Khotbah Minggu, 21 Juni 2026
Warna Liturgi : Hijau
Minggu Biasa VII
Perikop : Markus 6:30-44
Kami puji dengan riang Dikau, Allah yang besar;
bagai bunga t’rima siang, hati kami pun mekar.
Kabut dosa dan derita,
kebimbangan, t’lah lenyap.
Sumber suka yang abadi, b’ri sinar-Mu menyerap.
“Bak bunga yang menerima sinar siang”, itulah yang diungkapkan oleh Henry van Dyke ketika mengungkapkan betapa kasih Tuhan memekarkan dirinya. Pengalaman berjumpa dengan belas kasih Tuhan bukan hanya menimbulkan rasa gembira dan bahagia, tetapi juga memberikan daya kehidupan yang menyegarkan jiwa. Pengalaman seperti itulah yang juga dialami oleh orang banyak ketika berjumpa dengan Yesus yang memberikan lima roti dan dua ikan kepada mereka.
Perikop ini dimulai dengan latar dimana kedua belas rasul baru saja kembali dari tugas mewartakan pertobatan di desa-desa Galilea. Setelah para rasul melaporkan hasil tugas yang diberikan oleh Sang Guru, Yesus mengajak mereka ke tempat yang sunyi untuk beristirahat. Banyak orang melihat dan mengetahui tujuan kemana Yesus dan para rasul akan pergi. Sejumlah besar orang banyak memutuskan untuk mengikuti kemana Yesus akan pergi.
Mengapa orang banyak sangat ingin untuk mengikuti kemana Yesus pergi? Karena mereka seperti domba yang tidak mempunyai gembala, alasan itulah yang bahkan membuat Yesus tergerak hatinya oleh karena belas kasihan. Kata “gembala” pada ayat 34 berasal dari bahasa Yunani: Poimen yang artinya adalah gembala upahan, bukan pemilik domba. Poimen bertugas untuk merawat kawanan domba, memastikan mereka mendapat makanan, terlindung dari bahaya, dan memandu domba dengan baik. Penggambaran Tuhan Yesus terhadap orang banyak menjelaskan bahwa keadaan orang banyak tersebut sangat memprihatinkan karena tidak ada yang merawat, melindungi, dan memandu mereka. Itulah sebabnya mereka sedemikian ingin mengikuti Yesus.
Keadaan orang banyak itu makin diperparah dengan bagaimana pemimpin mereka menjalankan kekuasaan yang tanpa belas kasih. Dalam Markus 6:21-29, Raja Herodes dalam sebuah perjamuan elit di hari ulang tahunnya memutuskan untuk membunuh Yohanes Pembaptis dan memberikan kepalanya kepada Herodias (Mrk. 6:27-28). Apa yang dilakukan Herodes bukan hanya menggambarkan suatu kejahatan dan ketidakadilan, tetapi juga menggambarkan kepemimpinanya sebagai raja yang tidak memiliki belas kasihan dan keadilan. Kepemimpinan semacam itulah yang membuat rakyat seperti domba yang tidak mempunyai gembala. Dalam keadaan itulah Yesus bertindak dengan mulai mengajarkan banyak hal kepada mereka. Pengajaran itu memenuhi kebutuhan orang banyak terhadap sosok gembala yang memberikan arah bagi domba-dombanya.
Tindakan Yesus bagi orang banyak tidak berhenti pada pengajaran, Yesus dengan sengaja mengadakan perjamuan tandingan untuk melawan perjamuan elit Herodes yang tak memperhatikan hajat orang banyak. Jika perjamuan Herodes berujung pada kematian, maka perjamuan Yesus lahir dari belas kasihan dan menghasilkan kehidupan bagi orang banyak yang sedang menderita.
Perjamuan yang diadakan oleh Yesus dilakukan dalam keadaan yang kurang mendukung. Di tempat yang sunyi dan waktu hari sudah mulai malam, para murid diminta untuk menjadi panitia hajatan! Mereka diminta untuk memberikan makan kepada orang banyak! Mendengar perintah Yesus, para murid meresponnya dengan nalar yang jernih dengan mengatakan “Jadi haruskah kami membeli roti seharga 200 dinar untuk memberi mereka makan?”. Pertanyaan para murid kepada Yesus adalah pertanyaan yang didasari atas nalar yang jernih, mereka tahu bahwa meskipun mereka membelikan semua kas yang dimiliki untuk membeli roti, itupun tidak akan cukup untuk memberi makan orang banyak. Karena itulah mereka berfikir bahwa lebih baik menyuruh orang banyak itu pergi ke desa-desa dan perkampungan untuk membeli roti sendiri.
Dalam nalar yang begitu jernih dan rasional dalam menghadapi sebuah persoalan, Yesus mengintervensi para murid dengan berkata: “Berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!” Perkataan Yesus mengintervensi nalar para murid dalam kerangka penyelenggaraan Ilahi (providential Dei). Memeriksa yang dalam bahasa Yunani: Ideo, juga dapat berarti “melihat”, Yesus meminta para murid untuk melihat apa yang mereka miliki. Maka para murid menemukan bahwa mereka mimiliki 5 roti dan 2 ikan. Dalam jumlah yang sederhana itu, Yesus menunjukan bahwa campur tangan Ilahi yang penuh kasih diadakan di tengah-tengah mereka yang sedang membutuhkan. Akhirnya dari 5 roti dan 2 ikan itu, Yesus memberi makan beribu-ribu orang, bagi para murid, Yesus memberikan 12 bakul sebagai tanda bahwa Allah tidak melupakan mereka yang mau berbagi dan melayani.
Pemeliharaan Allah atas orang banyak bisa terjadi ketika para murid menyadari apa yang mereka miliki, menyerahkan milik mereka kepada Yesus, dan mau membagikannya kepada orang lain. Dalam situasi dan kondisi yang serba terbatas dan tidak memungkinkan pada saat itu, mereka melihat Yesus sebagai Gembala baik yang memenuhi hajat orang banyak. Intervensi Yesus mengajarkan para murid untuk menggunakan nalarnya dengan jernih sekaligus juga tetap mempercayai penyelenggaraan Allah dalam kehidupan.
Tindakan Yesus dalam mengajar dan memberi makan adalah tindakan yang bersifat efokatif (memekarkan, menggugah rasa). Di satu sisi para murid dimekarkan, mereka di minta untuk menghargai apa yang mereka miliki dan mau menyerahkannya kepada Tuhan untuk dibagikan kepada orang banyak. Di sisi yang lain, Yesus memekarkan diri orang banyak yang pada saat itu diminta untuk duduk berkelompok di atas rumput hijau. Mereka diingatkan tentang Tuhan sebagai Gembala yang baik yang tak membiarkan domba-dombaNya mengalami kekurangan (bdk. Mzm. 23). Yesus memberikan penerimaan dan belas kasih dalam bingkai perjamuan belas kasih Allah yang merawat, melindungi, dan memandu domba-dombanya. Orang banyak yang sebelumnya tanpa gembala, sekarang mereka menyadari bahwa Allah adalah gembala yang memuaskan mereka dengan makanan rohani (pengajaran) dan makanan jasmani.
Saudara-saudari yang terkasih
Sudahkah kita dimekarkan oleh belas kasih Tuhan dalam kehidupan yang membuat kita menyadari bahwa Tuhan memenuhi semua kebutuhan kita? Pengalaman berjumpa dengan belas kasih Tuhan memanggil kita untuk menyadari kehadiran Tuhan sebagai Gembala yang menghidupkan dan mengenyangkan jiwa raga. Maka setiap kita perlu menyadari pemeliharaan Tuhan dalam kehidupan.
Kita juga belajar seperti para murid yang diminta oleh Tuhan untuk menjadi komunitas belas kasih yang solider dan berani berbagi kepada orang lain. Karena itulah kepada setiap kita Tuhan berkata: “berapa banyak roti yang ada padamu? Cobalah periksa!”. Dalam perkataan itu Tuhan menghendaki kita untuk menemukan 5 roti dan 2 ikan kita masing-masing dan mau menyerahkannya kepada Tuhan sebagai sarana menghadirkan tanda-tanda kasih Tuhan dalam kehidupan. Dalam menjadi komunitas belas kasih, kita perlu memiliki nalar yang jernih untuk memahami situasi dan kondisi yang kita hadapi (apa yang kita miliki, apa tantangannya), tetapi sekaligus kita juga percaya pada penyelenggaraan Tuhan dalam kehidupan umat-Nya. Maka, marilah kita masing-masing bertanya : apakah 5 roti dan 2 ikan yang mau kita serahkan kepada Tuhan? Mari memeriksa! Mari berbagi! Amin.
Nas Pembimbing : Mazmur 107:29
Berita Anugerah : Yesaya 1:18
Nas Persembahan : Amsal 22:9
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : KJ 3
- Nyanyian Pujian : KJ 415
- Nyanyian Peneguhan : PKJ 205
- Nyanyian Responsoria : KJ 407
- Nyanyian Persembahan : PKJ 147
- Nyanyian Penutup : PKJ 185


Leave a Reply