Berbeda dan Bersatu

Khotbah Minggu, 31 Mei 2026

Warna Liturgi : Putih
Minggu Trinitas
Perikop: 1 Korintus 12: 1-11

Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus,
Indonesia bisa bertahan sebagai sebuah bangsa yang besar hingga hari ini karena kita masih menghidupi semboyan atau ideologi bangsa ini, yakni “Bhineka Tunggal Ika” yang bermakna berbeda-beda namun satu juga. Dari semboyan ini kita bisa menemukan bahwa perbedaan itu harus disatukan, bukan disamakan. Akan berbahaya jika perbedaan itu harus disamakan. Mengapa demikian? Karena perbedaan adalah sebuah kenyataan kehidupan yang tidak bisa ditampikkan. Dengan demikian, menyamakan perbedaan adalah sebuah tindakan yang sia-sia dan cenderung membawa kerusakan kepada realita kehidupan. Memang harus diakui bahwa perbedaan seringkali menjadi titik awal dari perselisihan dan perpecahan, jika tidak bisa dipelajari, dipahami dan diakomodasi dengan baik. Sederhananya, lebih mudah untuk mendorong perbedaan menuju kepada perpecahan daripada membawa perbedaan tersebut kepada persatuan, sebab diperlukan usaha ekstra untuk bisa membawa perbedaan menuju kepada persatuan.

Setidaknya, isu yang sama terkait dengan perbedaan dan ancaman persatuan yang demikian juga yang mendasari penulisan surat dari Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus. Pada saat surat ini ditulis, jemaat Korintus sedang mengalami gejolak akibat hal hal yang sangat teologis, salah satunya adalah mulai adanya penggunaan bahasa roh oleh beberapa jemaat. Bahasa roh ini tidak banyak dimengerti oleh anggota jemaat yang lain, sedangkan penuturnya berani memberi klaim secara sepihak bahwa itu adalah bahasa roh dan mengganggap yang tidak berbahasa roh sebagai orang yang tidak memperoleh karunia. Hal inilah yang membuat perselisihan dan menjadikan jemaat rentan terhadap perpecahan. Terkait dengan bahasa roh, pada akhirnya Rasul Paulus menuliskan pada pasal 14 bahwa syarat orang boleh berbahasa roh di hadapan yang lain adalah hanya 2 atau 3 orang, dan harus ada yang menafsirkannya, dan hanya bertujuan untuk membangun jemaat, sebab bagi Paulus, lebih baik 5 kata dalam bahasa yang dimengerti oleh jemaat, daripada beribu kata dalam bahasa roh yang tidak dapat dimengerti oleh jemaat.

Usaha untuk menjaga keutuhan jemaat, dimulai oleh Rasul Paulus dengan menjelaskan kepada jemaat bahwa memang hanya ada satu Roh, namun dari Roh yang satu itu dikaruniakan berbagai karunia kepada jemaat. “Ada rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh, dan ada rupa-rupa pelayanan tetapi satu Tuhan”. Dari ayat 4 dan 5 ini, kita hendak diberikan pemahaman bahwa segala karunia yang ada di tengah kehidupan berjemaat, dan segala pelayanan yang dikerjakan dan dikaryakan kepada jemaat, hanya berdasar dan tertuju kepada Roh yang satu dan Tuhan yang satu. Memang, kalau bicara soal persatuan di tengah perbedaan, maka diperlukan dasar atau alasan
yang kuat dan mengikat semua pihak untuk bisa bersatu. Dalam hal kehidupan berjemaat, dasar atau alasan yang kuat itu adalah Allah Tritunggal, yakni Bapa, Anak dan Roh Kudus. Bagaimana dengan kehidupan berjemaat hari ini? Masihkah ada kerentanan dalam persatuan yang kita bangun sebagai gereja Tuhan? Jika masih, maka mari kuatkan kembali. Jika sudah, maka kukuhkan lagi. Rasul Paulus mengajarkan kepada kita untuk menjaga persatuan dalam kehidupan
berjemaat dengan cara;

  1. Berdasar pada dasar yang satu. Dasar terbangunnya gereja adalah Yesus Kristus yang memanggil umat untuk keluar dari dosa (ekklesia). Jika kita mengaku sebagai orang yang diselamatkan karena Kristus, maka kita juga harus mengakui panggilan Kristus kepada
    sesama kita yang menyelamatkan mereka.
  2. Bertujuan pada tujuan yang satu. Tujuan panggilan itu adalah untuk mewartakan Injil keselamatan bagi dunia. Memahami tujuan yang satu, akan membuat kita tidak mudah terdistraksi dengan tujuan-tujuan pribadi yang akan mengaburkan panggilan kita. Sebaliknya, memahami tujuan bersama akan membuat kita bisa mengabaikan kepentingan diri sendiri dengan segala latar belakang kehidupan kita dan membuat kita menjadi fokus pada tujuan yang satu.

Bagaimana dengan GKSBS? Selain berdasar pada dasar yang satu, yaitu Kristus, dan bertujuan yang satu yaitu Injil, GKSBS adalah sebuah gereja yang terpanggil dari panggilan yang satu, yaitu keterlemparan atau ketercabutan asal kita untuk menggereja di tanah yang satu, yaitu tanah Sumatera Bagian Selatan. Kita terpanggil untuk menjadi gereja daerah, ini adalah kesadaran teritorial yang hanya membatasi wilayah pelayanan secara administratif, namun tetap menjadi gereja yang terbuka. Terbuka kepada semua suku, di mana kita melihat GKSBS sangat beragam sukunya. Kita terbuka kepada semua agama, silahkan saudara sebutkan sendiri bagaimana program-program gereja ataupun inisiasi dalam kehidupan berjemaat bisa menjangkau pihak-pihak yang berbeda agama di masyarakat. GKSBS terbuka terhadap korban bencana alam, di mana kita terus aktif memberikan bantuan dan perhatian kepada korban-korban terdampak bencana. Kita terbuka terhadap orang lemah dan terbatas, terlihat dari beragam usaha jemaat untuk menolong dan membela orang-orang yang membutuhkan yang ada di sekitar kita.

Maka, jemaat yang dikasihi Tuhan, satukanlah berbagai perbedaan itu dengan kebenaran demi kemuliaan Tuhan. Dan lihatlah bagaimana cara Tuhan memakai jemaat kita untuk menjadi garam dan terang bagi dunia, dan tidak menjadi gereja yang hanya sibuk dengan keributan dan perselisihan untuk kepentingan dan kemuliaan diri sendiri dan kelompok. Selamat bersatu dan selamat berbeda. Tuhan Yesus memberkati.


Nas Pembimbing : Matius 28:19
Berita Anugerah : Mazmur 103:10
Nas Persembahan : Roma 12:1

Nyanyian :
1. Nyanyian Pembukaan : KJ 18
2. Nyanyian Pujian : PKJ 27
3. Nyanyian Peneguhan : KJ 36
4. Nyanyian Responsoria : KJ 427
5. Nyanyian Persembahan : PKJ 271
6. Nyanyian Penutup : PKJ 346

Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *