Kotbah Minggu, 8 Februari 2026
Warna Liturgi : Hijau
Minggu Biasa IV
Perikop : Yeremia 17: 5-10
Syalom jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Kita semua sepakat bahwa kita pernah mengalami keadaan sulit. Di dalam keadaan sulit ini, kita membutuhkan pesan-pesan penguatan yang dapat menguatkan iman kita sehingga ada pengharapan. Kitab Yeremia ini juga menceritakan tentang pelayanan dan nubuatan nabi Yeremia pada masa-masa sulit yang dilalui oleh bangsa Israel sebelum mereka dibawa atau diangkut ke pembuangan Babel dan setelah mereka berada di Babel.
Sosok Yeremia sangatlah unik, sebab Yeremia menjadi nabi atas pemilihan Allah sendiri sejak Yeremia masih di dalam kandungan. Pemilihan Allah atas Yeremia sebagai nabi untuk menyatakan suara Allah kepada umat Israel. Allah mengetahui bagaimana umat Israel akan berada di dalam masa-masa sulit, sehingga Allah akan menghibur, menguatkan, dan memperingatkan mereka melalui perantaraan nabi Yeremia. Nabi Yeremia menjalankan tugas kenabiannya selama empat puluh tahun, bahkan Yeremia menyaksikan bagaimana tekanan-tekanan yang dialami bangsa Israel dari para raja justru tunduk kepada Ba’al.
Salah satu raja yang tunduk kepada Ba’al adalah raja Yoyakim setelah menggantikan raja Yosia. Raja Yoyakim mengharuskan bangsa Israel untuk menyembah Ba’al dan memberikan korban-korban sesembahan. Bahkan Raja Yoyakim membakar gulungan kitab yang ditulis oleh nabi Yeremia karena merasa takut jika tulisan dari nabi Yeremia dapat mempengaruhi bangsa Israel memberontak kepada raja.
Dalam situasi ini, ketika raja Yoyakim menekan umat untuk menyembah Ba’al, Yeremia tampil untuk menyampaikan suara kenabian, bahkan mengkritik keras ketidakadilan, serta menentang tempat-tempat peribadatan yang dibangun oleh sang raja. Di samping itu, keadaan semakin memprihatikan, ketika raja Zedekia yang juga tunduk kepada Ba’al memerintahkan untuk dilaksanakan persundalan suci dan anak-anak dipersembahkan sebagai korban persembahan kepada Ba’al. Kebijakan ini menjadikan Yerusalem sebagai Bait Suci telah dinodai dengan pembangunan pusat tempat peribadatan Ba’al.
Dalam ayat 5, Yeremia dengan tegas tidak membenarkan sikap para raja yang tunduk kepada Ba’al dengan mengatakan secara lantang, “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN!” Ayat ke-5 ini adalah suatu peringatan keras bagi orang-orang di masa kini. TUHAN mengutuk setiap tindakan-tindakan keji yang mencemari kekudusan Allah. Hati yang menjauh dari pada TUHAN adalah hati yang tidak menginginkan berkat dan pertolongan TUHAN serta yang mengandalkan pada kekuataannya sendiri.
Setiap manusia yang hatinya menjauh dari TUHAN di gambarkan seperti ayat 6, yaitu semak bulus, yang hidup di padang belantara, tidak mengalami keadaan baik, hidup ditanah angus atau gersang, dan padang asin. Kehidupan tanpa menyertakan TUHAN merupakan hidup yang sia-sia, sebab dengan siapakah manusia dapat menyerukan segala permohonannya jika ia tidak percaya pada TUHAN?
Sementara, pada ayat 7-8 merupakan nasihat nabi Yeremia, bahwa setiap orang yang menaruh harapan dan mengandalkan TUHAN, pasti akan memperoleh berkat. Ketaatan dan kesetiaan pada TUHAN, digambarkan seperti pohon yang di tepi air, yang daunnya tetap hijau, tidak kuatir jika memasuki tahun atau musim kering, dan tidak berhenti menghasilkan buah. Hidup yang taat kepada TUHAN, inilah yang dimau Yeremia untuk bangsanya dan untuk kita semua. Iman yang tunduk kepada Allah, berarti hidup yang tidak henti-hentinya melibatkan Allah di dalam setiap perkara.
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Kita semua pasti menginginkan hidup sebagaimana dalam ayat 7-8, yaitu hidup dengan kelimpahan berkat karena mengandalkan TUHAN. Menjadi seseorang yang terberkati adalah pilihan kita, sebab Allah tidak hanya memberkati bagi umat-Nya yang setia dan taat, tapi juga Allah memberikan kutuk terhadap umat-Nya yang tidak tunduk pada-Nya.
Sebagai peremenungan kita bersama, apakah kita secara sungguh-sungguh mengandalkan Tuhan, nabi Yeremia mengingatkan pada ayat 10 bahwa TUHAN menyelidiki hati dan menguji batin setiap orang. Jika kembali pada ayat 1-4, meskipun dosa-dosa bangsa Yehuda tersimpan dalam hati mereka, tetapi mereka tak bisa menyembunyikannya dari hadapan Allah. Kita harus belajar untuk mengoreksi diri sendiri. Kita bisa saja mengatakan ‘tidak’ kepada orang lain, atau kita bisa saja menyimpan kesalahan di dalam hati kita, tapi ingatlah bahwa Allah mengetahui segala hal yang ada di dalam hati kita. Dengan mengakui dosa-dosa kita sambil memohon belas kasihan kepada Allah merupakan sikap yang mau merendahkan diri di hadapan Allah. Mengandalkan Tuhan berarti secara sepenuhnya percaya dan menggantungkan hidup kepada Dia, Sang Pencipta.
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus.
Hidup yang senantiasa mengandalkan Tuhan adalah melakoni kehidupan sehari-hari dengan tidak melupakan Tuhan dalam setiap perencanaan kita. Dan sekaligus hidup yang mengarahkan mata dan pikiran kita kepada Tuhan. Mengandalkan Tuhan berarti memiliki komitmen dalam diri kita, bahwa dalam keadaan dan situasi apapun yang kita alami, Tuhan akan memberikan pertolongan. Dan untuk menjadi pohon yang menghasilkan buah, atau memiliki hidup yang mendatangkan berkat Tuhan, kita tidak boleh hanya sekedar percaya kepada Tuhan pada saat keadaan baik, tapi juga percaya kepada Tuhan sekalipun dalam keadaan tersulit sekalipun. Jadikan dan milikilah hidup yang tidak sedetikpun melupakan Tuhan, agar Tuhan mendatangkan berbagai berkat yang dapat membuat kita bersyukur kepada-Nya. Kasih dari Tuhan Yesus Kristus memberkati kita semua. Amin!
Nyanyian dan Ayat
Nas Pembimbing : Filipi 2:2
Berita Anugerah : Mikha 7:18-19
Nas Persembahan : 1 Tesalonika 5:18
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : KJ 15:1-2
- Nyanyian Pujian : KJ 406:1-2
- Nyanyian Peneguhan : PKJ 198:1-2
- Nyanyian Responsoria : PKJ 153:1-2
- Nyanyian Persembahan : KJ 444
- Nyanyian Penutup : PKJ 274:1-2


Leave a Reply