Khotbah Natal, 25 Desember 2025
Warna Liturgi : Putih
Natal
Perikop : Lukas 2:8-20
Saudara saudara yang diberkati Tuhan
Natal seringkali hadir dalam hingarbingar, perayaan, kemeriahan; sukacita; perayaan besar yang memperingati kelahiran Tuhan Yesus Kristus di Dunia. Bapak ibu saudara yang hadir saat ini apakah sudah belanja baju baru?, belanja kue Natal?, menghias rumahnya dengan kemeriahan natal?, tidak apa-apa tidak usah malu karena Natal memang selalu mampu menghadirkan kesukaan besar.
Istilah Natal yang dalam bahasa aslinya (Portugis) berarti kelahiran, kemudian menjadi akrab diartikan pada peristiwa kelahiran Yesus Kristus, menjadi hari raya orang Kristen. Namun sayangnya, kenyataan saat ini menunjukan bahwa banyak orang merayakan Natal tapi tidak memahami samasekali makna Natal, bahkan ada juga yang beranggapan bahwa Natal adalah suatu perayaan yang identik dengan pesta pora, Pohon Natal, Sinterklas, kado-kado dan lain-lain, banyak orang yang telah melupakan bahwa perayaan Natal harus berpusat pada Kristus sebagai perwujudan kasih Allah yang besar pada dunia. Natal merupakan peringatan akan kelahiran Yesus Kristus sang juruselamat. yang memberikan makna mendalam bagi setiap jemaat akan pengharapan bagi kedatangan Juruselamat. Allah sendiri yang mengambil rupa manusia untuk bersama-sama dengan manusia semata agar manusia mengenal, merasakan dan memahami keselamatan yang ingin Allah berikan bagi manusia. Berita kelahiran Juruselamat tersebut merupakan sebuah penggenapan janji Tuhan yang memberi jalan bagi manusia untuk diperdamaikan dengan Allah dan memperoleh kasih karunia Allah.
Saudara saudara yang diberkati Tuhan
Dalam perikop bacaan hari ini kita menyaksikan bagaimana keadaan para gembala ketika menerima pemberitahuan ini. Ketika itu mereka sedang tinggal di padang, di pinggiran Betlehem, sedang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam (ay. 8). Malaikat itu tidak diutus kepada imam kepala ahli taurat atau tua-tua, tetapi kepada sekelompok gembala miskin, yang secara social bukanlah golongan orang yang diperhitungkan.
Betapa terkejutnya mereka dengan kemunculan malaikat itu (ay.9), Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka, epestē — berdiri di atas mereka, besar kemungkinan malaikat itu melayang di udara di atas kepala mereka, karena datang langsung dari sorga. Peritiwa ini bukanlah peristiwa yang mudah diterima akal apalagi bagi para gembala yang sederhana bahkan peristiwa ini adalah sesuatu yang mengejutkan bahkan menakutkan karena itu para malaikat membuka pesan dengan berkata “jangan takut” karena berita yang dibawa olah para malaikat adalah kesukaan besar bagi segala bangsa, berita kelahiran Juruselamat bagi dunia (ay10-12).
Puji-pujian malaikat-malaikat bagi Allah dan ucapan selamat mereka bagi manusia atas kesempatan yang khidmat ini (ay. 13-14). Setelah pesan ini disampaikan oleh satu malaikat, tiba-tiba tampak sejumlah besar bala tentara sorga bersama malaikat itu. Para gembala itu berbicara seorang kepada yang lain mengenai hal itu (ay.15). Sementara para malaikat melantunkan nyanyian pujian mereka, para gembala itu hanya dapat memusatkan perhatian mereka pada nyanyian itu dengan kekaguman mereka akan berita besar yang mereka terima. Tetapi, setelah malaikat-malaikat itu meninggalkan mereka dan kembali ke sorga, gembala-gembala itu berkata seorang kepada yang lain, “Marilah kita pergi ke Betlehem.” Dengan penuh keyakinan mereka pergi menjumpai bayi Yesus karena mereka telah menerima beritanya secara langsung dan melalui peristiwa yang luar biasa ( karena tidak semua orang punya pengalaman berjumpa dengan malaikat Allah).
Mereka segera berkunjung ke sana (ay.16). Mereka tidak membuang-buang waktu, tetapi justru cepat-cepat berangkat ke tempat itu, sebuah tempat yang mungkin telah dijelaskan oleh malaikat , tidak sulit nampaknya bagi para gembala menemukan bayi di kota kecil Bhetlehem yang lahir di kandang domba dan di sanalah mereka menjumpai Maria dan Yusuf dan bayi itu, yang sedang berbaring di dalam palungan. Kesederhanaan yang mereka jumpai dalam Kristus Tuhan tidak mengguncang iman mereka sebab mereka sendiri mengetahui apa arti menjalani kehidupan dalam persekutuan yang menyenangkan bersama Allah dalam keadaan sederhana bahkan mungkin kekurangan. Kepedulian para gembala untuk menyebarluaskan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu(ay.17). Ketika mereka melihat-Nya, sekalipun mereka tidak melihat sesuatu dalam diri Anak itu yang dapat membuat mereka percaya bahwa Dia adalah Kristus Tuhan, namun, segala keadaan, walaupun dalam kesederhanaan keluarga ini, benar-benar sesuai dengan tanda yang telah diberitahukan oleh malaikat itu, dan mereka pun merasa sangat takjub. Sesungguhnya, semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka(ay.18). Para gembala itu adalah orang-orang sederhana, bersahaja, dan jujur, dan orang banyak tidak akan mencurigai mereka telah merancang sesuatu untuk menipu. Karena itu, besar kemungkinan apa yang mereka katakan itu benar adanya. Para gembala lebih menjadikan kabar tentang Kristus itu sebagai puji-pujian kepada orang banyak karena para gembala itu sangat tersentuh (ay. 20). Maka kembalilah gembala-gembala itu sambil memuji dan memuliakan Allah sesuai dengan apa yang telah dikatakan malaikat kepada mereka. Bilamana orang-orang lain tidak menghargai kabar yang telah mereka sampaikan, nampaknya itu bukan masalah bagi mereka karena Allah akan menerima ucapan syukur yang mereka persembahkan kepada-Nya.
Saudara saudara yang diberkati Tuhan
Marilah melalui perayaan Natal hari ini kita hilangkan semua kekuatiran dan ketakutan kita. Tuhan sendiri yang telah mendamaikan diri-Nya dengan tanpa memperhitungkan kesalahan manusia dan tidak memandang latar belakang manusia itu (malaikat memberitakan kelahiran juruselamat kepada orang yang dipandang rendah, contoh gembala). Kelahiran Kristus menjadikan manusia terhubung kembali kepada Allah sang pemberi kehidupan. Allah dalam kasihNya telah memilih menjadi sama untuk manusia agar manusia mengerti dan tegar hatinya dalam menghadapi tantangan kehidupan. Marilah untuk terus berusaha menghilangkan segala ketakutan kita yang disebabkan oleh dosa yang terus menerus mengendalikan pikiran kita. Sambutlah sang raja Damai !. Penyambutan sang juruselamat ini bukan pesta pora dan arak-arakan megah seperti menyambut seorang pejabat negara. tetapi menyambut sang raja damai adalah mempersiapkan hati kita untuk tempatNya berdiam agar kebesaran dan kemuliaanNya ada dalam diri kita. Empat kali kita sudah merayakan minggu Advent yang seharusnya membuat kita siap untuk menerima Yesus Kristus lahir di hati kita. Kelahiran Kristus sebagai pengingat bagi kita bawah Krsituslah yang akan mempersembahkan diriNya untuk kita. Maka dari itu, sama seperti para gembala, kita juga harus memiliki persembahan yang terbaik untuk juruselamat kita. Sebagai tanda ucapan syukur kita mengingat kita sudah diselamatkan oleh Anugrah Allah. Kelahiran Kristus menunjukkan betapa besarnya kasih Allah akan dunia ini. Kasih Allah itu tidaklah sepantasnya kita simpan sendiri tanpa kita beritakan dan bagikan kepada orang lain. Para gembala juga memberitakan kebesaran dan kemuliaan Allah ketika mereka menerima sang juruselamat. Kita juga harus menjadi saksi kebesaran dan kemuliaan Allah dengan menyatakan kasihNya yang telah kita terima. Hingga semangat Natal dapat menjadi Kesukaan besar bagi segala bangsa, bagi semua orang yang melihat dan mendengar kesaksian hidup kita. Selamat Natal dan kiranya Damai Kristus senantiasa ada dalam hidup kita. Amin.


Leave a Reply