Kotbah Minggu, 18 Januari 2026
Warna Liturgi : Hijau
Minggu Biasa I
Perikop : Yesaya 62:1-12
Kisah-kisah terkait sosok yang memberikan dirinya untuk melayani sesama seperti ibu Theresa, hampir selalu mendapat perhatian dan penghormatan. Mengapa? Itu karena tidak banyak orang yang benar-benar mau dengan kasih! Kalaupun ada yang mau melayani seperti ini, orang itu harus siap mengorbankan diri (waktu, tenaga, pikiran, materi, kesenangan dll.) untuk orang lain. Ia harus melepaskan hasrat dirinya sendiri, dan pada saat yang sama : hasrat hatinya, pikirannya benar-benar diarahkan hanya untuk mengusahakan dan menghadirkan kebaikan bagi orang lain.
Bagi orang-orang yang merasa sendirian, tidak berdaya, tidak punya apa-apa, kehadiran orang seperti ini sangat diharapkan. Di dalam kesesakannya mereka terus berharap bahkan sampai mengiba akan hadirnya sosok yang peduli pada mereka, perduli pada nasib mereka, dan mau memperjuangkan mereka sampai pada titik di mana mereka merasa tidak sendiri lagi, dan mampu mengatasi keadaan. Kebahagiaanya adalah saat hadir sosok atau pihak yang dengan empati berkenan membantu mereka.
Pada ibadah minggu ini kita diajak untuk membaca Yesaya 62:1-12. Konteks Yesaya 62 adalah situasi umat Israel yang sedang dalam pembuangan dan mengalami penderitaan. Pembuangan mereka ke Babel pada akhirnya membawa mereka merenung dan merefleksikan pengalaman mereka dalam hubungannya dengan Tuhan. Yesaya 58-59 menjadi salah satu petunjuk pergumulan mereka.
Yesaya 62 dimulai dengan (lih. ayat 1) peryataan yang berisi komitmen dari nabi Tuhan, yakni nabi Yesaya. Ia merasa tidak bisa berdiam diri terhadap keterpurukan yang tengah dialami oleh Israel. Ia merasa terbeban dan turut bertanggung jawab terhadap nasib umat Allah. Di sini terlihat benar bagaimana sang nabi merasa harus memperjuangkan Israel sampai pemulihan harkat dan martabatnya sebagai umat Tuhan (ayat 2-4). Dan tentu saja sebagai konsekuensi dari komitmennya, maka nabi Yesaya tidak bisa tidak, harus terus hadir untuk dan bersama umat Isreal. Dalam kehadiranya, ia harus terus memberikan dukungan dan motivasi agar mereka sanggup bertahan. Ia menjadi pengantara antara umat dengan Tuhan, menyampaikan keluh kesah, harapan umat kepada Allah dan sebaliknya. Di sisi lain, sebagai nabi Tuhan ia harus berani bersuara, menyuarakan suara Tuhan. Ia harus berani menegur dan mengingatkan umat agar mereka tahu apa yang harus mereka kerjakan dan mana yang harus mereka jauhkan dari hidup mereka. Ia harus berani berhadap-hadapan dengan mereka yang memilih jalannya sendiri dan mengabaikan jalan kebenaran Tuhan. Untuk komitmennya itu sang nabi harus siap untuk tidak bisa tinggal tenang sebelum umat Allah benar-benar mendengarkan Allah dan berkomitmen hidup dalam tuntunan firmanNya.
Di jalan pelayanannya sebagai nabi, di jalan di mana ia memperjuangkan komitmennya terhadap Israel, Nabi Yesaya adalah jawaban terhadap keluh kesah dan doa harapan umat Israel. Di sini nabi Yesaya hadir sebagai sosok yang dinantikan, yakni dia yang dengan empati mau hadir dan berjuang bersama dengan mereka. Kehadirannya menjadi pembawa harapan, sebab dia hadir sebagai yang terus mendukung umat Allah untuk bangkit dan memiliki harapan kembali. Dia juga menjadi bagian dari mereka, dan bersama-sama memperjuangkan keselamatan mereka.
Kehadiran Yesaya sangat berarti. Ia adalah sosok yang terus mengangkat mental, kepercayaan diri dan spirit umat Israel. Kehadirannya menandai bahwa masih ada orang yang perduli pada mereka (Israel), dan mau menjadi bagian dari mereka, turut menderita bersama-sama mereka. Komitmen dan perjuangan nabi Yesaya membuktikan bahwa Israel tidak sendirian, ada yang masih peduli padanya, yang juga merasai apa yang tengah mereka rasakan, yang mau berjuang bersama mereka untuk masa depan yang penuh harapan.
Membaca bagian selanjutnya, dalam perjuangan sang nabi bersama umat Israel, ada pihak lain yang juga turut menyertai. Bersama mereka ada Tuhan yang juga berkomitmen. Ayat 8 tegas menyatakan hal itu. Tuhan bersumpah, bahwa untuk Israel Dia akan bertindak. Kata yang digunakan untuk “bersumpah” adalah שָׁבַע (shava’). Dalam tradisi Israel “sumpah” memiliki makna mendalam sebagai pernyataan yang mengikat dan sakral. Sumpah pada prakteknya digunakan untuk menjamin kebenaran, mengikat diri pada janji, dan menegaskan komitmen. Di sini Allah menjanjikan diriNya akan menjadi pembela dan pejaga umatNya. Semua hasil usaha umat akan tetap menjadi milik mereka. Merekalah yang akan menikmati semua hasil jerih lelah pekerjaan mereka. Allah tidak akan membiarkan orang lain merenggut milik mereka. Pada kesempatan yang sama Allah akan mengangkat harkat dan martabat Israel, semua akan kembali diangkat tinggi. Bangsa-bangsa lain akan melihat kebesaran mereka bahkan wajah baru Israel akan membuat musuh-musuhnya terkagum sehingga menyebut mereka sebagai : “bangsa kudus”, “orang-orang tebusan Allah”, “yang dicari”-“kota yang tidak ditinggalkan”. Sebutan-sebutan yang menandai pemulihan yang dikerjakan oleh Allah yang membela mereka; sebutan-sebutan yang menandai bahwa Allah berkenan kepada mereka dan akan terus memberkati mereka.
Jika diawal, komitmen nabi Yesaya menjadi bagian yang mengangkat mental dan spirit umat Israel, di sini lebih-lebih lagi. Sebab Tuhan sendiri berkomitmen kepada Israel. Ia yang dengan segala kuasaNya akan bertindak untuk memperjuangkan Israel. Allah akan membawa mereka dipulihkan dan harkat martabatnya ditinggikan. Dia akan hadir sebagai benteng Israel terhadap segala macam ancaman. Dia juga akan menjadi sumber berkat yang membuat Israel merasakan sukacita dalam berbagai keberhasilan dan kesukacitaan dalam kelimpahan berkat Tuhan.
Yesaya 62:1-12 ini menjadi catatan penting bagi umat Allah. Pertama, bahwa tidak jarang sebagai umat Allah, masalah dan penderitaan hebat datang berturut-turut menghantam semangat, mental dan spiritnya. Umat jatuh menderita, dan tidak jarang dalam upaya mengatasis emuanya merasakan kesepian yang mendalam, nyaris kehabisan daya, merasa tidak berguna dan seakan tidak ada harganya lagi. Di sini nabi Yesaya datang menuntun kembali umat pada kesadaran bahwa mereka tidak benar-benar sendirian, nyatanya masih ada yang sungguh perduli pada mereka; masih ada yang benar-benar mau hadir, turut merasai segala rasa sakit yang mereka tengah rasakan; masih ada yang dengan tulus hadir berjuang untuk dan dengan mereka. Nabi Yesay ahadir sebagai sahabat yang memberi dukungan moril demi membalut luka kecewa, kesepian dan rasa tak berharganya.
Kedua, meski Tuhan seringkali dikecewakan oleh tingkah laku umat, namun Dia tidak pernah benar-benar meninggalkan umatNya sendirian. Tidak dibiarkan umatNya pupus dan hangus. Melalui Yesaya, Allah menunjukkan bagaimana Dia terus perduli umatNya. Dia mengikuti cerita hidup umatNya dan pada saat yang tepat Dia bertindak; bertindak untuk kebaikan dan keselamatan umatNya.
Saudara-saudara, ketahuilah bagi Tuhan engkau berharga! Ia amat sangat mengasihimu. Oleh sebab itu, yakinkanlah dirimu untuk jangan takut, jangan khawatir, dan jangan ragu akan masa depanmu. Serahkanlah hidupmu sepenuhnya kepada-Nya, karena Dia yang memulai pekerjaan baik itu, dan Dia juga yang akan menyelesaikannya. Pergilah dan tunjukkanlah kasih yang telah engkau terima kepada sesama, dengan saling menghargai dan mengasihi, karena kita semua adalah ciptaan yang berharga di mata-Nya.
Menutup kotbah ini saya mengutip sebuah tulisan doa berjudul “ Surat kepada Tuhan”.
Ya Tuhan, aku menulis untuk mengucapkan, “Terima kasih”. Engkau begitu baik kepadaku. Hari-hariku seringkali penuh tantangan, tetapi melihat kembali kepada hidupku, aku melihat bahwa Engkau selalu menyertaiku melalui suka dan duka. Aku mungkin tidak memiliki semua yang kuinginkan, tetapi aku mendapatkan semua yang kubutuhkan. Hidup tidak selalu mudah, tetapi tidak apa-apa karena aku memiliki-Mu, dan aku tidak pernah sendirian. Aku akan tetap tenang dan meyakini kehadiran-Mu dalam hidupku. Terima kasih Tuhan. Dengan sepenuh hatiku, aku akan terus percaya kepada-Mu.
Saudara-saudara
Angkat wajahmu, arahkanlah matamu ke depan! Lihat jalan di depanmu! Meski terkadang remang berkabut atau bahkan gelap tak terlihat, namun percayalah di jalanMu ada sahabat-sahabat sejati yang turut menyertaimu. Ada sosok sahabat yang hadir sebagaimana Yesaya, yang turut berjuang bersamamu. Dan lebih dari pada itu semua, ada sahabat yang tak pernah meninggalkan engkau sedetikpun, Dialah Allah. Dialah yang akan memapahmu menuju hari esok yang penuh harapan. Amin.
Nyanyian dan Ayat
Nas Pembimbing : Yesaya 60:1
Berita Anugerah : Mazmur 103 : 12-13
Nas Persembahan : Ulangan 16: 16-17
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : KJ 2 : 1-3
- Nyanyian Pujian : KJ 1:1-2
- Nyanyian Peneguhan : KJ 37a : 1-4
- Nyanyian Responsoria : KJ 400 : 1-3
- Nyanyian Persembahan : KJ 450 : 1-3
- Nyanyian Penutup : KJ 408 : 1-2


Leave a Reply