Renungan II Bulan Diakonia
Mazmur 112:4–9
Mazmur 112 menggambarkan sosok yang diberkati Tuhan bukan dari kekayaan atau kedudukannya, melainkan dari karakter hidupnya. Ayat 4–9 menegaskan bahwa terang Tuhan memancar bagi orang benar, terutama mereka yang “pengasih, penyayang, dan adil.” Inilah tiga pilar kehidupan yang membuat seseorang berdiri kokoh meski badai menerpa.
Pertama, orang yang berbelas kasihan membawa terang dalam kegelapan. Ayat 4 berkata, “Terbit terang dalam gelap bagi orang benar.” Dalam dunia yang sering dipenuhi ketidakpedulian, empati menjadi lampu yang menuntun banyak orang. Belas kasihan bukan hanya perasaan, melainkan tindakan nyata yang meringankan beban sesama — sebuah panggilan yang sangat relevan dalam Bulan Diakonia ini.
Kedua, kebaikan hati membuahkan pengaruh yang bertahan lama. Ayat 5–6 menyatakan bahwa orang yang murah hati akan ditegakkan untuk selama-lamanya dan “ia tidak goyah.” Artinya, hidup yang berbagi tidak membuat seseorang kekurangan, tetapi justru membuat hidupnya memiliki fondasi rohani yang kuat. Kebaikan yang kita tanamkan hari ini akan menjadi kesaksian yang tidak akan hilang dari generasi ke generasi.
Ketiga, orang yang percaya kepada Tuhan tidak hidup dalam ketakutan. Ayat 7 menulis, “Ia tidak takut kepada kabar jahat; hatinya teguh, karena ia percaya kepada TUHAN.” Di tengah dunia yang penuh kecemasan — ekonomi yang tidak stabil, berita buruk yang datang silih berganti — Mazmur ini mengajarkan bahwa hati yang percaya akan tetap tenang. Keyakinan kepada Tuhan membuat seseorang mampu memberi walaupun dirinya berada dalam ketidakpastian.
Keempat, kemurahan hati memuliakan Tuhan dan mengalahkan kejahatan. Ayat 9 menunjukkan bahwa orang yang menabur kebaikan akan memiliki “tanduk yang ditinggikan.” Ini bukan bicara tentang kebanggaan diri, tetapi tentang kemuliaan Tuhan yang tampak melalui hidup orang yang setia berbagi. Kebaikan yang ditebarkan adalah bentuk perlawanan terhadap kejahatan. Diakonia menjadi bagian dari penyataan kasih Allah di dunia.
Melalui Mazmur ini kita diingatkan bahwa pelayanan diakonia bukan hanya kegiatan tahunan, tetapi gaya hidup orang percaya. Belas kasihan, kemurahan hati, dan karakter yang teguh kepada Tuhan membuat gereja hadir sebagai terang bagi lingkungannya. Kiranya selama Bulan Diakonia ini, setiap keluarga di GKSBS semakin dimampukan untuk menghadirkan terang dalam kegelapan, memberi bukan karena berlebih tetapi karena mengasihi, hidup tanpa takut, karena hati bertumpu pada Tuhan, dan menjadi saksi bahwa kebaikan Tuhan nyata melalui tindakan kita. Amin.

Leave a Reply