Khotbah Minggu, 7 Desember 2025
Warna Liturgi : Ungu
Minggu Adven II
Perikop: Yesaya 11:1-10
Jemaat yang terkasih dalam Tuhan Yesus Kristus.
Apakah penebusan adalah cara terbaik untuk menyelesaikan persoalan dosa? Pertanyaan ini cukup mengganggu bagi banyak orang yang memahami bahwa ada banyak cara untuk menyelesaikan persoalan dosa. Untuk menjawab pertanyaan tersebut, seseorangperlu paham dulu tentang hakekat dosa itu apa? Banyak orang berfikir bahwa dosa itu sebatas pelanggaran terhadap hukum yang Allah buat. Allah melarang namun manusia melakukan atau melanggar larangan tersebut. Terhadap paham ini wajar jika orang berfikir untuk menyelesaikan persoalan dosa cukup dengan berhenti berbuat dosa dan menggantinya dengah kebaikan. Itu sebabnya orang berlomba-lomba berbuat baik demi menyelesaikan persoalan dosa. Cukup mengumpulkan kebaikan dalam jumlah tertentu maka itu bisa dijadikan sebagai modal untuk bebas dari dosa.
Dalam iman Kristen, dosa dipahami sebagai pemberontakan manusia kepada Allah. Pilihan manusia untuk tidak taat kepada Allah mengindikasikan bahwa manusia beralih fokus; bukan lagi kepada Allah, namun kepada dirinya sendiri. Pemberontakan ini berakibat fatal, yaitu manusia mengalami kematian. Dosa secara harafiah berarti meleset dari apa yang Allah rancang. Ini artinya dosa merusak segala hal baik yang telah Allah rancang sejak semula. Segala relasi yang ada menjadi rusak. Relasi manusia dengan dirinya sendiri, dengan sesama, dengan alam, bahkan dengan Allah sebagai Penciptanya. Manusia terusir dari Eden, keluar dari persekutuan dengan Allah dan bermuara kepada kebinasaan. Dalam posisi demikian, manusia tidak mungkin bisa menyelamatkan diri. Manusia memerlukan pihak lain yang dapat membereskan persoalan dosa sekaligus memberikan harapan untuk dipulihkan kembali kepada maksud awal Allah ketika menciptakan kehidupan. Dalam hal ini hanya Allah yang dapat menyelamatkan. Ia satu-satunya pihak yang tidak berdosa dan hidup sehingga mampu menyelesaikan persoalan dosa yang bermuara pada kematian. Itu sebabnya, Ia merancang penyelamatan dengan jalan menjadi manusia agar bisa mati demi menggantikan manusia dan kembali hidup untuk memberikan atau mengembalikan manusia pada hidup kekal yang Allah rancang sejak semula. Inilah penebusan, dimana Allah menyediakan Diri-Nya sendiri menjadi manusia, yaitu Firman-Nya menjadi manusia yaitu Yesus untuk mati di kayu salib demi menjadi korban pengganti untuk manusia dan bangkit untuk memulihkan hidup kekal kepada manusia. Dalam hal ini manusia merespon dengan percaya.
Inilah pesan nubuatan yang diberitakan Yesaya kepada umat yang kehilangan rasa percaya diri ketika musuh didepan mata dan kehancuran siap menghadang. Peristiwa ini dikaitkan dengan penghukuman Tuhan atas ketidaksetiaan mereka, dimana mereka lebih memilih percaya kepada pertolongan bangsa lain daripada percaya kepada Tuhan.
Jemaat yang terkasih dalam Tuhan
Dengan berlatar belakang kejayaan Raja Daud dimasa silam, Yesaya menubuatkan tentang ‘Tunas’ yang akan tumbuh dari tunggul Isai. Ini tentang Allah yang merancang penyelamatan. Sejak kejatuhan manusia dalam dosa, Allah telah berulang-ulang menampilkan rancangan penyelamatan sebagai anugerah: keturunan perempuan yang meremukkan kepala ular, pakaian dari kulit binatang, berbagai ritual tentang korban bakaran; semuanya mengarah pada pengharapan yang pasti tentang hadirnya Mesias, seorang yang diurapi Allah. Rancangan tersebut tersemat dalam sejarah yang panjang, sampai Yesaya pun menubuatkan tentang Tunas dari tunggul Isai.
Tentang Tunas dari tunggul Isai semakin menegaskan bahwa hanya Allah yang bisa memberikan jaminan keselamatan. Hanya Allah yang bisa menjadi Juru Damai sehingga manusia dipulihkan dan dibebaskan dari dosa. Hal ini dikarenakan tidak ada yang bisa melampaui Allah; Allah pada posisi ‘paling tinggi’, maka hanya Allah yang bisa menjadi Juruselamat. Masalahnya, Allah itu hidup, sementara untuk membebaskan manusia dari dosa maka harus mengalami kematian. Dosa hanya beres melalui kematian. Tanpa kematian maka tidak ada jaminan keselamatan. Itu sebabnya Firman Allah yang adalah Allah, perlu menjadi manusia agar bisa mengalami kematian. Dalam hal ini jalur keturunan Isai dipilih. Kejayaan Raja Daud yang telah tiada berabad silam, menjadi gambaran penyelamatan, bahwa dari nya: tunggul yang terlihat tanpa kehidupan, ternyata masih mampu bertunas yang nantinya akan tampil sebagai Juruselamat yang dijanjikan. Bak Raja Daud yang memimpin dengan kebijaksanaan, kali ini Sang Tunas akan tampil lebih bijaksana. Ia akan tampil dengan hikmat yang dari Tuhan. Penghakiman-Nya tepat dan tidak pernah salah. Ia mampu melihat hingga kedalaman hati sehingga keadilan ditegakkan. Sang Tunas akan tampil sebagai kebenaran yang memimpin manusia untuk kembali pada kehidupan takut akan Tuhan. Ajaibnya, Sang Tunas memulihkan segala hal yang rusak. Dalam hal ini perseteruan diubahkan menjadi persekutuan. Permusuhan diganti dengan perdamaian. Sebuah gambaran yang indah dipaparkan ketika apa yang seharusnya bermusuhan justru hidup berdampingan. Apa yang seharusnya membahayakan untuk bersama, justru berada pada permainan yang sama.
“Serigala akan tinggal bersama domba dan macan tutul akan berbaring di samping kambing. Anak lembu dan anak singa akan makan rumput bersama-sama, dan seorang anak kecil akan menggiringnya. Lembu dan beruang akan sama-sama makan rumput dan anaknya akan sama-sama berbaring, sedang singa akan makan jerami seperti lembu. Anak yang menyusu akan bermain-main dekat liang ular tedung dan anak yang cerai susu akan mengulurkan tangannya ke sarang ular beludak”. Membaca kalimat tersebut, terbayang kedamaian yang tiada terkirakan ketika Sang Tunas hadir dalam kehidupan. Bukankah itu yang menjadi idaman kita bersama?
Jemaat yang dikasihi Tuhan
Masa Advent menjadi masa pengenangan kembali akan hadirnya Sang Tunas, yaitu Yesus Kristus yang adalah Tuhan dan Juruselamat. Setelah genap waktunya, Ia telah hadir dua ribu tahun silam. Dia yang dijanjikan telah tampil menebus kehidupan kita yang berdosa diubahkan menjadi baru dalam damai dan pengharapan. Penebusan adalah cara terbaik dan ter pasti akan adanya keselamatan. Jika yang kita nantikan adalah Sang Pembawa damai, sudah seharusnya kita yang menyambut, selayaknya juga dalam damai. Jangan biarkan kesibukan untuk merayakan Natal justru menciptakan keributan yang menyirnakan damai. Sambut Sang Tunas dalam damai, sebab Dia-lah yang mendamaikan manusia dengan Allah. Amin.
Nas Pembimbing : Matius 5:9
Berita Anugerah : Lukas 10:5-6
Nas Persembahan : Mazmur 118:29
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : KJ 67: 1-3
- Nyanyian Pujian : PKJ 203:1-3
- Nyanyian Peneguhan : PKJ 36: 1-5
- Nyanyian Responsoria : PKJ 267
- Nyanyian Persembahan : KJ 291:1-2
- Nyanyian Penutup : PKJ 177:1


Leave a Reply