Khotbah Rabu Abu, 18 Februari 2026
Warna Liturgi : Ungu
Rabu Abu
Perikop : Roma 6:1-14
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan,
Pada hari ini kita mengawali masa Prapaskah melalui ibadah Rabu Abu sebuah peristiwa di mana kita disadarkan tentang kefanaan hidup, betapa gampangnya kita jauh dari Tuhan, dan begitu besar kasih-Nya yang selalu memanggil kita kembali. Abu yang ditorehkan di dahi tidak sekadar simbol, namun panggilan untuk melihat Kembali makna hidup kita: apa yang telah kita jalani, apa saja yang perlu kita ubah, dan kepada siapa sebenarnya kita hidup.
Dalam perjalanan kehidupan dunia yang semakin sibuk, penuh godaan, dan sering membuat kita tidak sadar arah bahkan bisa saja salah arah, maka masa Prapaskah hadir sebagai kesempatan untuk merefleksikan dalam kehidupan iman dan percaya kita kepada Yesus untuk berhenti sejenak dan bertanya: Apakah aku sungguh-sungguh untuk bertobat? Apakah hidupku telah mencerminkan orang yang telah diselamatkan oleh Kristus?
Surat ini ditujukan Rasul Paulus kepada Jemaat Roma. Roma sangat dikenal sebagai pusat peradaban dunia saat itu. Seiring dengan perkembangan peradaban, masyarakat mengalami kemerosotan dalam moralitas dan penuh penyembahan berhala. Demikian korupsi di kalangan pengambil kebijakan dan pengelola keuangan tidak dapat dicegah dan malah mengakar. Banyak dari penduduk Roma kalangan bawah hidup sebagai budak tidak berdaya dengan sistem yang diterapkan, sementara Masyarakat kelas atas hidup dalam kemewahan, sering kali tanpa perlu bekerja keras, karena sistem yang timpang.
Perikop Roma 6:1-14 adalah tulisan Paulus di Korintus untuk Jemaat di kota Roma yang menegaskan bahwa keselamatan oleh anugerah bukan alasan untuk hidup seenaknya. Anugerah tidak boleh dipakai sebagai alasan untuk terus berbuat dosa.
Pada masa itu, beberapa orang berpikir: “Kalau keselamatan adalah anugerah, bukankah makin banyak dosa berarti makin besar anugerah?” Paulus menjawab dengan tegas: “Sekali-kali tidak!” Paulus mengingatkan jemaat bahwa melalui baptisan kita mati bersama Kristus dan bangkit bersama Dia. Baptisan menandai kematian manusia lama dan kelahiran manusia baru. Orang percaya dipanggil untuk hidup dalam kuasa kebangkitan dalam Kristus, bukan kuasa dosa (ay. 2–7). Dengan identitas yang baru lewat persekutuan dengan Kristus (dilambangkan dalam baptisan), kita ikut mati bersama Kristus. “Mati terhadap dosa” bukan berarti mustahil berdosa, tetapi berarti: dosa tak lagi punya kuasa mengendalikan kita, gaya hidup lama tidak bisa dibiarkan hidup kembali.
Selanjutnya kita “hidup dalam hidup yang baru” (ay. 4). Kebangkitan Kristus memberi kuasa untuk meninggalkan hidup lama. Kita tidak hanya meninggalkan dosa, tetapi memulai perjalanan kehidupan yang baru. Pertobatan sejati adalah keputusan sadar untuk tidak membiarkan dosa berkuasa, mempersembahkan tubuh sebagai alat kebenaran, hidup dalam anugerah Allah. Pertobatan sejati bukan hanya meninggalkan dosa, tetapi memulai kehidupan baru yang dipimpin Roh Kudus.
Pada 12–14, Paulus menyebut dosa sebagai “tuan lama” yang tidak boleh lagi kita layani. Kuasa dosa tidak lagi menjadi tuan. Sekarang, kasih karunia menjadi kuasa yang memampukan. Kasih karunia adalah anugerah Allah yang diberikan secara cuma-cuma kepada manusia yang sebenarnya tidak layak menerimanya. Kasih karunia bukanlah hasil usaha, prestasi, atau kebaikan manusia, melainkan tindakan Allah yang penuh belas kasih untuk menyelamatkan, mengampuni, dan memampukan kita hidup sesuai kehendak-Nya. Melalui kasih karunia, Allah bukan hanya menghapus dosa, tetapi juga memberi kekuatan dan kesempatan baru untuk berubah. Karena itulah kasih karunia bukan alasan untuk hidup sembarangan, melainkan dasar dan tenaga untuk hidup dalam ketaatan serta pertobatan yang sungguh-sungguh.
Saudara, Saudari yang dikasihi Tuhan
Rabu Abu mengawali Prapaskah ini hadir sebagai kesempatan untuk merefleksikan dalam kehidupan iman dan percaya kita kepada Yesus tentang kehidupan Identitas yang baru hidup. Bagaimana kaitan perikop ini dengan pertobatan? Maka berikut akan dijelaskan:
Pertama, dalam Rabu Abu ini jemaat diajak menyadari bahwa pertobatan bukan hanya “merasa bersalah”, melainkan berpindah dari kuasa dosa ke kuasa Kristus. Bersedia bertobat dan membuang dosa yang lama. Pertobatan yang sejati bukan sekedar menyesal. Tetapi berpindah tuan menuju Kristus. Pertobatan yang sejati bukan sekadar merasa sedih atau menyesal atas dosa, tetapi sebuah perubahan arah hidup, berpindah dari hidup di bawah kuasa dosa menuju ketaatan kepada Kristus sebagai Tuhan. Artinya, seseorang tidak hanya mengakui kesalahannya, tetapi juga meninggalkan pola hidup lama dan memilih untuk hidup sesuai dengan kehendak kehidupan dengan kasih Kristus. Misalnya, seseorang yang dulu sering berbohong mungkin merasa menyesal, tetapi pertobatan sejati tampak ketika ia berhenti berbohong, meminta maaf kepada orang yang pernah ia rugikan, dan dengan sadar berusaha hidup dalam kejujuran karena ia kini menundukkan hidupnya kepada Kristus, bukan lagi kepada keinginan atau ketakutannya sendiri.
Kedua, Pertobatan sejati berarti gaya hidup baru setiap hari dan tidak memberikan kesempatan pada dosa. Menekankan hidup “sebagai orang yang telah dibangkitkan” dan tidak “membiarkan” dosa berkuasa, Pertobatan sejati berarti memilih gaya hidup baru setiap hari, di mana seseorang terus-menerus memperbarui komitmennya untuk hidup sesuai kehendak Tuhan dan tidak memberi ruang bagi dosa untuk kembali menguasai. Ini bukan keputusan sekali jadi, melainkan proses harian untuk menolak godaan, mematahkan kebiasaan lama, dan membangun disiplin rohani yang sehat. Dengan demikian, pertobatan sejati tampak ketika seseorang secara sadar menjaga pikiran, perkataan, dan tindakannya misalnya dengan Tindakan menolak dorongan untuk marah, iri, atau tidak jujur karena ia ingin hidup dalam kehidupan kesucian dan ketaatan kepada kasih Kristus.
Ketiga, Pertobatan sejati bergantung sepenuhnya pada kuasa kasih karunia karena tanpa pertolongan Allah, manusia tidak mampu mengubah dirinya sendiri atau melepaskan diri dari kuasa dosa. Kasih karunia Tuhan yang bekerja melalui Roh Kuduslah yang membuka hati, menyadarkan akan dosa, dan memberi kekuatan untuk berbalik kepada Kristus serta hidup dalam ketaatan. Misalnya, seseorang yang berulang kali gagal meninggalkan kebiasaan buruk akhirnya mengalami perubahan nyata bukan karena tekad pribadi semata, tetapi karena ia berserah kepada Tuhan, memohon pertolongan-Nya, dan merasakan bagaimana kasih karunia memberi kekuatan baru untuk menolak godaan dan berjalan dalam kehidupan yang diperbarui.
Saudara-saudari yang dikasihi Tuhan
Rabu Abu bukan titik akhir, tetapi pintu masuk menuju perjalanan rohani 40 hari menuju Paskah. Di hari ini kita diingatkan bahwa kita berasal dari debu dan akan kembali menjadi debu. Namun oleh kasih Kristus, hidup kita memiliki makna, arah, dan tujuan.
Mari kita memasuki masa Prapaskah dengan tekad untuk bertobat dengan sungguh-sungguh, meninggalkan manusia lama, dan hidup sebagai mereka yang telah ditebus. Kiranya dalam perjalanan menuju Paskah dan Pentakosta, seluruh jemaat GKSBS sungguh-sungguh melangkah dalam penebusan dan hidup dalam keutuhan, supaya dunia melihat Yesus melalui hidup kita. Amin.


Leave a Reply