ikut rewang, harus dapat memastikan setiap tanggung jawabnya dapat dikerjakan dengan baik sampai acara selesai. Sehingga, dari pihak keluarga dapat fokus dalam acara-acara yang mereka buat. Hal yang hampir serupa juga yang dialami oleh Maria ibu Yesus. Saat berlangsungnya pesta perkawinan di Kana, terdapat sebuah kendala yang cukup besar, yaitu kehabisan persediaan anggur. Pada saat itu, anggur merupakan jamuan terpenting di dalam sebuah acara-acara besar. Dan kehabisan anggur dalam sebuah pesta merupakan hal yang mempermalukan atau bahkan menjadiaib sosial bagi keluarga.
Sebagai seorang ibu dan mungkin pada saat itu sebagai “panitia rewang”, Maria memerhatikan segala sesuatunya, dan ia mendapati bahwa persediaan anggur yang adalah lambang sukacita dan kemurahan hati, ternyata sudah habis. Maria, datang kepada Yesus dengan naluri seorang ibu yang percaya kepada anaknya, dan berkata: Mereka kehabisan anggur (3). Sebuah kalimat sederhana yang diucapkan oleh seorang ibu kepada anaknya. Ia tidak sedang memberi perintah atau pun solusi, tetapi ia menyampaikan sebuah pergumulan kepada Anaknya.
Dalam percakapan Yesus dan ibu-Nya (3-4), Maria yang menyampaikan bahwa persediaan anggur telah habis yang artinya sebagai hal yang sangat memalukan tuan rumah, sedangkan Yesus memusatkan perhatian-Nya pada misi utama-Nya, yang diisyaratkan dengan kata “Saat-ku (Yunani= waktu) belum tiba”. Tersirat sebuah kesan aneh cara Yesus merespons perkataan ibu-Nya, tetapi maksudnya jelas, yaitu Yesus mencegah kemungkinan salah pengertian bahwa Ia mungkin melakukan perintah siapa saja selain dari Bapa-Nya (bnd. 5:30; 8:29). Dan Maria pun dapat memahaminya dengan baik. Dia tidak tersinggung apalagi memaksa, tetapi justru berpaling kepada para pelayan dan berkata: Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu! (5).
Respons Maria yang sangat luar biasa, setelah ia menyampaikan pergumulannya dan mengakui kedaulatan-Nya, langkah berikutnya yang ia lakukan adalah percaya. Maria sebagai seorang ibu, percaya kepada Yesus anaknya dapat memberikan jalan keluar dari pergumulannya. Dan benar, Yesus memberikan jalan keluar yang terbaik atas apa yang digumuli oleh ibunya dan bukan hanya dirasakan oleh ibunya saja, tetapi oleh tuan rumah dan orang banyak yang hadir dalam pesta perkawinan tersebut. Air yang mereka isi ke dalam enam tempayan, berubah menjadi anggur. Bukan anggur biasa, tetapi anggur yang terbaik.
Saudaraku yang terkasih,
Dari sini kita dapat belajar beberapa hal penting untuk kita hidupkan di dalam kehidupan keluarga kita masing-masing:
- Relasi antara anggota keluarga harus dibangun dengan saling percaya. Seperti Maria yang adalah seorang ibu, ia percaya pada Anaknya. Ketika diperhadapkan dengan pergumulan, ia mau berbagi cerita dengan Anaknya. Bukan hanya untuk mendapat pertolongan, tetapi juga sebagai bentuk pengakuan dan kepercayaannya kepada Anaknya. Demikian juga kita, sebagai anggota keluarga – sebagai suami, istri, orangtua, dan anak –kita juga dapat saling percaya antara satu dengan yang lainnya. Ketika ada pergumulan, ceritakan kepada keluarga, sekalipun tidak dapat banyak membantu. Tetapi dengan menceritakan pergumulan kita, kita sedang mempercayakan diri kita kepada keluarga dan kita percaya bahwa keluarga akan selalu bersama-sama dengan kita.
- Keluarga Kristen harus dibangun atas dari iman yang benar, yaitu iman kepada Kristus Yesus. Seperti Maria yang menaruh imannya kepada Yesus, sekalipun ia tahu bahwa waktu Yesus belum tiba. Tetapi, ia tetap yakin bahwa, jika sudah menjadi waktunya Tuhan, maka semuanya akan menjadi baik. Begitu juga dengan keluarga kita, jika kita membangun keluarga dengan iman kepada Yesus, maka kita juga akan memperoleh berkat tepat pada waktu yang telah Tuhan sediakan bagi kita.
- Seperti tuan rumah yang melaksanakan pesta perkawinan, demikian juga Tuhan memberkati perjalanan kehidupan keluarga kita. Tetaplah beriman, dan melakukan segala sesuatu dengan ketaatan kepada Firman Tuhan. Sabar dalam segala hal, jangan mudah berputus asa, karena dari Muzijat Yesus “air menjad anggur” membawa kita pada sebuah keyakinan bahwa, segala sesuatu telah diatur sesuai dengan waktu-Nya.
Saudaraku, yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus,
Demikianlah firman Tuhan yang datang kepada kita pada saat ini, dan kita akan menutup Masa Perayaan Hidup Berkeluarga saat ini dengan sebuah keyakinan bahwa “Iman kita kepada Kristus telah mengakar di dalam setiap keluarga, dan Tuhan telah menjadikan keluarga kita sebagai berkat, teladan dan kesaksian bagi banyak orang” Tuhan Yesus memberkati kita semua. AMIN
Nas Pembimbing : Yesaya 54:10
Berita Anugerah : Mazmur 86:5
Nas Persembahan : Mazmur 116:12-14
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : KJ 1
- Nyanyian Pujian : KJ 38
- Nyanyian Peneguhan : PKJ 23 (2x)
- Nyanyian Responsoria : PKJ 205
- Nyanyian Persembahan : PKJ 271
- Nyanyian Penutup : KJ 451

No responses yet