“Apa yang sudah dipersembahkan oleh Pak Nindyo dan Pdt. Dwi ini sungguh luar biasa”. Suara Pdt. Riyadi Basuki bergetar. Rasa haru yang saya yakin muncul menyeruak begitu saja termanifestasi dalam getaran pita suara yang dalam, juga air mata yang mulai mengembang di sudut matanya. Beliau sempat berhenti sejenak, berjalan ke belakang, mengambil tisu di belakang mimbar GKSBS Bengkulu kelompok Timur Indah. “Hanya sedikit Sinode-Sinode gereja di Indonesia ini yang memiliki lagu himne dan mars. Salah satunya adalah Sinode GKSBS. Pdt. Dwi Djanarto yang ketika itu memberikan tulisan konsep teologi Rumah Bersama untuk menggambarkan GKSBS ini, Pak Nindyo lah yang menuangkan teologi itu dalam not-not lagu himne dan mars yang luar biasa ini”. Pdt. Riyadi Basuki melanjutkan sambutannya.
Lagu himne dan mars GKSBS diciptakan pada tahun 2010 dan pertamakali dinyanyikan bersama pada pembukaan Sidang Sinode X Kontrakta di Jambi tahun 2012. Pdt. Dwi Djanarto saat itu menyampaikan konsep teologis GKSBS sebagai Rumah Bersama kepada Bpk. Atyanto Nindyo Subroto untuk dituangkan dalam lagu himne dan mars.
Hasil penelusuran saya tentang data keputusan Mars dan Himne ini, menemukan bahwa pada Sidang Sinode XI di Kotabumi, sidang telah memutuskan lagu tersebut resmi menjadi himne dan mars GKSBS. Artikel 27 dalam akta persidangan berbunyi:
PENETAPAN MARS DAN HIMNE GKSBS
Memperhatikan :
- Mars dan Himne GKSBS telah dibahas dan diputuskan dalam Sidang IX Sinode GKSBS di Buaymadang tapi belum tercantum dalam Akta Sidang IX Sinode GKSBS
- Mars dan Himne GKSBS telah digunakan oleh jemaat-jemaat.
Memutuskan:
Mars dan Himne yang diciptakan oleh Bapak A. Nindyo Subroto, S.Pd dan lirik oleh Pdt. Dwi Djanarto, S.Th menjadi Mars dan Himne GKSBS

Pak Nindyo yang juga terlibat aktif di Lasonora, sebuah sekolah musik dalam naungan YPKB yang saat itu masih memiliki kepanjangan Yayasan Pendidikan Kristen Bengkulu (red. Saat ini YPKB berubah nama menjadi Yayasan Pengembangan Keswadayaan Bengkulu), menyambut baik tantangan Pdt. Dwi tersebut. Dua lagu, himne dan mars, diselesaikan dengan sangat baik. Deretan syair-syair bermuatan teologis yang menggambarkan siapa dan harus bagaimana GKSBS itu eksis diterjemahkan dalam dinamika not yang sungguh indah. Syair dan not yang serasa sempurna saling memberi diri satu sama lain seakan seperti ingin menggambarkan roh persaudaraan, kebersamaan, dan panggilan untuk apa GKSBS itu ada.
“Hari ini, saya mewakili MPS GKSBS sowan ke GKSBS Bengkulu untuk agenda khusus dan penting. Menyampaikan penghargaan yang jujur dan setinggi-tingginya atas dedikasi dan persembahan mahakarya indah oleh Bpk. Atyanto Nindyo Subroto dan Pdt. Em. Dwi Djanarto. Setiap saya mendengarkan lagu himne dalam back sound video-video publikasi Gerakan Kemanusiaan dan Solidartias Bagi Sesama di Sibolga dan Tapanuli Tengah, muncul perasaan haru yang luar biasa dalam perasaan saya. Saat rekaman dan berbicara itu biasa saja, tetapi ketika panggilan itu diiringi lagu himne GKSBS maka rasa haru yang menggetarkan hati ini muncul”. Pdt. Riyadi Basuki melanjutkan kalimat-kalimat sambutannya di depan jemaat GKSBS Bengkulu, Minggu, 18 Januari 2026. Pdt. Riyadi Basuki dan Pdt. Candra Istiono mewakili Majelis Pimpinan Sinode GKSBS beserta beberapa staf kantor Sinode yang terdiri dari Bruri Sabad Agung Sundoro, Dwi Setyo Harjanto dan Lili Indah Palufi berangkat dari Metro pada Jumat sore kira-kira Pkl. 17.00 dan sampai di Bengkulu menjelang siang sehari berikutnya. “Jangan dilihat dari harganya, tetapi plakat penghargaan ini lahir dari ketulusan dan penghormatan atas dedikasi dan cinta Pak Nindyo dan Pak Dwi dalam menciptakan lagu-lagu ini”.
Bpk. Atyanto Nindyo Subroto telah memasuki masa pensiun sebagai Pegawai Negeri Sipil di Bengkulu dan dalam waktu dekat ini akan kembali ke Klaten, Jawa Tengah untuk menikmati masa pensiun. “Mohon nanti bisa dipajang di rumah Klaten, ya Pak Nindyo. Dan di rumah Bengkulu atau Yogya untuk Pak Dwi, sehingga nanti kalau kami, MPS, bisa berkunjung masih bisa melihat plakat ini”,Setelah Pdt. Riyadi Basuki selesai memberikan plakat penghormatan ini, semua anggota jemaat GKSBS Bengkulu saling bersalaman dan bersukacita menerima berkat Tuhan dalam makan bersama.
Sehari sebelumnya, tepatnya Sabtu siang hari, MPS mengadakan sarasehan bersama dengan anggota Majelis Jemaat dan beberapa anggota MPK GKSBS Klasis Bengkulu. Sarasehan itu sendiri digunakan oleh MPS GKSBS untuk memaparkan garis besar rencana program yang akan dikerjakan dan membangun dukungan kebersamaan untuk kehidupan bersinode di Sumatera Bagian Selatan ini. Tak lupa juga Pdt. Victor Ivan Christiantoni diberi waktu untuk menceritakan secara singkat Gerakan Kemanusiaan dan Solidaritas Bagi Sesama yang pada saat itu tengah mengutus tim ketiga untuk psikososial. Gerakan kemanusiaan ini juga menjadi bagian penting dari panggilan kita, panggilan GKSBS untuk menebarkan kasih dan persaudaraan bagi mereka yang sedang berada dalam kondisi bencana.
Inilah panggilan kita, menjadi gereja yang berkarya, untuk berbagi pada sesama. Bagi penghuni Rumah Bersama
Panggilan hamba setia dalam melayani umatNya, menabur kasih menabur peduli gereja menjawab panggilan Tuhan.
Tebarkan kasih, taburkan damai, tebarkan peduli bagi sesamanya.
Tabur sukacita tabur pengharapan dalam persaudaraan di Rumah Bersama.




penulis : admin


Leave a Reply