Khotbah Minggu, 1 Maret 2026
Warna Liturgi : Ungu
Minggu Pra Paskah II
Perikop : Markus 9:2-9
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Pernahkah saudara-saudari menyediakan waktu khusus untuk mendaki atau naik ke tempat tinggi mungkin puncak gunung, atau perbukitan, atau menara pandang dan dari sana Anda melihat pemandangan luar biasa yang membuat Anda takjub? Dari ketinggian itu atau tempat itu, kita bisa melihat keindahan panorama keindahan alam segala sesuatu dengan jelas: lembah, sungai, kota, bahkan jalur yang sebelumnya tampak tersembunyi. Namun, setelah menyaksikan dan kagum terhadap pemandangan itu, kita tidak bisa tinggal di atas selamanya. Kita selayaknya dapat turun kembali ke bawah, ke kehidupan nyata tempat kerja, masalah keluarga, tanggung jawab, dan perjuangan sehari hari.
Begitulah peristiwa yang terjadi pada murid ketika Yesus membawa mereka naik ke gunung dan menampakkan kemuliaan-Nya. Di gunung itu mereka melihat Yesus bukan hanya sebagai guru tetapi sebagai Anak Allah yang mulia. Namun, Yesus tidak berhenti di gunung. Ia turun kembali menuju Yerusalem, menuju salib. Dan Ia memanggil kita untuk mengikuti-Nya.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Peristiwa ini dikenal sebagai Transfigurasi atau Perubahan Rupa Yesus. Enam hari sebelumnya, Yesus menanyakan kepada para murid: “Siapakah Aku ini menurut kamu?” dan Petrus menjawab, “Engkau adalah Mesias!” (Markus 8:29) Namun segera setelah itu Yesus mulai mengajar bahwa Mesias harus menderita, ditolak, dibunuh, dan bangkit. Hal itu mengejutkan para murid mereka belum siap menerima Mesias yang menderita. Maka, di atas gunung, Ia menyingkapkan kemuliaan-Nya, ditemani Musa dan Elia lambang Hukum dan Para Nabi untuk menegaskan bahwa seluruh rencana Allah berpuncak pada diri-Nya. Awan menutupi mereka, dan terdengar suara dari surga: “Inilah Anak-Ku yang Kukasihi, dengarkanlah Dia!” Ini bukan sekadar penglihatan ajaib. Ini penegasan identitas Yesus Dialah Anak Allah yang berkuasa dan mulia, namun Ia akan menempuh jalan penderitaan untuk menyelamatkan dunia.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Dari cerita di atas maka dapat dijelaskan pertama: menyaksikan peristiwa ini Yesus dalam kemuliaan-Nya bukan hanya untuk membuat kita terpesona, namun untuk menguatkan kita supaya mau mengikuti-Nya. Petrus mengatakan, “Guru, betapa bahagianya kami berada di sini!” ia ingin mendirikan kemah dan tinggal di atas gunung. Melihat Yesus dalam kemuliaan berarti menyaksikan kehadiran-Nya sebagaimana Ia benar-benar ada sebagai Anak Allah yang mulia, penuh cahaya, kuasa, dan keagungan ilahi. Melalui gambaran kemuliaan ini, orang percaya diingatkan bahwa Yesus bukan hanya Guru atau Mesias yang menderita, tetapi juga Raja yang berkuasa dan sumber keselamatan yang kekal. Menyimak cerita Yesus dalam Kemuliaan-Nya ini maka kita dapat menyadari siapa Dia sebenarnya bukan hanya penyembuh masalah kita, tetapi Tuhan atas hidup kita. Artinya, ketika kita menyadari bahwa Yesus adalah Tuhan atas hidup kita, kita mengakui bahwa seluruh keberadaan kita pikiran, perasaan, rencana, dan tujuan hidup berada di bawah kuasa dan pimpinan-Nya. Di dalam Yesus kita melihat kemuliaan Allah yang sejati, yaitu kasih, kebenaran, dan kuasa yang menyelamatkan. Kesadaran ini membuat kita hidup bukan lagi untuk diri sendiri, tetapi untuk memuliakan Dia dalam setiap aspek kehidupan. Dengan mengimani Yesus sebagai pusat dan pemimpin hidup kita, kita mengalami kemuliaan-Nya nyata dalam damai sejahtera, pengampunan, dan kekuatan untuk menjalani hidup sesuai kehendak-Nya. Kedua: mengikut Yesus di jalan salib berarti berani hidup seperti Dia. Mengikuti Yesus di jalan salib berarti hidup dalam ketaatan dan kesetiaan kepada-Nya, meskipun harus melalui penderitaan, pengorbanan, atau penolakan. Jalan salib bukan jalan kemudahan, tetapi jalan kasih yang rela memberi diri demi kehendak Allah dan kebaikan sesama. Sama seperti Tuhan Yesus yang taat sampai mati di kayu salib, kita pun dapat dipanggil untuk menyangkal diri, melepaskan ego, dan setia menjalankan panggilan hidup dengan kerendahan hati. Dalam perjalanan itu, kita belajar bahwa dibalik penderitaan ada kemuliaan, di balik salib ada kebangkitan, dan di dalam ketaatan kepada Kristus terdapat sukacita dan kemenangan sejati. Bukan hanya menikmati berkat tetapi juga berbagi kasih kepada semua orang Artinya, sebagai pengikut Kristus kita tidak dipanggil hanya untuk menerima dan menikmati berkat Tuhan bagi diri sendiri, tetapi juga untuk menjadi saluran berkat bagi orang lain. Kasih dan kebaikan yang kita terima dari Tuhan seharusnya mendorong kita untuk peduli, menolong, dan berbagi kepada sesama yang membutuhkan. Dengan demikian, hidup kita mencerminkan kasih Kristus yang tidak egois, tetapi melayani dan memberi. Berkat sejati bukan diukur dari seberapa banyak kita memiliki, melainkan dari seberapa besar kita mau berbagi kasih dan kebaikan Tuhan kepada orang lain.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus, melihat kemuliaan Kristus dan mengikuti-Nya di jalan salib juga mengubah cara kita menjadi gereja. Dalam visi GKSBS 2025-2030 disampaikan bahwa “GKSBS Bertekun Menuju Buah yang Matang: Persekutuan yang Utuh, Mandiri, dan Terbuka” Menjadi gereja yang utuh adalah Gereja yang melihat kemuliaan Kristus akan hidup dalam kesatuan. Kita disatukan bukan karena kesamaan latar belakang, tetapi karena kita semua tunduk pada Kristus yang mulia. Kita belajar mendengar suara Allah: “Dengarkanlah Dia!” artinya, kita bersatu dalam ketaatan kepada Firman-Nya. Sedangkan menjadi mandiri Gereja yang meneladani Yesus di jalan salib tidak bergantung pada kekuatan dunia, tetapi pada kuasa Roh Kudus. Kita mandiri bukan karena kita kuat, tapi karena kita bersandar pada kasih Kristus yang sudah menang atas dosa dan maut. Sedangkan menjadi gereja yang terbuka, Gereja yang telah melihat kemuliaan Kristus tidak bisa menutup diri. Seperti Yesus turun dari gunung untuk melayani dunia, demikian pula kita diutus keluar melayani, menyembuhkan, memberitakan kabar baik kepada semua orang tanpa pandang bulu. Tuhan Yesus mengajak kita naik ke gunung untuk melihat kemuliaan-Nya agar ketika kita turun, kita siap memikul salib bersama-Nya. Perjumpaan iman yang sejati bukan berhenti pada kekaguman, tetapi berlanjut pada ketaatan dan kesetiaan. Mari kita menjadi orang-orang yang: Melihat Yesus dalam kemuliaan-Nya, Mengikuti-Nya di jalan salib, Dan membangun gereja yang utuh dalam kasih, mandiri dalam iman, dan terbuka dalam pelayanan. Kiranya kita tidak hanya ingin tinggal di gunung kemuliaan, tetapi berani turun bersama Yesus melayani dunia, membawa kasih dan terang-Nya bagi semua orang.
Nyanyian dan Ayat
Nas Pembimbing : Mazmur 27:1
Berita Anugerah : Yesaya 55:7
Nas Persembahan : Mazmur 96:8
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : PKJ 41
- Nyanyian Pujian : KJ 66
- Nyanyian Peneguhan : KJ 13
- Nyanyian Responsoria : PKJ 244
- Nyanyian Persembahan : PKJ 216
- Nyanyian Penutup : PKJ 261


Leave a Reply