Kotbah Minggu, 21 Desember 2025
Warna Liturgi : Ungu
Minggu Adven IV
Salam damai dalam Kristus Yesus untuk jemaat yang terkasih
Setiap orang pernah menantikan sesuatu dalam hidupnya. Seperti halnya dalam keluarga, ketika pasangan suami-istri yang sudah menjalani beberapa tahun masa pernikahannya, mereka pastinya memiliki pengharapan untuk memiliki seseorang anak. Dalam menantikan sesuatu yang kita harapkan, maka kita perlu memiliki kesabaran dan berserah pada Allah, agar semuanya terjadi sesuai dengan kehendak dan rancangan-Nya. Di sisi lain, ditengah-tengah menantikan sesuatu yang kita harapkan, perasaan kita juga dibarengi dengan kekuatiran yang diselimuti dengan beberapa pertanyaan dalam hati kita, “apakah yang kita nanti-nantikan itu bisa terwujud atau tidak?” Atau, “apakah saya bisa memperolehnya dan memilikinya?”. Kekuatiran yang kita alami dapat menjadi salah satu alasan untuk meragukan kuasa dan karya Tuhan dalam kehidupan kita. Kekuatiran ini juga yang dirasakan oleh Yusu ketika ia tahu bahwa tunangannya, yaitu Maria telah hamil. Sebagai dampak dari kehamilan Maria, seperti hukum yang berlaku dalam masyarakat Yahudi, jika Maria diketahui hamil tanpa adanya pernikahan, maka Maria akan dihukum dengan dirajam batu. Hal inilah yang membuat Yusuf berpikir untuk secara diam-diam menceraikannya (ayat 19).
Akan tetapi, pemikiran Yusuf itu dipertimbangkannya kembali ketika malaikat Gabriel berbicara kepada Yusuf dalam mimpinya, bahwa anak yang dikandung Maria adalah dari Roh Kudus (ayat 20). Peran malaikat Gabriel ini memberikan suatu kepastian kepada Yusuf bahwa Maria merupakan perempuan yang Allah pilih untuk melahirkan Sang Firman dalam wujud manusia. Bahkan, kehamilan Maria yang adalah dari Roh Kudus ini tidak merusak keperawanannya. Itu sebabnya, Maria memiliki sebuah gelar sebagai Sang Perawan Suci, sebab anak yang dikandungnya adalah Sang Firman Allah, bukan hasil dari hubungan suami-istri. Setelah mendengarkan pesan malaikat Gabriel, Yusuf pun semakin memahami bahwa ada rencangan ilahi yang hendak Allah nyatakan kepada dirinya dan Maria. Hal inilah yang membuat Yusuf akhirnya mengikuti apapun yang Allah perintahkan. Dari Yusuf ini, kita belajar bahwa jalan kehidupan itu teramat sulit untuk dihadapi, akan tetapi semuanya akan dapat dilalui jika melibatkan Allah dalam seluruh kehidupan kita. Yusuf dan Maria telah menjadi teladan bagi keluarga Kristen di masa kini, bagaimana Allah yang memakai Yusuf dan Maria untuk terlibat di dalam persiapan penyelamatan Allah melalui kelahiran Yesus Kristus, yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka (ayat 21). Dalam merespons panggilan dan keikutsertaan kita dalam pekerjaan Allah, tentunya tidak boleh dipahami sebagai beban hidup, tapi sebagai suatu kehormatan yang msetinya dilakukan dengan bertanggungjawab, kerelaan hati, dan penuh syukur. Jika kita dalam posisi Yusuf saat itu, mungkin kita akan mengalami konflik batin antara menerima atau melepaskan Maria yang saat itu telah mengandung. Namun, konflik batin itu bisa terselesaikan ketika Yusuf dengan rendah hati mendengarkan pesan malaikat Gabriel, dan Yusuf pun berbuat seperti yang diperintahkan malaikat Tuhan itu kepadanya (ayat 24).
Jemaat yang dikasihi oleh Tuhan Yesus Kristus
Melalui kisah kelahiran Yesus Krisus, di mana Allah melibatkan peran Yusuf dan Maria dan juga peran malaikat Gabriel, maka kita dapat mengambil suatu pelajaran dari ketiga tokoh ini:
- Memiliki kerendahan hati
Dari Maria, jika kita bandingkan dengan Lukas 1:38 yang menceritakan pemberitahuan tentang kelahiran Yesus, Maria dengan rendah hati menerima panggilan Allah dengan bersedia memberi dirinya secara total untuk melahirkan Sang Firman. Hal itu terlihat dari ungkapan Maria, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Tampaknya, Maria tidak menolak keikutsertaannya dalam persiapan penyelamatan Allah, sehingga Maria dengan sangat rendah hati agar apa yang Allah rencanakan itu dapat dijadikannya berhasil.
- Kesetiaan tanpa syarat
Dari Yusuf, sekalipun mengalami kekuatiran, Yusuf menunjukkan bagaimana kesetiaan itu diperlukan agar rencana Allah bagi dirinya dan tunangannya dapat terjadi. Kesetiaan Yusuf itu terlihat dengan tidak menceraikan Maria dan mau melakukan apapun yang Allah perintahkan. Yusuf menjadi pribadi yang memberikan kita suatu contoh, bahwa di dalam menerima panggilan Allah, kita mesti setia untuk melakukannya tanpa harus memberi syarat apapun kepada Allah.
- Menyampaikan apa yang benar
Dari Malaikat Gabriel, ketika diutus Allah untuk menyampaikan berita kelahiran kepada Yusuf dan Maria, kebenaran tentang Maria yang mengandung adalah dari Roh Kudus telah mengubah kekuatiran Yusuf menjadi sukacita. Dalam hal melayani Allah, maka kitapun mesti berani menyampaikan kebenaran Allah, agar setiap orang yang mendengarkan merasa terberkati dan percaya bahwa Allah punya rencana yang baik untuk kehidupan kita.
Jemaat yang dikasihi Tuhan Yesus Kristus
Ketiga peran dari tokoh diatas, Maria, Yusuf, dan Malaikat Gabriel menjadi teladan bagaimana Allah melibatkan manusia dan malaikat untuk persiapan penyelamatan Allah. Dalam kaitannya dengan keluarga kita, maka keluarga Kristen juga terpanggil untuk menjadi sarana pekabaran Injil Keselamatan bagi semua orang. Panggilan keluarga untuk ikut serta dalam karya dan pekerjaan Allah tentunya perlu dilandasi dengan kerendahan hati, kesetiaan, dan keberanian.
Dalam Minggu Advent ini, marilah kita sebagai keluarga Allah, dengan rendah hati tetap memberikan diri untuk melayani sesama; dengan kesetiaan, kita tetap punya pengharapan, serta dengan keberanian, kita menyuarakan keadilan bagi seluruh ciptaan. Selamat mempersiapkan diri menyambut kelahiran Yesus Kristus dan kiranya kita semua dimampukan untuk menantikan kelahiran-Nya dengan setia. Amin!
Nas Pembimbing : Galatia 5:5-6
Berita Anugerah : Filipi 3:20-21
Nas Persembahan : Efesus 5:20-21
Nyanyian :
- Nyanyian Pembukaan : KJ 70:1-2
- Nyanyian Pujian : KJ 77:1-2
- Nyanyian Peneguhan : KJ 53:1-2
- Nyanyian Responsoria : KJ 427:1-2
- Nyanyian Persembahan : PKJ 264:1-2
- Nyanyian Penutup : PKJ 185:1-2


Leave a Reply