Khotbah Minggu, 28 Desember 2025
Warna Liturgi : Putih
Minggu I Setelah Natal
Perikop : Matius 2:13-23
Jemaat terkasih, pernahkah anda bertanya apakah takdir itu benar-benar ada? Sejauh mana takdir itu mempengaruhi akal pikiran dan rencana-rencana kita? Pada umumnya orang akan langsung menghubungkan takdir dengan garis kehidupan, kodrat, atau bahkan sampai kepada kematian seseorang. Tidak jarang, takdir dikaitkan dengan hal-hal negatif dan tragis seperti halnya kutukan. Ada sebuah kisah yang menceritakan tentang seorang anak dari suku pedalaman yang memiliki sebuah tanda di dahinya. Dukun setempat mengatakan bahwa si anak tersebut ditakdirkan akan mati oleh seekor buaya. Kedua orangtuanya lalu bertekad untuk menyelamatkan si anak dengan pergi menjauhi sungai atau danau dan berpindah ke sebuah gunung tinggi. Selama belasan tahun, orangtuanya merahasiakan hal ini dan si anak dilarang bermain atau berburu di semua daerah yang berair. Si anak pun tidak bertanya mengapa ia harus menghindari sungai atau danau. Seiring waktu si anak bertumbuh dewasa dan kedua orangtuanya berpikir bahwa takdir tersebut telah hilang dimakan waktu. Sampai pada suatu hari keluarga ini mendirikan sebuah patung yang tinggi dan besar untuk menghormati dewa yang telah meluputkan mereka dari takdir tersebut. Patung tersebut dibuat menyerupai seekor buaya untuk mengingat takdir tersebut. Persis di saat mereka sujud menyembah, patung tersebut roboh dan menimpa si anak sehingga matilah ia. Kisah ini mau menceritakan bahwa apa yang sudah ditakdirkan tidak dapat dielakkan, kemanapun atau bagaimanapun caranya. Lalu bagaimana dengan iman Kristen?
Dalam pemahaman iman Kristen, kita tidak mengenal takdir. Apa yang sungguh-sungguh kita yakini lebih kepada ketetapan Tuhan atau rancana dan rancangan-Nya yang terbaik. Terkadang kita memang belum memahami maksud rancangan-Nya, namun dengan iman kita percaya bahwa Allah setia dan rancangan-Nya mengandung janji untuk masa depan. Dalam bacaan kita saat ini juga berbicara tentang rencana agung Allah untuk masa depan umat manusia. Matius 2:13-23 menceritakan kisah tentang pelarian Yusuf dan Maria ke Mesir untuk menghindari ancaman Herodes, serta kembalinya mereka ke Nazaret. Kisah ini mau menggarisbawahi bagaimana Allah menjaga dan melindungi Yesus sejak masa kanak-kanak, menggenapi nubuatan, dan menunjukkan betapa Allah setia dalam melaksanakan rencana-Nya. Dikatakan bahwa setelah orang-orang majus meninggalkan Yesus, malaikat Tuhan menampakkan diri kepada Yusuf dalam mimpi, memerintahkan dia untuk membawa keluarga ke Mesir karena Herodes berniat membunuh Yesus. Yusuf segera menaati perintah ini, membawa Maria dan Yesus ke Mesir di malam hari. Pengungsian ke Mesir ini menggenapi nubuatan dalam Hosea 11:1, “Dari Mesir Kupanggil Anak-Ku.” Kisah ini menunjukkan ketaatan Yusuf dan kepedulian Allah untuk melindungi Anak-Nya, bahwa semua peristiwa dalam hidup Yesus adalah bagian dari rencana ilahi.
Herodes marah karena merasa tertipu oleh orang-orang majus, kemudian memerintahkan pembunuhan semua anak laki-laki di Betlehem yang berusia dua tahun ke bawah. Tragedi ini menggambarkan betapa kejamnya dunia yang berdosa, namun tidak ada kejahatan yang dapat menghentikan atau menggagalkan rencana Allah. Peristiwa ini menggenapi nubuatan dari Yeremia 31:15, yang menggambarkan tangisan di Rama, tetapi juga membawa harapan akan pemulihan di masa depan. Setelah Herodes mati, malaikat Tuhan kembali menampakkan diri kepada Yusuf, memerintahkannya untuk kembali ke tanah Israel. Yusuf, yang terus mendengarkan petunjuk Tuhan, membawa keluarganya ke Nazaret, menggenapi nubuatan bahwa Yesus akan disebut orang Nazaret. Nazaret, sebuah kota kecil yang tidak dianggap penting, menjadi tempat di mana Yesus dibesarkan, menunjukkan bagaimana Allah sering memilih yang rendah dan hina untuk menggenapi rencana-Nya. Kisah dalam Matius 2:13-23 mengajarkan kita tentang kesetiaan dan perlindungan Allah dalam segala situasi, bahkan di tengah ancaman dan bahaya. Allah setia melindungi Yesus karena Dia adalah bagian sentral dari rencana keselamatan bagi dunia. Meskipun ada kejahatan di dunia ini, tidak ada yang dapat menghentikan rencana Allah.
Sebagai jemaat GKSBS, apa yang dapat kita refleksikan dari kisah ini? Seperti Yusuf, kita dipanggil untuk mendengarkan dan menaati bimbingan Tuhan dalam hidup kita. Apakah kita siap untuk menaati Tuhan bahkan ketika itu berarti mengambil risiko? Kita juga diingatkan bahwa Allah bekerja melalui situasi yang tampaknya tidak penting atau bahkan berbahaya untuk menggenapi rencana-Nya. Apakah kita mempercayai Tuhan dalam segala keadaan, yakin bahwa Dia memegang kendali? Bagaimana kita bisa menjadi alat di tangan Allah untuk membawa pemeliharaan dan pengharapan kepada orang-orang di sekitar kita yang mungkin sedang mengalami tantangan besar? Masih dalam suasana Natal, sebagai jemaat GKSBS marilah kita menghayati bahwa perlindungan dan pemeliharaan Allah dalam menggenapi rencana-Nya tidak pernah gagal. Amin.
NYANYIAN DAN AYAT
Nas Pembimbing : Mazmur 46:1
Berita Anugerah : Yesaya 41:10
Nas Persembahan : 1 Tawarikh 29:17
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : PKJ 29:1-2
- Nyanyian Pujian : PKJ 126:1-2
- Nyanyian Peneguhan : KJ 388:1-2
- Nyanyian Responsoria : PKJ 248:1-2
- Nyanyian Persembahan : PKJ 145:1-dsc
- Nyanyian Penutup : KJ 378:1-2


Leave a Reply