Kotbah Minggu, 25 Januari 2026
Warna Liturgi : Hijau
Minggu Biasa II
Perikop : Kolose 3:12-17
Jemaat yang terkasih dalam nama Tuhan Yesus Kristus.
Ketika kita para orang percaya hidup bersama di bumi, sebuah pertanyaan klasik selalu timbul dalam kebersamaan dengan yang lain. Pertanyaan itu ialah apakah ada perbedaan antara orang percaya dengan orang yang belum / tidak percaya kepada Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat? Motif pertanyaan ini bisa jadi beragam. Beberapa orang memang ingin tahu perbedaannya. Sebagian yang lain bertanya didasarkan para kekecewaan bahwa ia sering menjumpai orang percaya yang hidup tidak seperti ekspektasi yang dia ciptakan. Sementara bagi yang lain pertanyaan yang sama, sekedar bertanya tanpa ada keinginan untuk menemukan jawaban. Hal ini didasarkan pada fakta di lapangan bahwa sebutan orang percaya sebatas label kelembagaan keagamaan demi memenuhi tuntutan hukum bahwa setiap orang perlu menyematkan identitas agamanya dalam kartu pengenal.
Apapun motifnya, pasti ada perbedaan yang signifikan. Jika tidak ada bedanya, mengapa harus memilih untuk menjadi percaya? Kecuali pilihan percayanya hanya sebatas identitas diri, tanpa didasarkan pada pengalaman perjumpaan dengan Tuhan secara pribadi.
Alkitab mencatat dengan tegas tentang perbedaan ketika seseorang mengambil keputusan untuk menjadi percaya. Yesus dalam pengajaran-Nya tentang akhir zaman menyebutkan secara berulang dan tegas tentang perbedaan tersebut. Samar-samar akan terlihat sama, namun perbedaan mendasar akan terlihat jelas ketika didalami. Yesus menyebut tentang lima gadis bodoh dan lima gadis bijaksana. Juga tentang hamba yang jahat dan hamba yang setia; tentang seseorang yang mengembangkan talenta berapapun hasilnya dan orang yang menyimpan talenta; dan dengan tegas juga tentang memisahkan domba dengan kambing. Beberapa pengajaran tersebut memiliki pesan yang paralel bahwa orang percaya dengan yang tidak / belum percaya akan memiliki perbedaan yang jelas. Meskipun pada awalnya terlihat samar selama di bumi seakan seperti tanaman gandum dan ilalang; namun dari buahnya akan diperoleh hasil: gandum masuk dalam lumbung sementara lalang akan dibakar.
Untuk itu diperlukan alur paham yang jelas ketika seseorang menyebut diri sebagai orang percaya / Kristen; bukan tentang harapan masa depan untuk hidup menjadi baik, melainkan penamaan akan didasarkan pada fakta yang terlihat dalam keseharian hidup yang ada. Di Kota Antiokhia, orang percaya untuk pertama kalinya disebut sebagai orang Kristen; bukan karena berharap akan menjadi orang Kristen, melainkan orang-orang melihat sekelompok orang yang hidup meniru, menduplikasi dan meneladani kehidupan Yesus Kristus, maka mereka berolok-olok bahwa yang yang demikian disebut sebagai Kristen.
Jemaat yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus.
Kolose ialah kota kecil di Frigia, Asia Kecil, bagian dari wilayah Kekaisaran Romawi. Disini iman Kristen hadir dan bertumbuh dalam kehidupan yang plural. Disana telah ada berbagai aliran kepercayaan dan agama yang lahir jauh sebelum Kekristenan ada. Akibatnya berbagai budaya telah tercipta membentuk sebuah paradigma tertentu dalam kehidupan sosial kemasyarakatan. Saat orang percaya tampil, mereka diperlakukan tidak jauh berbeda dengan kepercayaan yang sudah ada. Itu sebabnya fakta saling mempengaruhi sangat dominan. Tidak bisa dihindari bahwa demi penerimaan dan diterima oleh budaya lokal yang ada, terdapat upaya mengkombinasikan ajaran sehingga hampir tidak ada bedanya dengan yang lain. Praktek perbuatan baik dengan berbagai aturan yang dibuat, telah menyamarkan pesan penting tentang anugerah. Mulai timbul ajaran palsu yang menekankan pada perbuatan baik dengan ketaatan kepada aturan-aturan demi mendapatkan keselamatan! Kondisi ini tentu menjadi sangat rentan, dimana ajaran Kristen yang benar tentang anugerah tidak lagi mendapatkan perhatian. Apalagi banyak orang percaya yang memiliki latar belakang kepercayaan lama yang sudah terbiasa dengan pola ajaran yang lama, mencoba mengkombinasikan ajaran.
Dalam hal ini, hal yang sama akan terus terjadi dalam sejarah. Sangat diperlukan sikap waspada agar tidak tersesatkan oleh ajaran yang terlihat baik namun ternyata menyimpang dari ajaran yang benar.
Itu sebabnya, Paulus menyebut orang percaya dalam identitas yang baru sebagai orang-orang pilihan Allah yang dikuduskan dan dikasihi (ay.12). Dalam pernyataan tersebut Paulus hendak menegaskan asal mula adanya orang percaya, bukan karena perjuangan untuk percaya atau upaya untuk percaya, melainkan tindakan aktif Allah yang proaktif sebagai inisiator dalam menyelamatkan. Allah yang bertindak untuk menyelamatkan. Allah yang bergerak untuk menyelamatkan. Dasar tkndakan-Nya ialah kasih. Tindakan-Nya terlihat dengan menguduskan dan hasilnya adalah manusia yang telah diciptakan baru dalam Yesus Kristus. Maka, tidak bisa tidak, bahwa tindakan penyelamatan Allah berdampak pada perubahan status dasar dan identitas keberadaan diri seorang yang percaya. Orang percaya telah berpindah menjadi manusia baru dalam Yesus Kristus; tidak lagi seperti yang lama. Manusia baru akan meninggalkan manusia lamanya dan hidup dalam pembaharuan terus menerus. Dengan kata lain orang percaya akan meninggalkan manusia lama dengan segala perilakunya dan menjadi manusia yang baru dalam Kristus Yesus, Tuhan.
Dampaknya jelas. Terjadi pembaharuan yang utuh dimana perkataan Kristus tinggal dalam diri setiap orang percaya. Itu artinya orang percaya akan berkata-kata seperti yang Kristus kehendaki; bukan apa yang dia kehendaki. Bukankah ini senada dengan ajaran Yesus tentang Pokok Anggur yang benar, bahwa ranting harus menempel pada pokok untuk mendapatkan penghidupan; bahwa orang oercaya harus tinggal dalam Yesus dan Yesus ada didalam dia. Itulah yang memungkinkannya untuk berubah banyak, sebab diluar Kristus ia tidak dapat berbuat apa-apa.
Inilah hidup yang berdampak. Dampaknya terlihat dalam kualitas diri yang semakin menyerupai Kristus dan relasi sosial yang semakin damai. Paulus mendata kualitas diri tersebut nampak dalam sikap penuh bekas kasihan, kemurahan, kelemahlembutan, kerendahan hati, sabar dan hidup diwarnai syukur. Sementara kualitas sosialnya nampak pada sikap mengampuni, mengasihi, mengajar dengan hikmat Tuhan, membangun persatuan dan perdamaian setiap saat.
Jemaat yang dikasihi Yesus Kristus,
Orang percaya itu memang akan tampil beda. Orang percaya akan memiliki identitas yang baru. Itu sebabnya penting untuk sadar setiap saat akan jadi diri yang sebenarnya. Pahami dengan benar akan jati diri dan identitas yang baru dalam Yesus Kristus. Bangun kesadaran kesadaran diri sesuai identitas diri yang dimiliki. Serta lahirkan perilaku hidup yang sesuai identitas diri.
GKSBS sebagai sebuah gereja yang hadir di bumi Sumatera Bagian Selatan, berada pada kehidupan yang plural dalam hal budaya dan agama. Penting untuk paham akan identitas diri secara benar agar tidak hanyut dalam eforia kebaikan kemanusiaan semata. Perlu kembali kedasarnya tentang iman Kristen yang lahir dalam perjumpaan personal dengan Allah. Jemaat Gereja Kristen Sumatra Bagian Selatan itu duta Kristus dalam membangun damai di bumi. Amin.
Nyanyian dan Ayat
Nas Pembimbing : Amos 5:24
Berita Anugerah : 1 Yohanes 4:9-10
Nas Persembahan : Mazmur 96:8
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : KJ 1
- Nyanyian Pujian : PKJ 128
- Nyanyian Peneguhan : PKJ 277
- Nyanyian Responsoria : PKJ 267
- Nyanyian Persembahan : PKJ 146
- Nyanyian Penutup : PKJ 180


Leave a Reply